Marry me, Brother

Marry me, Brother
Dua orang dari masa lalu



Tak ada kesedihan yang abadi, tak ada luka tanpa penawarnya. Percayalah badai akan berlalu. Kuatkan dirimu dan tersenyum bersamaku...


Setelah merundingkannya dengan sang ibu, Ega dan Indhi memutuskan pindah rumah untuk sementara waktu hingga pandemi berakhir. Karena tak ingin kesepian, bu Tika memaksa bi Sumi untuk tinggal bersamanya dan asisten rumah tangganya itu setuju karena ia juga hidup seorang diri setelah suaminya berpulang dan anak-anaknya menikah.


Setelah berpamitan kepada sang ibu, sepasang suami istri itu memutuskan mampir ke sebuah supermatket untuk berbelanja kebutuhan rumah mereka. Virus yang mulai tersebar di seluruh Indonesia, mengharuskan Pemerintah mengambil kebijakan berupa penerapan jaga jarak dan pemakaian masker secara wajib.


Supermarket terlihat tak begitu ramai, hanya ada beberapa pengunjung dan salah duanya adalah pasutri Ega dan Indhi. Keduanya menyusuri rak demi rak yang menyediakan segala kebutuhan rumah tangga. Ega berjalan seraya mendorong troli sementara Indhi sibuk memilah dan memilih barang yang akan di belinya.


"Kak, semua kebutuhan dapur ku serahkan padamu," ucap Indhi seraya menunjuk deretan sayuran serta daging yang tersusun rapi.


"Oke," sahut Ega dengan senyum, tak lupa tangan jahilnya mengacak rambut sang istri.


"Kebiasaan deh," gerutu Indhi sambil merapikan rambutnya.


Ega hanya terkekeh melihat wajah menggembung milik istrinya, setelah itu ia mengajak sang istri untuk memilih sayur dan daging.


"Karena istriku sangat menyukai nasi goreng maka aku harus membeli banyak dada ayam filet," gumam Ega, tangannya dengan gesit meraih beberapa dada filet yang sudah di kemas dengan rapi.


"Kak mau daging juga," pinta Indhi bak seorang anak sedang meminta mainan kepada ayahnya.


"Baik tuan putri," celoteh Ega dan hasilnya ia harus menerima cubitan di perutnya.


"Kamu sangat nakal, tunggu pembalasanku!" ancam Ega dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ku tunggu pembalasanmu,, wleeee," sahut Indhi seraya menjulurkan lidahnya dan meninggalkan Ega yang masih berdiri di dekat rak daging.


"Gemasnya," gumam Ega dengan senyum tertahan, pria itu lalu mengejar istrinya yang sedang sibuk memilih cemilan.


Ega hanya menyaksikan saat Indhi memasukkan cemilan demi cemilan ke dalam keranjang belanjaan mereka, pria itu menatap istrinya penuh cinta dan rasa syukur.


"Udah cukup?" tanya Ega memastikan saat Indhi selesai dengan kegiatannya.


"Udah kak. Oh ya sebelum pulang kita makan dulu ya," ajak Indhi antusias, anggukan kepala dari sang suami membuat matanya semakin berbinar.


Setelah membayar semua belanjaan mereka, keduanya meninggalkan supermarket. Indhi hanya menonton saat Ega memasukkan belanjaan mereka ke dalam mobil karena sang suami melarang untuk membantu. Setelah semua barang belanjaan masuk ke dalam mobil, Ega membukakan pintu untuk sang istri dan mempersilahkan wanita tercintanya untuk masuk. Setelah istrinya berada di dalam mobil, Ega segera menyusul dan mengendarai mobilnya menuju restoran favorit istrinya.


"Kak bungkus aja ya, kita makan di rumah aja," pinta Indhi setelah mereka tiba di depan restoran.


"Oke. Kamu tunggu di sini ya!" Ega mengelus kepala istrinya sebelum ia keluar dari mobil.


Indhi mengulum senyum saat punggung Ega mulai menjauh, wanita itu merasa sangat bahagia sekarang. Setelah pengakuan cintanya seminggu yang lalu, kini mereka benar-benar menikmati hubungan mereka.


"Zee, kamu pasti sudah tenang kan di sana. Aku sudah menemukan kebahagiaanku di sini," batin Indhi.


