
Segala pertanyaan Ega terjawab sudah saat Arum tiba di Rumah Sakit, gadis itu membawa Ega ke tempat sepi dan membahas masalah antara Ega dan Dita.
"Apa yang terjadi?" tanya Ega penasaran.
"Indhi sudah tau semuanya kak, dia tau Dita mencintai kakak dan kalian pernah bersama!" terang Arum dengan wajah panik, setelah ini Arum khawatir Indhi menyerah akan hubungannya bersama Ega.
"Bagaimana bisa?" ucap Ega dengan suara tercekat.
"Aku juga nggak tau kak, siang tadi dia datang ke kantorku dan menceritakan semuanya."
Ega mengusap wajahnya dengan kasar, kekhawatirannya mungkin akan segera terjadi, setelah ini mungkin Indhi akan menghindarinya atau bahkan meninggalkannya. "Aku harus bagaimana Rum, bagaimana kalau Indhi menyalahkan dirinya dan meninggalkanku?"
"Kak, semua ini adalah ulah Bella. Gadis itu yang sudah meracuni Dita agar kembali mengejar kakak," Arum mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan vidio yang pernah di rekamnya beberapa waktu yang lalu.
"Bang*sat," umpat Ega dengan tangan terkepal. "Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan keluargaku lagi," ancamnya dengan mata memerah serta urat leher yang menonjol di permukaan kulitnya yang putih.
Setelah itu mereka berdua kembali ke dalam Rumah Sakit, Dion segera menghampiri mereka berdua. "Apa Indhi sedang hamil?" tanya Dion serata menatap Ega dan Arum bergantian.
"Iya. Apa terjadi sesuatu dengan bayiku?" tanya Ega penuh kekhawatiran.
"Kata dokter bayinya baik-baik saja, Indhi hanya kelelahan, sebentar lagi dia akan di pindahkan ke kamar perawatan," ujar Dion menyampaikan apa yang di sampaikan dokter yang menangani Indhi.
Beberapa menit kemudian, dua orang perawat keluar dan mendorong hospital bed menuju ruang rawat, sementara Indhi masih memejamkan matanya di atas ranjang dorong tersebut.
Ega menatap lekat wajah istrinya, matanya yang bengkak menandakan wanita hamil itu baru saja menangis dan itu semua gara-gara rahasia yang coba ia sembunyikan.."Maafkan aku sayang," gumamnya seraya menggenggam tangan Indhi dengan erat.
Arum dan Dion sudah pamit pulang, sekarang hanya ada Ega seorang diri yang menemani istriya, ia baru saja menghubungi bu Tika mungkin sebentar lagi ibunya akan datang kemari.
Perlahan Indhi membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah khawatir milik suaminya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Ega setelah menyadari istrinya membuka mata.
"Hem," gumam Indhi pelan, gadis itu menggerakan bola matanya ke kanan dan ke kiri, ia merasa bingung karena mendapati dirinya terbaring di ranjang Rumah Sakit.
"Apa kepalamu sakit?" tanya Ega memastikan kondisi sang istri, namun ia hanya mendapat jawaban sebuah gelengan kepala.
"Mau minun?" tawar Ega lagi, dan Indhi hanya menggelengkan kepalanya lagi.
"Istirahatlah," Ega merapikan selimut yang menutupi tubuh bagian bawah Indhi, ia juga mencium kening istrinya.
Bersamaan dengan itu, pintu ruang perawatan Indhi terbuka. Bu Tika segera menghampiri putrinya yang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit. "Kamu kenapa nak, pagi tadi kamu masih baik-baik saja, kamu bahkan begitu semangat mengantar bekal untuk suamimu?"
Glek..
Ega menelan salivanya dengan kasar, kini terjawab sudah dari mana Indhi mengetahui rahasia yang dia simpan selama ini, dan bodohnya dia tak menyadari kedatangan Indhi saat Dita sedang berada di dalam ruangannya.
"Indhi baik-baik saja bu, hanya sedikit lelah. Mungkin karena efek hamil muda," jawaban Indhi tentu saja tak membuat dua orang yang berada di dalam ruangan itu merasa tenang.
"Hem," jawab Indhi singkat, nampak jelas kekecewaan di wajah pucatnya.
