Marry me, Brother

Marry me, Brother
Sweet dream wife



Sepulang kerja, Ega benar-benar menepati janjinya, pria itu bahkan tidak hanya membelikan sepotong cake cokelat kesukaan istrinya, Ega membelikan satu loyang ukuran sedang cake yang begitu di gilai oleh Indhi.


Indhi tak bisa menahan rasa senangnya, selama perjalanan pulang air liurnya tak berhenti menetes, mencium aromanya saja sudah membuat Indhi ingin segera menikmati cake tersebut.


Setibanya di rumah, Indhi segera ke dapur untuk memotong cakenya, namun saat ingin melahap makanan manis itu Ega menahannya.


"Mandi dulu, makannya nanti," ucap Ega seraya menuntun tangan Indhi untuk meletakkan kembali cake nya. wanita itu merengut kesal, namun ia mengikuti saran suaminya untuk mandi terlebih dahulu.


Setelah mandi, keduanya berada di ruang keluarga untuk menonton film bersama dengan di temani cake yang mereka beli serta secangkir lemon tea hangat buatan Ega. Namun bukannya fokus menonton, Indhi malah sibuk mengunyah makanan yang sejak tadi sangat di dambanya.


"Apa sangat enak?" tanya Ega, tangannya terulur untuk menyeka sisa cokelat yang menempel di bibir Indhi dan kemudian pria itu menjilat jemarinya yang terkena noda cokelat tersebut.


"Kakak jorok," kata Indhi saat memperhatikan suaminya.


"Kita bahkan bertukar segalanya, sisa cokelat yang menempel di bibirmu bukanlah apa-apa sayang," sahut Ega dengan mengerlingkan sebelah matanya.


Seketika Indhi merona malu, kalimat bertukar segalanya membuat wanita itu mengingat aksi panas mereka saat berada di atas ranjang.


"Sayang," panggil Ega dengan lebut.


"Ya," Indhi kembali gugup, panggilan sayang Ega selalu sukses membuatnya salah tingkah.


"Ada yang ingin aku bicarakan. Tapi aku harap apa yang akan aku katakan tidak merusak mood baikmu."


"Hem, katakan," ujar Indhi seraya menyeruput lemon tea hangat yang berhasil membuat tubuhnya ikut merasa hangat.


"Adit akan menikah," ucap Ega, pria itu berencana memberi tahu mengenai masalah Dokter Aditya dan Dita.


"Really? Kak Adit mau nikah? Sama siapa kak? Astaga, aku nggak percaya kak Adit mau nikah," sahut Indhi dengan mata membesar sempurna, wanita itu nampak begitu girang mendengar kabar bahagia tersebut.


"Masalahnya Adit menikah bukan karena mereka saling mencintai. Adit mabuk dan merenggut kesucian calon istrinya itu," jelas Ega lebih rinci.


Indhi membekap mulutnya, wajah sumringahnya tergantikan dengan raut terkejut. Bagaimana bisa seorang Aditya Syahputra melakukan hal itu? Begitulah yang kini memenuhi kepala Indhi.


"Lalu siapa calon istrinya kak?" tanya Indhi setelah menekan rasa terkejutnya, wanita itu jadi penasaran dengan wanita malang yang sudah di tiduri oleh Dokter Aditya.


"Dita," jawab Ega ragu-ragu.


"Dita?" ulang Indhi, wanita itu masih belum memikirkan jika Dita yang Ega maksud adalah Dita sahabatnya.


"Ya Dita. Sahabat lamamu. Dia bahkan di usir dari rumah karena kedua orang tuanya mengetahui hal tersebut," sambung Ega.


Indhi hanya bisa menunduk lemah, kedua tangannya saling meremas. Ia kalut, perasaannya berkecamuk. Mendengar pernyataan Ega membuat Indhi merasa sangat kasian dengan sahabatnya itu. Ingin rasanya ia mendatangi Dita dan memberikan support untuknya, namun rasa kecewa yang begitu besar membuat Indhi belum mampu untuk bertemu dengan Dita.


