
Di dalam sebuah taxy, Dion dan Arum duduk bersebelahan dan keduanya saling diam. Setelah efek alkohol menghilang, rasa canggung amat terasa diantara mereka. Di dalam hati, Dion terus merutuki kebodohannya, bagaimana bisa pria itu mengungkapkan rahasianya?
"Soal tadi ..." ucap mereka bersamaan setelah itu mereka juga saling diam dan salah tingkah.
"Ciuman tadi adalah sebuah kesalahan, aku mabuk dan tak seharusnya bersikap kurang ajar padamu," tegas Dion tanpa melirik Arum sedikitpun.
Gadis itu tercenung karena tak tau harus berbuat apa, rasanya bagai menaiki roller coaster, beberapa menit yang lalu ia seolah melayang dengan pengakuan Dion, namun kini hatinya terhempas dan hancur berkeping-keping. Arum meremas jemarinya dengan kuat, rasanya ia tak sanggup lagi berada di dalam satu tempat bersama Dion, ia sungguh tak menyangka pria yang sangat di sukainya tak lebih dari seorang badjingan.
"Berhenti pak," titah Arum pada sopir taxy, tak lama taxy itu menepi dan Arum turun tanpa mengatakan sepatah katapun.
Dion tak tinggal diam, pria itu menyusul Arum turun dan mengejar gadis itu, ia begitu khawatir karena taxy mereka berhenti di tempat yang sepi.
"Rum tunggu!" panggil Dion setengah berteriak, namun yang di panggil tak menoleh sedikitpun malah justru semakin mempercepat langkahnya, rasanya ia tak ingin bertemu dengan Dion lagi.
Dion berlari karena jarak mereka semakin jauh, pria itu mencekal pergelangan tangan Arum hingga langkah kakinya berhenti. Gadis itu menatap nanar pria yang berdiri di hadapannya, rasanya dadanya begitu sesak, ingin sekali ia berteriak saat itu juga.
"Aku akan mengantarmu pulang," kata Dion tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," Arum menghempaskan tangan Dion hingga terlepas dari tangannya, gadis itu lalu berbalik dan melangkahkan kakinya, namun lagi-lagi Dion menghentikannya, pria itu berdiri menghadang langkah Arum.
"Fajar akan membunuhku jika terjadi sesuatu denganmu," lagi-lagi Dion menjadikan Fajar sebagai alasan, sebenarnya ia sendirilag yang merasa khawatir jika membiarkan gadis itu pulang seorang diri, namun gengsinya lebih tinggi dari apapun.
"Tidak perlu khawatir, om Fajar tidak akan melakukannya. Jadi minggir dan jangan menghalangi jalanku," jawab Arum dengan ketus, apa yang di lakukan oleh Dion sangatlah keterlaluan, gadis itu tak ingin lagi bersikap lembut pada pria yang telah menginjak harga dirinya.
"Dengarkan aku Rum, kita lupakan masalah di depan bar. Maaf karena aku menciummu, tapi sungguh aku tak berniat unt ... "
Plaakk...
Belum sempat Dion menyelesaikan kalimatnya, namun sebuah tamparan sudah mendarat di wajahnya. Pria itu memegangi wajahnya dan menatap Arum dengan sorot tak percaya, bagaimana bisa gadis yang bertahun-tahun ini selalu mengejarnya malah kini menamparnya?
"Ciuman itu tidak di sengaja, ciuman itu hanya sebuah kesalahan? Cih, aku sungguh menyesal karena jatuh cinta pada laki-laki badjingan sepertimu. Aku sangat menyesal karena sepuluh tahun lamanya begitu memuja-muja pria breng*sek sepertimu. Mulai sekarang aku harap kita tidak pernah bertemu lagi," Arum menyeka air matanya dengan kasar, untuk apa ia harus menangisi pria yang jelas-jelas selalu menolaknya, selama ini Arum merasa seperti tak punya harga diri karena selalu mengejar Dion meski akhirnya hanya berujung kecewa.
"Rum aku benar-benar tidak bermaksud berbuat jahat padamu, semuanya karena aku mabuk, aku ... "
"Kamu merasa jijik karena mencium wanita sepertiku?" potong Arum sebelum Dion merampungkan ucapannya.
"Bukan begitu Rum." Elak Dion.
"Kamu tenang saja, mulai detik ini aku tidak akan mengganggumu lagi, aku akan berhenti menyukaimu, jadi kamu tidak perlu merasa jijik lagi saat aku mengemis dan memohon cinta darimu." Setelah menyerah dengan perasaannya, Arum berlari meninggalkan Dion, gadis itu menangis sejadi-jadinya saat Dion tak lagi mengejarnya, seharusnya sejak dulu ia menyerah, seharusnya sejak awal ia tak perlu menyukai pria itu.
Sementara itu Dion masih terpaku di tempatnya, ucapan Arum sungguh menohok hatinya, meski mulutnya terus mengatakan tidak pada gadia itu, namun hatinya benar-benar berharap jika Arum tidak menyerah dan terus mengejarnya.
