
Ega masih menunggu di depan ruang isolasi, pria itu telah mengajukan cuti dalam beberapa hari ke depan. Kedengarannya memang sedikit gila, namun begitulah Ega, ia tak akan membiarkan Indhi seorang diri, jika perlu ia akan masuk ke dalam ruangan tersebut dan menemani istrinya.
Wajahnya nampak begitu lelah, dengan mata sembab dan lingkar hitam di bawah matanya, Ega duduk sambil menunduk, kedua tangannya menangkup wajah layunya.
"Kak, lebih baik kakak istirahat sebentar, kakak bisa sakit kalau terus-terusan begini."
Ega mengangkat kepalanya begitu mendengar sebuah suara, Ega membuang nafas saat melihat Dita berdiri di sebelahnya. "Aku baik-baik saja!" ucap Ega dan kembali menunduk.
Dita lalu duduk di sebelah Ega, gadis berseragam perawat itu mengeluarkan sebungkus sandwich serta kopi yang sengaja ia bawakan untuk Ega. "Setidaknya makanlah sedikit, kalau kakak sakit siapa yang akan menjaga Indhi," ucap Dita seraya memberikan sandwich tersebut kepada Ega.
Ega menoleh dan melirik Dita sekilas, benar apa yang di katakan gadis itu, Ega harus bertahan dan menjaga kesehatannya demi Indhi dan juga calon bayi mereka. "Terima kasih," Ega meraih sandwich tersebut dan segera memakannya. Masih dengan mengunyah roti lapisnya, tiba-tiba Ega menitikkan air mata karena kembali mengingat istrinya, pria itu begitu merindukan saat-saat bersama istrinya, saat mereka sarapan bersama, berangkat kerja bersama hingga tidur di atas kasur yang sama dengan posisi saling memeluk.
Suara isak Ega tentu saja membuat Dita merasa nelangsa, gadis itu semakin yakin jika Ega bukanlah takdirnya, Ega begitu mencintai Indhi, mana mungkin ia tega berada di tengah-tengah mereka. "Indhi akan baik-baik saja kak," ujar Dita seraya mengelus punggung Ega, gadis itupun tak kuasa menahan air matanya dan akhirnya kedua orang itu menangis bersamaan.
Dari kejauhan, Bella tersenyum setelah berhasil mengambil foto saat Dita sedang mengelus punggung Ega, dari foto yang di potret oleh Bella terlihat seakan-akan kedua orang itu sedang bermesraan.
"Bagus Dita, teruslah bersikap seperti itu dan aku akan memanfaatkanmu untuk menghancurkan kakak tiri sia*lan itu," gumam Bella, seringai muncul di wajahnya menambah aura jahat gadis itu semakin ketara.
***
Berita mengenai kemunculan virus covid-19 di Indonesia menjadi topik hangat di media masa, hampir seluruh saluran televisi menyiarkan berita mengenai pasien yang pertama kali terinfeksi virus tersebut.
Bi Sumi sedang membersihkan ruang keluarga saat berita mengenai salah satu dokter telah terinfeksi dan tengah berjuang di dalam ruang ICU. Bi Sumi menghentikan aktivitasnya sejenak, wanita itu lalu menonton dengan seksama berita yang sedang tayang. Bi Sumi berjalan lebih dekat dengan televisi, ia mempertajam penglihatan serta pendengarannya karena sempat mendengar nama Indhi di sebut oleh reporter berita.
"Nyonya, nyonya," teriak bi Sumi memanggil majikannya.
"Ada apa sih bi," yang di panggil menyahut, bu Tika datang dari arah dapur dengan membawa sepiring buah yang sudah di potong.
"Nyonya coba hubungi mas Ega, sepertinya tadi nama non Indhi di sebut menjadi salah satu dokter yang terinfeksi virus itu nyonya!"
"Masa sih bi, bibi salah dengar kali?" jawab bu Tika tak percaya.
