
Setelah selesai bekerja Ega tak langsung pulang karena ia akan menemui Psikiater seperti yang di sarankan Aditya. Ega mengirim pesan kepada Indhi dan menyuruhnya untuk pulang lebih dulu dengan alasan ia masih memiliki beberapa pekerjaan.
Tak ingin membuang banyak waktu, Ega segera menemui Psikiater yang di rekomendasikan oleh sahabatnya. Tempat prakter Psikiater tersebut tak terlalu jauh dari Rumah Sakit tempatnya bekerja sehingga memudahkan Ega untuk sekedar konseling.
Karena sudah membuat janji, Ega segera di arahkan masuk oleh salah satu perawat untuk menemui Psikiater yang akan membantunya. Awalnya Ega sedikit ragu, namun demi kelangsungan pernikahannya Ega mengabaikan rasa malunya dan membulatkan tekad untuk menemui Psikiater tersebut.
Ketiga Ega masuk ke dalam ruangan, seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan tahun menyambutnya dengan ramah, Ega meyakini jika wanita itu adalah Psikiater yang akan di temuinya.
"Silahkan duduk pak," ucap wanita itu ramah.
"Terimakasih dok," Ega menarik kursi yang duduk di hadapan Psikiater wanita itu.
"Perkenalkan saya Anita, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Psikiater bernama Anita itu.
"Begini dok, saya baru saja menikah dengan adik angkat saya. Saya sudah menyukainya sejak lama dan karena kondisi tertentu akhirnya kami menikah."
"Selamat atas pernikahan anda, lalu apa masalahnya?"
"Istri saya berjanji untuk mencintai saya dan berusaha menjadi istri yang baik. Dia bahkan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan melayani saya. Saat istri saya sudah siap, kami memutuskan untuk berhubungan badan. Karena ini yang pertama untuk kami, saya melihat istri saya menangis saat kami berhasil menyatu dan tiba-tiba saya mengalami disfungsi ereksi." jelas Ega panjang lebar, sementara Dokter Anita hanya mendengarkannya dengan seksama.
"Apa anda dan istri anda memiliki hubungan yang cukup dekat sebelum menikah? Maksud saya hubungan antara kakak dan adik?"
"Kami sangat dekat dok, 26 tahun saya menjadi kakaknya."
"Apa adik anda pernah mengalami sesuatu yang membuatnya tak berhenti menangis?" selidik Dokter Anita.
Ega menerawang jauh, memorinya kembali melanglang buana ke kejadian masa lalu saat Zean meninggal, saat itu Indhi begitu hancur dan bahkan sempat akan mengakhiri hidupnya, sejak saat itu Ega bertekad untuk tidak membuat adiknya menangis lagi.
"Empat tahun lalu di hampir bunuh diri karena kekasihnya meninggal, sejak saat itu saya melakukan apa saja asal tak melihatnya menangis."
"Begini pak, menyukai dan mengasihi seseorang adalah hal yang wajar. Namun jika rasa suka itu berlebihan maka akan berdampak buruk pada kondisi psikologi seseorang. Dari cerita anda, saya dapat menyimpulkan jika anda terlalu menyayangi adik yang kini menjadi istri anda, anda berusaha untuk membuatnya bahagia dan terobsesi untuk tidak membuatnya menangis. Perlu di ingat pak, tidak semua air mata adalah simbol kesedihan, saat seseorang terlalu bahagian dia juga akan menangis sebagai respon alami tubuhnya. Cobalah untuk mengurangi respon berlebihan anda. Saya sangat menghargai besarnya cinta anda kepada istri, tapi saya tidak berharap rasa cinta dan ketakutan yang terlalu berlebihan dalam diri anda membuat anda dan istri merasa tidak bahagia."
***
Setelah menemui Dokter Anita, Ega akhirnya pulang ke rumah, pria itu segera mencari keberadaan sang istri di kamarnya. Di dalam kamar, Ega menemukan Indhi tengah berbaring di atas tempat tidur sambil menonton drama Korea favoritnya.
Ega menatap istrinya sejenak, wanita itu belum menyadari kehadiran suamunya, ia terlalu fokus mengikuti alur cerita drama yang sedang di tontonnya.
"Sayang," panggil Ega dengan lembut.
"Hem, sudah pulang," jawab Indhi tanpa menoleh sedikitpun.
"Sayang," ulang Ega karena istrinya tidak menoleh apalagi menatapnya.
"Apa kak? Cepat mandi dan makan, aku sudah masak makan malam untuk kakak," sahut gadis itu meski tatapannya fokus pada layar besar yang ada di hadapannya.