Hampir setengah jam lamanya Ega belum juga kembali, karena bosan menunggu di dalam mobil, Indhi memutuskan menyusul suaminya masuk ke dalam restoran tersebut. Dari kejauhan Indhi melihat suaminya sedang berbincang dengan seseorang, karena penasaran Indhi melangkahkan kakinya menghampiri sang suami.


"Sayang, kenapa lama sekali," ucap Indhi seraya mengaitkan tangannya di lengan sang suami. "Sayang, kenapa di..." Indhi tak melanjutkan kalimatnya, gadis itu terperanjat hingga suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya yang sipit seketika membulat sempurna saat melihat dua orang wanita dari masa lalunya.


"Na-Naura," pekik Indhi, menyebut nama gadis itu membuat Indhi mengingat kenangan buruk di masa lalu, masa saat ia masih duduk di bangku SMA.


(Part Naura bisa di baca di novel Lara Cintaku bab 72)


Sementara itu, wanita yang berdiri di sebelah Naura masih sibuk menatap Ega dengan mata berkaca-kaca, wanita yang tak lagi muda itu hendak menyentuh wajah Ega namun segera di tepis oleh pria itu.


Serly, wanita yang sudah melahirlan Ega dan wanita yang dengan tega meninggalkan bocah lelaki berumur 8 tahun seorang diri. Ya wanita yang bersebelahan dengan Naura adalah Serly, ibu kandung dari Kevin Ega Irvantara.


"Tante," ucap Indhi setelah yakin siapa wanita yang tengah menatap suaminya.


"Kalian apa kabar?" tanya Naura mencoba menutupi kegugupannya setelah bertemu lagi dengan teman masa sekolahnya dulu dan juga kakak tirinya.


Saat SMA dulu, sebenarnya Indhi bersahabat dengan Arum, Dita dan Naura. Namun Naura mulai menjauhi Indhi karena merasa Indhi selalu melampauinya. Mulai saat itu, Naura mulai meniru Indhi, rambutnya yang keriting bahkan sengaja ia luruskan agar bisa menyaingi Indhi. Puncaknya, persahabatan mereka hancur saat Naura dengan sengaja mendorong Indhi di tangga dan menyebabkan Indhi mengalami cedera serius di kepalanya. Sejak saat itu Naura di keluarkan dari sekolah dan mereka tidak pernah bertemu lagi hingga beberapa menit yang lalu.


"Kami baik. Bagaimana dengan kalian?" balas Indhi dengan canggung.


"Kami juga baik," Naura tersenyum ramah, namun hal itu tak membuat Indhi merasa nyaman.


"Sayang pesananmu sudah siap, ayo kita pulang!" Ega berhasil menenangkan dirinya dan baru menyadari kehadiran sang istri, pria itu lalu mengajak istrinya meninggalkan tempat itu.


"Sayang?" tanya Naura merasa heran. Pertanyaannya membuat Indhi mengurungkan langkahnya.


"Ya, karena kami sudah menikah," ucap Indhi menjawab rasa penasaran Naura.


"Menikah?" ulang kedua wanita itu bersamaan, mimik wajah mereka tampak begitu terkejut.


"Kalau begitu kami permisi," Indhi meraih tangan suaminya dan mengajak pria itu untuk segera kuluar.


Di dalam mobil, Ega masih diam dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak. Sedih, amarah, rindu, semuanya bergabung menjadi satu.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Indhi khawatir, tangannya yang mungil memindahkan tangan Ega ke dalam genggamannya.


Ega menoleh sehingga bisa melihat kekhawatiran istrinya. "Aku baik-baik saja sayang. Maaf membuatmu khawatir."


"Apa kakak masih marah kepada ibu Serly?"


"Mungkin iya, karena aku masih sangat jengkel ketika melihatnya!" ujar Ega.


"Kejadian itu sudah sangat lama sekali. 32 tahun sudah setelah kejadian itu, kenapa kakak tidak bisa memaafkannya?"


"Sayang, apa yang wanita itu lakukan adalah hal yang sangat menjijikan. Bagaimana mungkin seorang ibu meninggalkan anaknya hanya demi hidup tenang seorang diri?Apa wanita seperti itu pantas di sebut ibu dan mendapatkan maaf?"


BERSAMBUNG...