Pemirsa, pemerintah mengumumkan kasus pertama virus covid-19 telah di temukan di Indonesia, pasien pertama tersebut kini tengah di karantina di Rumah Sakit A. Direktur Rumah Sakit A membenarkan berita tersebut dan menambahkan bahwa salah satu Dokter Umum bernama Dokter Indhi tertular virus tersebut dan kini sedang menjalani karantina di Rumah Sakit.
Prang...
Piring berisi buah-buahan itu pecah dan berserakan di lantai, bu Tika hampir saja terjatuh andai bi Sumi tak segera menahan tubuh wanita itu, bi Sumi lalu membantu bu Tika untuk duduk di sofa.
"Bi, tolong ambilkan ponsel saya di kamar," titah bu Tika dengan suara bergetar.
"Angkat Ega," desisnya cemas, hingga pada panggilan ke tiga Ega mengangkat telefonnya
"Hallo bu," ucap Ega membuka percakapan.
"Yang ada di berita itu bohong kan Ga, istrimu tidak terinfeksi vitus itu kan?" cecar bu Tika langsung pada intinya.
"Ibu tau dari mana?" tanya Ega dengan suara parau, saking paniknya ia sampai lupa mengabari ibunya tentang kondisi Indhi.
"Dari berita. Istrimu baik-baik saja kan? Berita itu cuma bohong kan?"
Ega diam sejenak dan mengatur nafasnya, ia tak ingin bu Tika bertambah khawatir jika tau Ega baru saja menangis. "Beritanya benar bu, Indhi sedand di karantina sekarang. Tapi ibu tidak usah khawatir, Indhi baik-baik saja dan Ega menjaganya di sini!" tutur Ega setengah berbohong, pria itu tidak mungkin menceritakan keadaan Indhi yang sebenarnya kepada sang ibu, bisa-bisa bu Tika syok jika mengetahui kondisi Indhi yang sesungguhnya.
"Ibu akan ke Rumah Sakit sekarang."
"Jangan bu," potong Ega dengan cepat. "Di sini sangat rawan, apalagi ibu memiliki riwayat hypertensi, lagipula ibu tidak bisa bertemu dengan Indhi di sini. Ibu tenang saja da doakan Indhi agar dia dan bayinya baik-baik saja."
"Kamu sudah tau kalau Indhi hamil?" tanya bu Tika memastikan.
"Sudah bu. Jaga kesehatan ibu, jangan telat makan dan minum vitamin, dua minggu ke depan Ega dan Indhi belum akan pulang."
"Kamu juga baik-baik di sana nak, kabari ibu jika terjadi sesuatu!"
Sementara di tempat lain, Dokter Ilham baru saja mengetahui jika mantan tunangannya telah terinfeksi dan sedang menjalani perawatan di ruan ICU. Dokter Bedah Umum itu tampak begitu cemas dan mengkhawatirkan kondisi Indhi, meski Indhi meninggalkannya dan memilih menikah dengan pria lain, namun hal tersebut tak membuat Dokter Ilham berhenti peduli pada wanita yang masih sepenuhnya memiliki hatinya.
Karena tak tenang, Dokter Ilham memutuskan pergi ke ICU untuk sekedar mencari kabar mengenai mantan tunangannya itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat Ega duduk tak jauh dari ruang tempat Indhi di isolasi. Setelah meyakinkan diri, Dokter Ilham kembali melanjutkan langkahnya, kedatangannya langsung di sambut tatapan tak suka dari Ega.
"Ada apa anda kemari?" tanya Ega tak ramah.
"Saya hanya ingin tau kondisi Indhi," jawab Dokter Ilham dengan tenang.
"Dia dan bayinya baik-baik saja. Terima kasih atas kepedulian anda Dokter Ilham," Ega sengaja menekan kata bayi saat menjawab pertanyaan Dokter Ilham.
"Bayi?" ulang Dokter Ilham dengan ekspresi wajah tak tertebak.
"Ya, kami akan segera memiliki bayi."
"Selamat dok, semoga Indhi dan bayinya baik-baik saja. Saya permisi," pamitnya sebelum pergi, langkah kaki Dokter Ilham terasa sangat berat, mengetahui Indhi tengah mengandung tentu saja membuatnya pupus harapan, ia dan Indhi memang tidak di takdirkan untuk bersama.