Marry me, Brother

Marry me, Brother
Gara Gara Alkohol



Berciuman dapat mengurangi rasa cemas dan stres yang di sebabkan oleh hormon stres kortisol. Saat berciuman atau melakukan hal lain yang disukai, tubuh akan menghasilkan beragam hormon, seperti hormon Oksitosin, Dopamin, dan Endorfin yang bisa membuat seseorang merasa bahagia dan tenang.


(Pastikan ciuman dengan pasangan halal kalian ya gengs)


Setelah pulang dari Rumah Sakit, Indhi mengajak Ega keluar untuk bertemu dengan teman-temannya, malam ini Indhi mengajak Fajar serta istrinya, Dion, Arum dan Dita untuk makan malam bersama di salah satu restoran yang berada di pusat kota.


Setibanya di restoran, fajar dan Viona sudah berada di sana, Ega dan Indhi segera menghampiri mereka.


"Sudah lama om?" tanya Indhi pada Fajar, gadis itu lalu memeluk Viona.


"Baru saja datang," jawab Fajar.


Tak berselang lama, Arum dan Dita datang bersama dengan Dion, ketiga orang itu segera menghampiri teman yang lainnya dan duduk di bangku yang tersisa.


"Makannya kalau punya pacar satu aja Yon, pusing kan keluar bawa pacar dua?" goda Fajar seraya mentap ketiga orang itu secara bergantian.


"Dia hanya milikku om, MILIKKU!" tegas Arum dengan sedikit penekanan.


"Sudah aku bilang, kamu itu keponakanku?" tolak Dion secara gamblang.


"Mereka yang kakak beradik saja menikah, tidak ada masalah kan om dan keponakannya menikah juga, lagian aku bukan keponakan kamu," Arum masih belum menyerah, entah sebesar apa rasa cinta yang ia miliki untuk Dion.


"Jar, tolong aku! Keponakanmu sudah benar-benar gila," Dion mengiba pada sahabatnya, namun Fajar hanya terkekeh dan tidak menanggapi ucapan Dion.


"Kak,


Di kursi yang berbeda, Dita hanya diam dan menyaksikan interaksi Ega dan Indhi yang semakin intim, keduanya tengah tersenyum dan hal itu membuat hatinya terasa sakit, padahal Dita sudah berjanji untuk melupakan perasaannya, namun mengapa rasanya sangat menyesakkan saat melihat Ega dan Indhi semakin dekat?


Seorang pelayan lalu datang membawakan buku menu, ketujuh orang itu lalu sibuk memilih menu.Tiga puluh menit kemudian, pesana mereka datang, mereka lalu menikmati makanan masing-masing, sesekali Dita melirik Ega dan Indhi yang membuat hatinya terasa panas.


"Maaf semuanya, aku harus pulang sekarang karena ada masalah di rumah," pamit Dita, gadis itu lalu meninggalkan restoran karena merasa tidak sanggup melihat Ega dan Indhi.


Setelah kepergian Dita, Fajar dan istrinyapun pamit karena Viona tengah menganduk, tak baik jika wanita hamil keluar pada malam hari. Tak berhenti di sana, Ega dan Indhipun pamit untuk pulang, sementara saat Dion akan pergi, Arum menahan pria itu.


"Tunggu sebentar kak, ada yang ingin aku bicarakan," kata Arum sambil menahan pergelangan tangan Dion, pria itu awalnya akan pulang namun Arum menahannya.


Dion membuang nafas kasar, pria itu melepaskan tangan Arum dan kembali duduk di kursinya. "Katakan," jawabnya tak ramah.


"Seandainya aku bukan keponakan om Fajar apa kak Dion akan menerimaku?" Gadis itu menatap Dion dengan seksama, sungguh ia ingin mendengar jawaban yang sangat ingin ia dengar.


"Dengarkan aku Rum, berapa kali aku mengatakan kalau aku menganggapmu sebagai keponakanku sendiri, meskipun kamu bukan keponakan Fajar, akan ku pastikan jika aku tidak akan tertarik denganmu."


Jawaban Dion menohok hati Arum, gadis itu merasa sakit kali karena berulang kali Dion menolak cintanya, namun gadis itu berusaha tegar dan mencoba tersenyum di depan Dion.


"Baiklah kalau begitu, maaf karena selalu mengganggu kakak," ucapnya sambil menahan air mata, Arum lalu meninggalkan Dion dan pergi ke sebuah bar yang berada di seberang restoran itu.


Melihat Arum masuk ke dalam bar, Dion mengikuti gadis itu dan menyusulnya masuk, meskipun telah menolak cinta Arum, namun Dion sungguh mengkhawatirkan Arum, bagaimanapun mereka saling mengenal sejak Arum masih kecil, tidak mudah bagi Dion untuk tidak peduli pada Arum.