***
Setelah makan malam bersama teman-temannya, Indhi dan Ega memutuskan untuk kembali ke rumah. sesampainyya di rumah Ega langung mandi sementara Indhi menyiapkan baju untuk suaminya.
Tak lama Ega keluar dari kamar mandi, pria itu lalu memakai baju di depan istrinya, hal itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan Ega, begitupun dengan Indhi ia mulai terbiasa dengan tontonan eksotis yang selalu Ega tunjukan.
Setelah beroakaian Ega memeluk istrinya sesaat, saat ini yang ia butuhkan hanya Indhi, tak ada yang lain lagi selain istrinya. "Mandilah lalu istirahat," Ega melepaskan pelukannya, pria itu lalu menciun kening istrinya sesaat dan berjalan menuju tempat tidur.
Indhi melirik suaminya sesaat, pria itu berbaring di atas tempat tidur dengan salah satu tangannya menutup kedua matanya. Tiba-tiba Indhi teringat akan perkataan salah satu pasiennya, jika suaminya sedang dalam mood yang buruk maka ia akan memberikan servis kepada suaminya.
Indhi merasa malu saat menatap pantulan dirinya di cermin. "Apa lebih baik aku tidak usah berpakaian saja?" ucapnya pelan karena merasa tidak percaya diri dengan penampilannya.
Indhi lalu meraih bathrobe dan memakainya hingg menutup tubuhnya yang hampir polos. Gadis itu keluar dari kamar mandi dan menuju meja rias, ia menyemprotkan parfum hampir di sekujur tubuhnya, malam ini ia yakin jika ia akan bercinta dengan suaminya.
Setelah di rasa siap, Indhi menyusul suaminya ke atas tempat tidur, gadis itu lalu memeluk perut suaminya dengan mesra. Ega yang sedikit kaget dengan kedatangan Indhi-pun membuka matanya, pria itu menatap istrinya yang kini berbaring di sebelahnya.
"Sudah mandi?" tanya Ega seraya memiringkan tubuhnya hingga kini mereka berdua saling berhadapan.
"Sudah," jawab Indhi singkat, gadis itu lalu mengecup bibir Ega sebagai serangan awal.
"Kenap tiba-tiba menciumku?" Ega tersenyum simpul sehingga membuatnya terlihat sangat mempesona.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin mencium saja. Apa tidak boleh?"
"Tentu saja boleh." jawab Ega dengan cepat, setelah itu Ega menyadari jika istrinya masih mengenakan barthrobe. "Kenapa belum ganti baju?"
"Apa kakak mau membantuku ganti baju?" ujar Indhi, gadis itu mulai melancarkan serangan keduanya.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil baju untukmu!" Ega lalu beranjak dari tempat tidur dan mengambil baju untuk istrinya. Ega membawa satu set baju tidur panjang motif beruang ke tempat tidur.
"Bangun, aku sudah ambil bajunya!"
"Bantu aku kak, aku tak punya energi untuk melepaskan bathrobe ini!"
"Ega duduk di tepi tempat tidur dengan posisi menghadap istrinya, pria itu lalu membuka ikatan bathrobe Indhi dan membukanya hingga menampilkan baju haram yang di kenakan sang istri.
"Indhi kau ..." Ega tercekat melihat dua gundukan yang tertutup kain transparan hingga menunjukkan bentuk aslinya.
Setelah bersusah payah menghilangkan rasa malunya, Indhi memberanikan diri untuk melepaskan bathrobe yang di pakainya dan membuangnya asal. Ega semakin tak bisa berkata apapun saat melihat kemolekan tubuh sang istri di balik baju haram yang di kenakannya.
Pria itu meneguk ludahnya berkali-kali, seketika adik kecilnya bangun dan mengeras dan ingin segera memuntahkan benih-benih unggulnya.
"Sayang, apa kamu sedang menggodaku?" tanyanya dengan tatapan tertuju pada buah da*da milik istrinya.
"Apa kakak tergoda?" jawab Indhi yang lebih terdengar seperti sebuah tantangan.
"Apa tamumu sudah pergi?" Ega menatap lebah di bawah sana. Indhi hanya mengangguk pelan, sebenarnya tamu bulanannya sudah pergi sejak pagi tadi.
"Boleh aku melakukannya?" Lagi-lagi Indhi mengangguk dan tanpa menunggu lama Ega segera melahap bibir mungil milik istrinya, pria itu menyesap bibir itu dengan sedikit keras, gairah yang menggebu membuatnya tak bisa bermain halus. Namun hal itu justru membuat Indhi terpancing, gadis itu mulai mengimbangi permainan lidah suaminya.
Puas dengan bibir, Ega kini berpindah di leher istrinya, gigitan-gigitan kecil ia berikan di leher jenjang itu, sementara tangannya berusaha membuka kain transparan yang menutup tubuh istrinya.
Indhi semakin tak bisa menahan suaranya, suaminya benar-benar memberikan rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah lama bermain di titik inti istrinya akhirnya Ega menghentikan aktivitasnya dan mengungkung tubuh istrinya.
"Apa aku boleh masuk sekarang?"
BERSAMBUNG....