"Dimana dia sekarang?" tanya Indhi dengan mata berair.


"Dia di apartemen Adit sekarang. Jangan khawatir, dia berada di tempat yang aman," Ega menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, pria itu seolah tau apa yang sedang di rasakan oleh istrinya. "Apa kamu mau menemuinya? Dia pasti sangat membutuhkan kalian sekarang," imbuh Ega memberi saran kepada istrinya.


"Aku nggak tau kak, aku masih kecewa dengan Dita."


Indhi hanya diam, memikirkan semua ucapan suaminya. Namun rasa sakit saat Dita berniat merebut Ega membuat egonya kembali muncul, Indhi kembali merasa jengkel kepada Dita.


"Aku tidak memaksa. Aku hanya memberi saran kepadamu sayang," imbuh Ega seraya mengecup pucuk kepada istrinya.


"Hem, aku tau. Aku akan memikirkannya kak. Sekarang aku ngantuk dan ingin tidur," ucap Indhi yang masih menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


Ega hanya bergumam, detik selanjutnya pria itu mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya ala pengantin, Indhi yang kaget segera mengalungkan tangannya di leher sang suami, namun tetap saja posisi wajahnya tak berubah, masih setia mengendus wangi tubuh suaminya.


Setibanya di kamar, Ega segera merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang mereka, pria itu juga menutup tubuh istrinya dengan selimut.


"Sweet dream wife," ucapnya begitu lembut, tak lupa sebuah kecupan mendarat di kening istrinya.


"Nice dream hubby. I love you," balas Indhi tak kalah romantis, gadis itu menangkup wajah suaminya dan memberikan kecupan di bibir Ega.


"Love you more," setelah ucapan cinta yang terdengar manis dari mulut mereka, kini keduanya telah bersiap mengarungi mimpi indah mereka. Indhi nampak begitu nyaman saat Ega memeluknya dari belakang, rasanya begitu hangat dan menenangkan.


Sementara di tempat lain, Dokter Adiya benar-benar pulang ke rumah kedua orang tuanya untuk meminta restu. Hanya saja saat ia sudah duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya, tiba-tiba lidahnya menjadi kelu, pria itu melupakan semua rangkaian kalimat yang sudah di susunnya sejak pagi.


"Ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan kepada kami?" tanya tuan Hendarwan Syahputra, pemilik Rumah Sakit tempat Indhi dan Dita bekerja.


"Ada apa Dit, tumben sekali kamu pulang. Mama jadi takut. Kamu tidak bikin masalah di luar kan?" sela wanita paruh baya yang tak lain mama dari Dokter Aditya.


Dokter Aditya menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. "Adit mau menikah!" ucapnya dengan lantang meski harus memejamkan matanya.


"Menikah?" ulang kedua orang tuanya bersamaan.


"Iya mah, ia pah," sahutnya sambil tersenyum getir.


"Kapan, dengan siapa? Ah tidak-tidak, mana calon istrimu? Kamu tidak sedang membohongi kami kan?" cecar mama Mayang.


"Namanya Dita. Dia perawat di Rumah Sakit kita," dokter tampan itu mulai memperkenalkan calon istrinya meski orangnya tidak ia bawa.


"Oh jadi ini alasanmu menyuruh bagian HRD untuk menolak surat pengunduran diri dari perawat itu?"


"Papah tau?" tanya Dokter Aditya gugup.


"Tentu saja. Apa kamu lupa siapa papah mu ini? Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya tuan Hendarwan.


"Kalian menerimanya kan meski dia cuma seorang perawat?"


"Nak, apa kami pernah mengajarimu untuk membeda-bedakan manusia. Di mata Tuhan manusia itu sama. Asal kamu bahagia bersama gadis pilihanmu, kami pasti akan mendukung dan memberikan restu kepada kalian," ujar mama Mayang dengan bijak.


"Kapan kamu akan mengenalkannya kepada kami?" tanya tuan Hendarwan tak sabar ingin bertemu dengan gadis yang berhasil menakhlukan putra semata wayangnya itu.


"Secepatnya pah."


BERSAMBUNG...