Di Bar, Dion mengawasi Arum dari kejauhan, gadis berusia 26 tahun itu beberapa kali memesan minuman keras, tidak butuh waktu lama, Arum sudah mabuk dan terkapar di atas meja. Dion lalu menghampiri Arum dan berniat membawa gadis itu pulang.


Mendengar suara Dion, gadis itu membuka matanya dan tersenyum saat melihat pria pujaan hatinya berada di hadapannya. "Kak Dion, kenapa kamu selalu menolakku," ucapnya sambil menangis, padahal beberapa saat yang lalu ia baru saja tersenyum.


"Ayo pulang, kamu mabuk!" tegas Dion.


"Aku sangat menyukaimu kak. Lihatlah aku sekarang, aku sudah besar, aku sudah cantik dan aku juga seorang pengacara, tapi kenapa kamu masih saja menolakku?" oceh Arum dengan wajah berlinang air mata.


"Bicaramu sudah ngawur, Fajar bisa membunuhku jika melihatmu menggila seperti ini, sadarlah dan pulang sekarang!"


"Aku tidak mau pulang, aku mau minum lagi, kakak saja yang pulang, jangan ganggu aku," Arum kembali duduk di kursinya, ia memesan segelas minuman keras lagi, namun saat minuman itu datang justru Dion yang menenggaknya hingga habis.


Arum tak menyerah, ia kembali memesan meski pada akhirnya Dion yang menghabiskan minumannya, sampai beberapa gelas terlewati dan Dion mulai kehilangan kesadarannya, pria itu menggoyangkan kepalanya dengan keras berharap kesadarannya tak hilang, namun efek dari minuman beralkohol itu sungguh hebat hingga Dion kehilangan kesadarannya.


Satu jam kemudian kesadaran Arum mulai pulih, gadis itu terkejut melihat Dion yang tak sadarkan diri dengan posisi kepala berada di atas meja bar.


"Kak, bangun," Arum mengguncang tubuh Dion berharap pria itu akan bangun.


"Kakak bangun!" Kali ini Arum berteriak di telinga Dion hingga pria itu tersentak kaget dan reflek mengangkat kepalanya.


"Arum he he he," ucap Dion sambil tersenyum, pria itu lalu menangkup kedua pipi Arum dan sedikit menekannya sehingga bibir Arum mengkerucut. "Kamu sangat lucu, sangat menggemaskan," ucapnya lagi masih sambil tersenyum.


"Lepas kak, kakak mabuk! Aku akan mengantar kakak sekarang," Arum melepaskan tangan Dion dan menyeret pria itu keluar dari bar.


Setelah berhasil keluar dari bar, Arum dan Dion berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taxi, keduanya sama-sama dalam pengaruh alkohol jadi tidak mungkin jika mereka mengemudi. Dion yang masih mabuk seolah mupakan ucapannya, pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Arum dan tangannya tak sekalipun melepaskan tangan gadis yang beberapa jam yang lalu di tolaknya itu.


"Arum, Arum, Arum," panggil pria itu dengan lembut.


"Aku bukan Jailangkung kak, cukup panggil namaku sekali," protes Arum.


"Arum, Arum, Arum," ulang Dion lagi, entah apa yang di pikirkan pria mabuk itu.


"Cukup kak, kalau kakak terus memanggil namaku dengan suara itu maka aku akan meninggalkan kakak di sini," ancam Arum karena ia tak menyukai Dion memanggil namanya dengan sangat lembut, dengan begitu gadis itu tidak akan bisa move on.


"123 kali! Ya benar, malam ini adalah ke 123 kalinya kamu mengutarakan perasaanmu."


"Astaga, kenapa kamu harus menghitungnya kak?"


"Dan sebanyak itu pula aku menolakmu," wajah Dion berubah sedih, matanya sendu saat saat menatap Arum. "Gadis kecil ini sudah dewasa, sangat cantik dan seorang pengacara yang hebat, munafik namanya jika aku tidak tertarik denganmu." Dion menjeda kalimatnya, pria itu merapikan rambut Arum dan menyelipkan beberapa rambut gadis itu ke belakang telinganya. "Sayangnya aku adalah si bodoh dan si pengecut yang tak berani mengakui perasaannya, aku terlalu malu pada Fajar, aku takut Fajar menganggapku gila karena tertarik denganmu."


Arum mencubit pipinya berkali-kali, ucapan Dion membuat gadis itu tak percaya. "Pasti karena aku sedang mabuk, tapi pipiku terasa sangat sakit." ucapnya bermonolog.


Belum hilang rasa terkejutnya, Dion kembali memberikan kejutan besar dengan mengecup bibir Arum, lama bibir mereka saling menempel, hingga Dion menarik wajahnya menjauh.


"Aku juga menyukaimu bodoh."


BERSAMBUNG...