Marry me, Brother

Marry me, Brother
Baju mahal



"Aku ingin ambil Bedah Torak dan belajar di Amerika," jawab Indhi dengan antusias, ia memang sudah memimpikan untuk melanjutkan ke jenjang Spesialis Bedah Torak di kampus yang pernah menjadi tempat belajar suaminya, John Hopkins University yang ada di Maryland, Amerika.


"A-Amerika itu sangat jauh sayang," sahut Ega pelan,tiba-tiba sekujur tubuhnya merasa lemas, bukan karena rencana Indhi untuk melanjutkan pendidikannya, namun membayangkan berhubungan jarak jauh dengan sang istri membuatnya ketakutan.


"Tapi aku ingin belajar di sana kak," ujar Indhi serius.


"Lalu bagaimana denganku? Butuh sekitar lima sampai enam tahun sampai kamu lulus Spesialis Bedah Torak. Bagaimana aku bisa hidup berjauhan denganmu."


"Kakak bisa mengunjungiku setahun sekali."


"Setahun? Sehari saja tidak melihatmu aku sudah gelisah. Tidak, tidak. Kali ini aku tidak setuju. Amerika terlalu jauh. Di Indonesia juga banyak Universitas dengan Fakultas Kedokteran terbaik. Kamu bisa belajar Spesialis di kampusmu yang dulu kan."


Ega beranjak dari tidurnya, pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, ia hanya duduk di atas kloset sembari memikirkan keinginan sang istri.


"Tidak. Dia tidak boleh pergi jauh," gumamnya seraya mengangkup kedua tangan di wajahnya. "Aku bisa gila jika berjauhan dengannya.


Tak ingin terlalu memikirkan keinginan istrinya, Ega memilih mandi, mungkin saja guyuran air dingin bisa menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Sepuluh menit berlalu, tubuhnya sudah menggigil namun Ega masih betah berada di bawah guyuran air.


"Kak, buka pintunya! Aku mau pipis," teriak Indhi dari balik pintu, wanita itu menggedor pintu kamar mandi beberapa kali.


Ega terpaksa mengakhiri sesi meditasinya, pria itu meraih handuk dan melilit tubuh bagian bawahnya sebelum membukakan pintu untuk istrinya.


"Astaga, aku hampir ngompol,"pekik Indhi setelah pintu terbuka, wanita itu masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa dan menuntaskan hajatnya.


Setelah buang air kecil, Indhi keluar dari kamar mandi dan menghampiri suaminya yang sedang duduk melamun di tepi tempat tidur. Pria itu hanya mengenakan celana pendek serta kaos putih polos dengan handuk melingkar di lehernya. Tetesan air dari rambut basahnya tak Ega pedulikan, pikirannya membara jauh.


"Kak," panggil Indhi dengan pelan, wanita itu meraih handuk di leher Ega dan membantu suaminya mengeringkan rambut. "Jangan terlalu di pikirkan, itu hanya angan-anganku saja. Lagi pula pandemi belum berakhir, sulit bagi kita untuk bepergian ke luar negeri."


Ega menahan tangan Indhi yang berada di kepalanya, pria itu berbalik sehingga mereka saling berhadapan. Di selaminya iris berwarna cokelat milik sang istri. "Aku belum pernah sekalipun menolak keinginanmu, tapi kali ini aku benar-benar tidak ingin kamu pergi jauh. Aku percaya kamu akan baik-baik saja di luar sana. But, how about me?"


Indhi tersenyum simpul, wanita itu segera menarik tengkuk suaminya agar mendekat dan memeluknya, Indhi mengusap kepala bagian belakang milik Ega dengan penuh kasih. " Kita pikirkan itu lain kali. Yang terpenting sekarang aku masih di sini bersama kakak," ucap Indhi mencoba menenangkan suaminya.


"Aku takut di tinggal olehmu," gumam Ega, pria itu memeluk pinggang istrinya dengan sangat erat.


"Kalau begitu, ikut saja. Kita pindah ke luar negeri."


"Bagaimana dengan pekerjaanku?"


"Kakak bisa bekerja di sana kan?"


Keduanya melanjutkan percakapan mereka dangan serius. Sesekali Ega merengek karena tidak ingin di tinggal oleh istrinya, padahal semua itu baru rencana yang di gagas oleh Indhi, wanita itu juga belum terlalu yakin bisa di terima di kampus bergengsi yang menjadi salah satu Universitas terbaik di dunia.