Ega tak langsung menuju ruang operasi, dia pergi ke Departemen Umum untuk mencari Dita karena perawat itu bertugas di sana. Entah apa yang akan di lakukan Ega, namun pria itu hanya ingin membuat Dita berhenti untuk mengejarnya.
Kedatangan Ega tentu saja menarik perhatian beberapa perawat yang sedang bertugas, apalagi saat Ega menghampiri Dita para perawat mulai saling berbisik.
"Ikut aku!" seru Ega dengan wajah datar, sementara Dita hanya mengekori langkah panjang Ega yang membawanya ke belakang Rumah Sakit.
"Ada apa kak?" tanya Dita sambil tersenyum meski sebenarnya ia menyembunyikan tangannya yang bergetar di dalam saku seragam perawatnya.
"Indhi sudah tau semuanya. Jadi aku harap berhenti mengejarku lagi dan bersikaplah seperti biasanya." ucap Ega yang terdengar seperti ancaman.
"Dia tau? Baguslah kalau begitu. Berarti kami hanya perlu bersaing secara sehat kan?" jawab Dita sambil tersenyum licik.
"Bersaing? Ega mengulangi ucapan Dita. "Kalian tidak perlu bersaing karena pemenangnya selalu Indhi!" ucapan Ega begitu menohok hati gadis yang berdiri di hadapannya.Jika itu Dita yang dulu, dia pasti akan segera menyerah, namun kini Dita tak lagi seperti dulu, racun yang di tanam Bella di kepalanya sudah tersebar di seluruh sel-sel tubuhnya, gadis itu sudah berubah.
"Kita lihat saja. Aku pasti akan merebut kakak darinya," ancam Dita.
"Kamu bukan Dita yang ku kenal dulu. Rasa bersalahku padamu ternyata sia-sia, keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita rupanya sangat tepat!"
Ega meninggalkan Dita setelah mengucapkan kalimat tersebut, namun langkahnya terhenti saat dua buah tangan melingkar di perutnya. Sudah dapat di pastikan jika pemilik tangan itu adalah Dita. Ega berusaha melepaskan tangan Dita, namun tangan itu memeluknya dengan sangat erat membuat Ega kewalahan.
"Lepas!" sentak Ega bersamaan dengan terlepasnya kaitan tangan Dita. Ega berbalik lalu menatap jijik gadis yang juga tengah menatapnya. "Seorang wanita itu di nilai dari perbuatannya. Pastaskah seorang wanita lajang memeluk pria beristri? Hanya wanita yang tidak memiliki harga diri yang sanggup melakukan hal itu!"
Ega merapikan sneli dokternya, pria itu melangkahkan kakinya meninggalkan Dita setelah mengucapkan kalimat yang terdengar sangat kejam, namun tak masalah, Ega memang harus mengatakan kalimat itu kepada Dita.
Sementara di tempat semula, Dita menatap punggung Ega yang semakin menjauh, tak lama datang Bella sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Dengan foto-foto ini, Indhi pasti akan menyerah dan meninggalkan Dokter Kevin," ucap Bella seraya menunjukkan beberapa foto kebersamaan Ega dan Dita
"Terima kasih Bell, aku bersyukur karena memiliki teman yang selalu mendukungku," jawab Dita tulus.
"Aku hanya tidak tega melihat kakak tersakiti. Aku akan mengirim fotonya kepada kak Indhi. Bersiaplah untuk menyambut Dokter Kevin kak."
Bella menyeringai saat memasukkan beberapa lembar foto ke dalam amplop berwarna cokelat, dia sudah bisa membayangkah wajah terkejut Indhi melihat foto-foto Ega yang sebagian sudah di edit oleh Bella.
"Kamu memang bodoh Dita, mudah sekali mempengaruhimu!" gumamnya dalam hati.
Setelah foto tersebut siap di kirim, Bella menghubungi seseorang, dia dan orang yang di hubungi itu sepakat untuk bertemu di taman Rumah Sakit.
"Kirim ini untuk Dokter Indhi di ruang Anyelir, pastikan Dokter Indhi yang menerimanya," titah Bella sambil menyerahkan amplop kepada seorang pria paruh baya yang sengaja dia sewa untuk memata-matai Indhi. Untuk itu tidak usah heran mengapa Bella tau jika Indhi sednag di rawat di Rumah Sakit.
BERSAMBUNG..
Follow me on IG : astuty_nuraeni