Karena merasa kesal Ega melangkahkan kakinya mencari remot dan mematikan televisi yang menyita perhatian istrinya. Indhi yang sedang asyik menonton itu menatap horor ke arah suaminya, wanita itu lalu bangun dan mengahmpiri suaminya yang berdiri tak jauh dari tempat tidur.
"Isss," Indhi mendesis kesal. "Jahil banget sih, mana remotnya kak?" tanyanya sambil mencari keberadaan remotnya.
"Nanti aja ya, sebentar lagi filmnya selesai," bujuk Indhi agar suaminya mau menghidupkan kembali televisinya.
"Hanya sebentar sayang," wajah Ega yang tampak serius membuat Indhi akhirnya mengalah, gadis itu lalu duduk di atas tempat tidur sambil menatap wajah suaminya.
"Ada apa?" tanyanya sok cuek, padahal ia mulai khawatir sejak perubahan mimik wajah suaminya.
Ega duduk berlutut di hadapan istrinya, wanita itu begitu terkejut karena tiba-tiba suaminya berlutut dan kini menggenggam tangannya dengan erat dan tatapannya begitu sendu.
"Ada apa kak?" kini Indhi menatap Ega dengan wajah khawatir.
"Aku baru saja mengunjungi Psikiater," ungkap Ega karena ia tak ingin merahasiakan apapun dari istrinya.
"Oh ya, lalu apa katanya?"
"Katanya aku terlalu terobsesi pada kebahagiaanmu, dia juga bilang jika air mata bukan hanya bentuk dari rasa sedih."
Indhi melepaskan genggaman tangan suaminya, ia lalu membawa kepala Ega tepat di atas pangkuanya. Perlahan tangan mungilnya mulai mengusap rambut sang suami. "Aku sungguh baik-baik saja sekarang kak, aku sudah berjanji tidak aka menangis lagi kan? Aku akan menepati janjiku, tapi aku harap kakak juga melepaskan segala bentuk kekhawatiran kakak terhadapku," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ega tak mengatakan apapun, pria itu hanya bisa menitikan air matanya, ia tak menyangka rasa cintanya yang begitu besar kepada Indhi justru mempengaruhi kesehatan mentalnya, ia sungguh tak tau jika ketakutannya melihat Indhi menangis justru berdampak buruk untuk psikisnya.
"Cintai aku dengan sewajarnya dan selamanya kak. Aku akan baik-baik saja selama kakak bersamaku dan selalu mencintaiku."
Ega mengangkat kepalanya, buliran bening itu masih mengalir di wajah tampannya. Indhi sungguh tak suka melihat Ega menangis, wanita itu segera menghapus air mata dari wajah suaminya.
"Maafin aku," ucap Ega dengan suara serak.
"Tidak ada yang perlu di maafkan kak. Justru aku yang harus minta maaf kepada kakak, jika bukan karena aku, kakak tidak akan seperti ini."
"Tidak sayang, semua ini bukan salahmu. Aku akan memperbaikinya mulai sekarang."
Ega lalu berdiri dan menarik tubuh istri ke dalam pelukannya, pria itu memeluk istrinya dengan erat dan menumpahkan segala cinta yang di rasanya selama bertahun-tahun ini.
Lama saling memeluk, Indhi mengurai pelukan suaminya, wanita itu menatap wajah sendu suaminya. Tanpa berpikir panjang, Indhi berjinjit dan menarik tengkuk suaminya, bibirnya yang mungil ia benamkan di bibir suaminya. Awalnya hanya sebuah ciuaman sepihak, namun lama kelamaan Ega membalas ciuman istrinya, mulut Indhi yang terbuka memberikan akses lidah Ega untuk menjelajahi rongga mulut istrinya. Ciuaman yang awalnya lembut kini semakin menuntut, namun bukan pihak pria yang agresif, melainkan Indhi yang kini memegang kendali. Indhi mulai menggeser ciumannya, kini lidahnya bergerak nakal di leher hingga telinga sang suami, tak lupa tangannya mulai membuka kancing kemeja yang di pakai oleh Ega, saat kemeja itu terbuka, Indhi kembali memainkan lidahnya di dada bidang sang suami.
"Sayang hentikan, aku masih belum yakin bisa melakukannya sekarang," ucap Ega dengan suara berat, belaian Indhi serta permainan wanita itu sunggung menggugah hormon lelakinya.
"Aku akan membantu kakak sampai kakak siap."
Tanpa Ega sadari kini Indhi sudah berlutut di bawah kakinya, wanita itu juga sudah membuka celananya hingga pedang panjang itu terbebas dari tempatnya. Tanpa menunggu lama Indhi mulai memainkan pedang milik suaminya yang sudah sepenuhnya menegang.
"Sayang, Ahh....
(Dah tau ye kan mereka ngapain HAHAHA)
BERSAMBUNG...