Marry me, Brother

Marry me, Brother
Ega kembali



Waktu terus bergulir, tak terasa sudah tiga bulan semenjak kepergian tuan Hendarwan. Kepergian pria tua itu tentu saja merubah banyak hal dalam hidup Ega dan Dokter Aditya. Ega yang awalnya telah mengundurkan diri kini kembali ke rumah sakit, bukan hanya sebagai Dokter Ahli Bedah terbaik, Ega kini juga merangkap menjadi pimpinan di rumah sakit menggantikan tuan Hendarwan.


Lalu bagaimana dengan Dokter Aditya?


Ya, pria itu memilih tetap menjadi seorang dokter karena sejak awal ia tak tertarik dengan managemen rumah sakit. Selama hampir satu bulan lamanya Dokter Aditya membujuk Ega agar pria itu mau meneruskan kepemimpinan tuan Hendarwan, dan dengan segala cara akhirnya Ega bersedia demi kelangsungan rumah sakit mereka.


"Aku menyerah," ucap Ega seraya melempar beberapa dokumen ke atas meja.


"Ayolah kawan, ini baru dua bulan sejak duduk di kursi ini. Aku yakin kamu pasti bisa," bujuk Dokter Aditya, keduanya kini berada di ruangan yang dulu di tempati tuan Hedarwan.


"Aku tidak mengerti bisnis Dit, bisa-bisa rumah sakit ini tutup di tanganku," keluh Ega seraya memijat pangkal hidungnya. " Kenapa kita tidak mencari orang yang ahli dalam mengurus management rumah sakit, maksudku kita bisa membayar tenaga ahli untuk menjadi pimpinan rumah sakit ini?"


"Yang benar saja kamu ini, bisa-bisa pemilik saham yang lain akan mengamuk. Mereka menunjuk mu karena mereka tau kamu pasti bisa. Sudahlah jangan mengeluh!"


"Kenapa bukan kamu saja yang duduk di sini. Aku menyesal termakan rayuanmu!" sungut Ega kesal, namun pria itu kembali meraih dokumen yang tadi ia lemparkan dan kembali membukanya. "Aku pasti bisa," batinnya seraya membaca laporan keuangan rumah sakit.


Sementara di sisi lain rumah sakit, Indhi dan Dita sedang duduk di taman rumah sakit seraya menikmati makam siang mereka. Keduanya memilih makan di taman karena tak ingin mendengar cibiran dari beberapa perawat tentang kehamilan Dita. sampai detik ini belum ada yang tau jika Dita sudah menikah dengan Dokter Aditya sehingga kehamilan Dita membuat heboh rumah sakit, bagaimana mungkin seorang perawat yang belum menikah tiba-tiba hamil? begitulah yang ada di pikiran rekan dokter dan perawat yang mengenal Dita.


"Kenapa kamu tidak bilang saja si kalau kamu sudah menikah!" ucap Indhi setelah menghabiskan dua porsi beef teriyaki kesukaannya, semenjak morning sickness nya hilang, nafsu makan Indhi menjadi berkali-kali lipat, mungkin karena ada dua bayi di perutnya.


"Biarkan saja, dengan begini aku jadi tau mana yang tulus berteman denganku dan mana yang tidak," jawab Dita santai. "Usia kandungan kita hampir sama, tapi kenapa perutku lebih besar sih," Dita mengalihkan topik pembicaraan mereka, ia lalu meraba perut Indhi yang sudah mulai membesar.


"Bayiku ada dua, tentu saja perutku lebih besar," sahut Indhi..


"Ah iya, aku lupa jika bayimu kembar," Dita terkekeh, lalu ia mengelus perutnya sendiri yang sudah tidak rata lagi, kini kehamilannya memasuki bulan ke lima.


"Dit, apa Arum masih sedih karena belum juga hamil?" Indhi menatap sahabatnya dengan serius, pasalnya Arum selalu saja mengeluh karena dia belum juga hamil.


"Beberapa hari ini dia tidak menghubungiku, apa dia menelfon mu?" Dita menoleh ke samping, menatap wajah Indhi yang di ikuti kekhawatiran.


"Kemarin dia mengirim pesan, katanya ingin melakukan prosedur bayi tabung."


"Bayi tabung? ulang Dita dengan wajah terkejut.


"Iya, padahal aku sudah bilang, prosesnya akan sangat panjang dan melelahkan. Aku juga menyarankan agar dia sabar karena mereka baru menikah selama empat bulan!"


"Kau benar. Sebaiknya kita kembali bekerja sekarang!"


Kedua wanita hamil itu lalu meninggalkan taman setelah menghabiskan makanan mereka, keduanya berjalan beriringan menuju tempat mereka bekerja.


"Eh lihat tu, Dokter Indhi kok masih mau ya berteman sama Dita, padahal Dita dulu sudah jahat kepadanya," ujar seorang perawat saat melihat Indhi dan Dita berjalan beriringan.


"Iya bener, apa lagi Suster Dita kan lagi hamil, kok Dokter Indhi mau ya berteman sama wanita nggak bener. Bikin malu rumah sakit," sahut perawat yang lainnya.


"Siapa yang kalian sebut membuat malu rumah sakit?"


Empat orang perawat yang sedang bergosip itu sontak berbalik, betapa terkejutnya mereka saat mereka melihat Dokter Aditya dan Ega berdiri di hadapan mereka. belum lagi tatapan Dokter Aditya yang begitu tajam seolah menusuk ke empat perawat itu.


"Eh, anu dok. Kita lagi ngomongin Suster Dita yang hamil di luar nikah. Apa rumah sakit tidak akan memecatnya, perawat yang hamil di luar nikah akan mencoreng nama baik rumah sakit ini dok,"ucap salah seorang perawat dengan berani.


"Hamil di luar nikah?" ulang Dokter Aditya sambil melotot.


"Benar dok, Sister Dita hamil padahal dia belum menikah!"


"Dari mana kalian tau kalau Suster Dita belum menikah?" tanya Ega yang sejak tadi memilih diam.


"Mm, anu dok," perawat tersebut gugup saat akan menjawab pertanyaan Ega.


"Jika kalian tidak tau kebenarannya lebih baik kalian diam. Mungkin saja Suster Dita sudah menikah tapi tidak ingin memamerkan suaminya," ucap Ega berusaha membela Dita, meski sempat terjadi masalah di antara mereka namun kini Dita sudah menjadi istri dari sahabat yang merangkap menjadi saudara sepupunya.


"Kalau kalian masih bergosip lebih baik kalian mengundurkan diri saja," tegas Dokter Aditya denah kilat amarah di matanya, rasanya ingin sekali dia mengatakan jika Dita adalah istrinya, namun dia mengingat jika Dita masih belum ingin mengungkapkan hubungan mereka.


"Maaf dok, kami tidak akan mengulanginya lagi, kami permisi!" ke empat perawat itu pergi dengan cepat karena takut dengan ancaman Dokter Aditya.


"Lebih baik kalian mengumumkan hubungan kalian secepatnya, kasihan istri mu, dia pasti tertekan!" ucap Ega memberi saran.


"Ya, sepertinya begitu Vin!"


BERSAMBUNG...