Dita dan Dokter Aditya sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota. Dita begitu berat menyeret kakinya untuk bergerak maju, pasalnya di dalam pusat perbelanjaan tersebut hanya ada toko-toko baju dengan standar Internasional yang harganya pasti selangit. Seorang perawat seperti Dita mana mampu membeli baju mahal kelas dunia itu.


Jantung Dita semakin memacu saat Dokter Aditya membawanya masuk ke dalam salah satu gerai ElVe, gadis itu menahan langkahnya yang semakin memberat.


"Ayo masuk," ucap Dokter Aditya seraya melambaikan tangannya. Karena Dita tak juga bergerak, terpaksa Dokter Aditya menghampiri gadis itu dan menariknya masuk.


"Pilihlah sesukamu," Dokter Aditya menunjuk gantungan baju mewah yang tersimpan di dalam lemari etalase dengan kaca bening.


"Tapi dok, saya tidak mampu membelinya. Anda tidak lupa kan kalau saya orang miskin," bisik Dita tepat di telinga Dokter Aditya, hembusan nafas Dita yang menyapu cuping telinga Dokter Aditya membuat pria itu meremang.


Setelah wajah Dita menjauh, Dokter Aditya segera mengusap tengkuknya, pria itu lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Dita. "Aku yang akan membayarnya. Kamu tidak lupa kan, kalau aku itu Crazy Rich di kota ini," balas Dokter Aditya, tak lupa ia meniup telinga Dita dan sukses membuat gadis itu salah tingkah


"Tapi saya tidak terbiasa pakai baju mahal. Kita cari toko yang lain saja ya," Dita masih enggan untuk menerima kebaikan pria yang akan menjadi suaminya. Tanpa menunggu persetujuan Dokter Aditya, gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu.


"Tunggu, kamu mau kemana?" tanya Dokter Aditya dengan suara sedikit keras, pria itu berlari mengejar Dita. Tak ada jawaban dari Dita, gadis itu juga terus melangkahkan kakinya keluar dari pusat perbelanjaan tersebut.


"Tunggu dulu, kamu ini mau kemana?" tanya Dokter Aditya lagi, pria itu bahkan harus mencekal pergelangan tangan Dita agar gadis itu mau berhenti.


"Saya mau cari toko baju yang sesuai dengan saya. Saya tidak mau orang lain mengganggap saya hanya memanfaatkan uang anda saja dok. Saya akan melanjutkan rencana pernikahan kita asal anda bersedia menerima penampilan sederhana saya. Saya tidak ingin merubah diri saya hanya karena anda kaya dok," ucap Dita panjang lebar, akhirnya gadis itu memberanikan diri menyuarakan pendapatnya.


"Oke fine. Maaf karena sudah lancang," Dokter Aditya segera mengiyakan ucapan Dita, jauh di dalam lubuk hatinya ia mengagumi sifat sederhana gadis itu. Ia kembali menyesal karena sempat berpikir buruk mengenai Dita.


"Anda tidak salah dok. Hanya saja kita yang belum mengenal satu sama lain," sahut Dita seraya memamerkan senyumnya, wajahnya semakin terlihat manis saat gigi gingsulnya menyumbul keluar saat bibirnya terangkat.


"Ya sudah ayo. Kali ini aku akan mengantarmu kemanapun kamu pergi."


Setelah menghabiskan hampir satu jam lamanya, Dita akhirnya mengakhiri sesi belanjanya, gadis itu hanya membeli beberapa potong baju dan celana panjang, dan sebuah dres selutut yang di pakainya sekarang, itupun Dita membelinya di sebuah toko biasa dan membayar dengan uangnya sendiri, gadis itu tak mau merepotkan orang lain. Cukup ia numpang di apartemen Dokter Aditya, ia tak mau menyusahkan pria itu lagi.


"Apa ini cukup?" tanya Dokter Aditya sambil melirik kantung plastik yang di bawa Dita.


"Cukup dok, saya akan meminta adik saya untuk membawakan beberapa baju saya dari rumah."


"Baiklah kalau begitu. Sekarang kita pergi ke rumah orang tuaku."


"Se-sekarang?" ulang Dita yang tiba-tiba gugup.


"Iya sekarang. Tapi sebelum itu, kita harus ke salon agar wajahmu tidak terlalu pucat," Dokter Aditya menarik tangan Dita menuju basement di mana mobilnya berada, dia harus cepat-cepat membawa Dita ke salon sebelum gadis itu kebali menolak.


BERSAMBUNG...