Marry me, Brother

Marry me, Brother
Baikan



"Semuanya sudah terjadi. Saya sudah ikhlas tidak akan menuntut balas kepada siapapun," jawab Indhi dengan bijak.


Di saat yang bersamaan, seorang gadis keluar dari balik pintu rumah dengan wajah berderai air mata, gadis itu lalu menyusul bu Martini duduk berlutut di kaki Indhi dan membuat wanita itu tercengang.


"Dita," pekiknya tertahan, Indhi melirik Arum sejenak, dan sang sahabat hanya mengangguk, memberi kode jika ini saatnya mereka untuk berbaikan.


"Apa yang kamu lakukan Dit? Ayo bangun!" ucap Indhi lagi, ia bingung harus berbuat apa.


"Maafin aku Ndi. Aku sangat menyesal, aku mohon maafin aku. Aku sangat bodoh karena terhasut ucapan Bella," ujar Dita di sela isak tangisnya.


"Dit," Indhi ikut berlutut dan mensejajari kedua wanita yang berlutut di lantai, Indhi lalu memegang kedua bahu Dita. "Aku sudah memaafkanmu."


Dita menghentikan tangisnya, gadis itu mengangkat kepala dan menatap sahabatnya. "Aku sangat menyesal," gumamnya dengan sesegukan.


"Aku tau. Dan aku harap kamu tidak akan mengulanginya di masa depan."


"Aku janji Ndi, aku tidak akan mengulanginya," ucap Dita bersungguh-sungguh.


"Aku juga tidak mau kita saling menyimpan rahasia. Seandainya saja kamu jujur padaku, mungkin kita akan memiliki akhir yang berbeda. Tapi semuanya sudah terjadi, aku dan kak Ega sudah menikah dan saling mencintai dan kamupun akan segera menikah dengan kak Adit. Aku hanya berharap kita bisa memulainya dari awal. Apa kamu bersedia kembali bersahabat denganku?" tanya Indhi sambil tersenyum, ia benar-benar sudah mengikhlaskan segalanya. Ia percaya semua hal yang terjadi dalam hidupnya adalah bagian dari rencana Tuhan.


Dita mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat. "Aku sangat bersedia Ndi, terimakasih," Dita kembali menangis, gadis itu lalu menghambur ke dalam pelukan Indhi dan menangis di dalam pelukan sang sahabat, Indhi juga membalas pelukan Dita dan ikut menangis.


"Aku ikut," kata Arum yang sudah berderai air mata, gadis itu lalu memeluk kedua sahabatnya yang sedang berpelukan. Ketiga gadis itu menangis tersedu-sedu.


Sementara itu bu Martini hanya bisa tersenyum dan bersyukur karena Dita memiliki sahabat yang sangat baik. "Terima kasih Tuhan," batinnya seraya menyaksikan pelukan haru ketiga gadis yang sudah di anggapnya seperti putri sendiri.


Hari mulai gelap, ketiga gadis itu sudah berada di dalam kamar Dita. Mereka bertiga merebahkan tubuh mereka di atas kasur yang tak terlalu besar. Dita berada di tengah dan memeluk Indhi, ia belum juga berhenti menangis, padahal sudah satu jam lamanya gadis itu menangis.


"Sudah jangan menangis lagi. Bajuku basah terkena air mata dan juga ingusmu," celoteh Indhi meledek sahabatnya.


"Biar saja, nanti aku belikan baju yang baru. Aku tidak bisa berhenti menangis," jawab Dita dengan suara sesegukan.


"Ndi, dia mulai sombong. Mentang-mentang akan di nikahi oleh orang kaya," sahut Arum yang ikut menggoda sahabatnya.


"Hahah," Indhi dan Arum tertawa bersama dan membuat Dita menghentikan tangisannya. Gadis itu menyeka air matanya dan menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Kenapa kalian tertawa," tanya Dita.


"Aku penasaran, bagaimana kamu bisa menikah dengan musuh bebuyutanmu?" tanya Arum, sebelum mereka berselisih paham, Dita memang kerap menceritakan jika ia dan Dokter Aditya adalah musuh karena setiap bertemu mereka pasti akan berdebat.


"Semua gara-gara alkohol sialan itu," gerutu Dita mengingat kembali malam saat dirinya mabuk.


"Alkohol? Kamu mabuk?" tanya Arum lagi yang semakin penasaran.


"Hem. Malam itu aku tidak sengaja mabuk dan entah bagaimana aku bisa berakhir di kamar pria itu dan kami melakukannya tanpa sadar," jelas Dita, namun anehnya tak ada kesedihan lagi di wajahnya karena ia sudah menerima pernikahannya bersama Dokter Aditya.


"Bagaimana rasanya Dit?" tanya Arum tak terduga, gadis itu bahkan memasang wajah serius saat menanyakan hal tersebut.


"Rasanya apa?" tanya Dita yang belum mengerti maksud pertanyaan Arum.


"Rasanya bercinta," kata Arum dan sontak membuat Indhi dan Dita menebuk dahinya sendiri.


"Jadi bagaimana rasanya, aku pemasaran?" sambung Arum yang belum menyerah.


"Aku tidak ingat rasanya seperti apa," jawab Dita jujur karena ia memang tak ingat dengan kejadian malam itu.


"Rasanya mmm nikmat," sahut Indhi dengan senyuman yang sukar di jelaskan. Kedua gadis yang berada di sebelahnya sontak menoleh dan menatap Indhi penuh pertanyaan.


"Nikmat? Kamu bohong. Jelas-jelas aku kesakitan saat pagi hari. Aku bahkan sampai kesulitan berjalan," Dita meragukan ucapan Indhi.


"Jadi nikmat atau sakit?" sela Arum yang malah semakin di buat bingung.


"Awalnya sakit tapi lama-lama bikin ketagihan," ujar Indhi dan kembali tersenyum.


"Sepertinya dia sudah bucin dengan suaminya," seloroh Dita sambil menyikut Arum.


"Lihat saja wajahnya, dia seperti bocah ABG yang sedang kasmaran," sambung Arum.


"Jangan begitu, nanti kalau kalian sudah merasakannya juga akan setuju dengan pendapatku. Kalian pasti ketagihan," Indhi kembali meracuni otak kedua sahabatnya, wanita itu bahkan tersenyum jahil setelah mengucapkan kalimatnya.


Malam semakin larut, Indhi dan Arum sudah pulang ke rumah masing-masing. Indhi sekarang sudah berada di rumahnya dan menunggu kepulangan sang suami. Wanita itu duduk di ruang keluarga seraya menonton drama Korean favoritnya.


"Sudah jam sebelas malam, kenapa kak Ega belum pulang?" gumamnya sambil sedikit mendungak mengamati jam dinding yang terpasang di atas televisi.


Indhi kambali menunggu dengan resah, ia bahkan melewatkan tontonannya dan memilih mondar-mandir di ruangan tersebut, sesekali ia ke pergi ke ruang tamu dan mengintip dari kaca namun yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang.


Lelah mondar-mandir, Indhi kembali duduk di sofa. Ia lalu meraih ponsel dan menghubungi suaminya. Namun hingga panggilan ke tiga tak ada jawaban dari Ega, akhirnya Indhi hanya mengirim pesan saja.


'*Kak, kenapa belum pulang?'


'Kak, balas pesanku*!!!!!!!!!!!!!'


Hingga matanya terpejam belum ada satupun pesan balasan dari Ega. Hingga satu jam kemudian, saat Indhi sudah terlelap di atas sofa, pria yang di tunggunya datang.


Wajah lelah Ega seketika pudar saat melihat Indhi yang menunggunya dan bahkan sampai ketiduran di sofa. Pria itu tersenyum lalu menghampiri sang istri.


"Sayang, aku pulang," bisik Ega pelan, pria itu mengecup lembut kening istrinya.


Indhi menggeliat saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh keningnya, gadis itu membuka matanya dan tersenyum saat melihat wajah sang suami. "Hay hubby, kenapa baru pulang?" tanyana dengan suara serak.


"Maaf, aku ada operasi mendadak yang tidak bisa di gantikan oleh orang lain," jawab Ega seraya merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Aku sangat khawatir, kenapa tidak menjawab telefon dan juga pesanku?"


"Maaf. Ponselnya aku tinggal di ruanganku."


"Lain kali jangan bikin aku khawatir lagi ya!" pinta Indhi dengan wajah menggemaskan.


"Baik nyonya."


Ega tersenyum lebar, pria itu lalu mematikan televisi yang sejak tadi masih menyala. Tanpa di duga Ega mengangkat tubuh Indhi dari atas sofa.


"Kak turunkan aku," pekik Indhi, namun reflek tangannya melingkar di leher Ega.


"Sebagai bentuk permintaan maafku karena sudah membuatmu khawatir," jawab Ega dengan lembut.


"Baiklah kalau begitu. Aku sangat suka saat kakak menggendongku seperti ini," Indhi lalu menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, aroma tubuh sang suami selalu membuatnya merasa nyaman, padahal Ega pasti belum mandi seharian ini, tapi tetap saja bagi Indhi aroma tubuh Ega adalah candunya.


Setelah sampai di kamar, Ega lalu merebahkan istrinya di atas tempat tidur mereka, Ega kembali mengecup kening istrinya dengan lembut. "Tidurlah, aku akan mandi sebentar," ucap Ega, pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Indhi menatap punggung suaminya, ia kembali merasa bersyukur karena Tuhan mengirim Ega untuknya. Sosok seorang pria yang selalu menjadi apapun yang Indhi butuhkan. Pria yang bukan hanya menjadi suaminya, namum Ega tetap berperan seperti seorang kakak yang selalu melindungi adiknya, seorang ibu yang selalu mencemaskan putrinya dan seorang sahabat yang akan setia mendengarkan setiap masalahnya.


Indhi pernah menapaki jalan yang terjal untuk sampaia di titik ini. Ia sering mengeluh dan menyalahkan takdir Tuhan yang menurutnya terlalu berat. Namun, ketika ia sampai pada tujuan yang Tuhan rancang untuknya, tak henti-hentinya Indhi bersyukur karena rupanya rencana Tuhan lebih Indah dari bayangannya. Tuhan memberi apa yang Indhi butuh, bukan yang dia mau.


Seberat apapun masalah hidupmu, percayalah, Tuhan hanya sedang menjadikanmu lebih kuat. Jangan pernah menyerah, rencana Tuhan yang begitu indah sedang menantimu di depan sana.


Tetap semangat, jalani hidupmu dengan senyuman dan keikhlasan.


Bersambung...