
Seminggu kemudian...
Empat belas hari terlewati sudah, selama kurun waktu tersebut Indhi berjuang sekuat tenaga melawan virus yang menyerang tubuhnya. Empat belas hari yang akhirnya bisa Indhi lalui meski sempat kritis dalam beberapa hari. Dan empat belas hari itu pula, Indhi bertahan hanya demi dua orang yang kini amat berharga baginya, Ega serta bayi yang berada di dalam kandungannya.
Selama dua pekan Indhi tak bertemu Ega, rasa rindu begitu kuat di dalam hati, wanita hamil itu sedang menunggu hasil tes untuk memastikan apakah ia masih terinfeksi virus atau tidak. Setelah beberapa waktu menunggu, Indhi dan empat pasiennya serta Suster Lina di nyatakan negatif sehingga mereka di perbolehkan pulang setelah terkurung selama dua minggi di Rumah Sakit.
Kepulangan Indhi tentu saja masih menjadi rahasia, wanita hamil itu tidak mengabari suami serta ibunya. Pukul sembilan pagi Indhi tiba di halaman rumahnya yang terlihat sepi.
"Sepi sekali, apa ibu sedang pergi?" gumamnya lalu ia mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka, bi Sumi berdiri di ambang pintu seraya membekap mulutnya, saking senangnya bahwa Indhi pulang, bi Sumi bahkan sampai memeluk wanita hamil itu.
"Non baik-baik saja kan?" bi Sumi mengurai pelukannya dan mengamati tubuh Indhi dari ujung kaki hingga kepala. "Kenapa non jadi kurus, apa pihak Rumah Sakit tidak memberikan makanan yang layak untuk non?" tanyanya lagi karena memang Indhi terlihat lebih kurus.
"Indhi baik-baik aja sekarang bi. Selama di karantina, aku tidak doyan makan jadinya kurus deh, tapi mulai hari ini aku akan makan banyak karena bibi yang memasaknya," jawab Indhi antusias, membayangkan masakan bi Sumi membuat air liurnya menetes.
Dari arah dalam terdengar langkah kaki mendekat. "Siapa yang datang bi?" tanya si pemilik langkah kaki, setibanya di depan pintu wanita pemilik langkah tersebut segera menangis setelah melihat putrinya telah pulang.
"Astaga sayangku, akhirnya kamu pulang juga nak, ibu sangat khawatir. Kamu baik-baik saja kan selama di sana?" ucap bu Tika penuh rasa syukur, wanita itu lalu memeluk putrinya dengan erat.
Indhi membalas pelukan ibunya, wanita hamil itu mengusap punggung bu Tika dengan pelan. "Aku baik-baik saja bu, aku sedah sehat sekarang," jawab Indhi.
"Syukurlah. Lalu bagaimana dengan calon cucu ibu?" bu Tika melepas pelukannya, kini tangannya berpindah pada perut yang masih rata milik Indhi.
"Dia juga baik-baik saja bu, dia berjuang demi tetap bersamaku."
"Syukurlah. Sekarang masuk dan istirahat, biar bi Sumi memasak makanan kesukaanmu!"
Tak henti-hentinya kalimat syukur terucap dari mulut bu Tika atas kesembuhan anaknya, belum lagi kehamilan Indhi membuat bu Tika yakin jika Indhi baik-baik saja sekarang,
"Kakak kerja bu?" tanya Indhi begitu mereka masuk ke dalam rumah.
"Iya, ada jadwal operasi katanya," jawab bu Tika.
"Bu tolong bilangin bi Sumi ya, buatin bekal makan siang buat kak Ega!" pinta Indhi sambil tersenyum sehingga bu Tika tak mungkin menolaknya.
Indhi memutuskan pergi ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat sebentar sebelum nanti siang ia akan ke Rumah Sakit dan membawakan bekal makan siang untuk suaminya.
Satu jam lebih Indhi tertidur di kamarnya, tepat pukul sebelas siang ia bersiap menuju Rumah Sakit dengan membawa dua kotak bekal untuknya dan untuk sang suami.
"Ayo kita susul dady," gumamnya seraya mengelus perutnya yang masih rata.
Indhi mengelurkan cermin dari tas kecil yang di bawanya, ia memeriksa riasan tipis di wajah serta lipstik warna nude yang menyatu sempurna dengan bibir berwana peach miliknya. "Mamy sudah cantik kan nak?" tanyanya pada jabang bayi yang ada di dalam perut.
Setelah bercermin dan memastikan dandanannya rapi, Indhi melangkah maju mendekati pintu yang tak sepenuhnya tertutup, saat ia hendak meraih kenop pintu tersebut ia mendengar sebuah suara yang amat di kenalinya tersebut.
"Aku bawakan makan siang untuk kakak," ucap sebuah suara di dalam ruangan Ega.
"Dit, aku sudah bilang kemarin kan? Berhenti memberiku kotak bekal, sikapmu akan menimbulkan gosip di luar sana!" jawab Ega penuh penekanan.
"Aku tidak peduli orang lain akan berfikir bagaimana, aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan kak," elak Dita sesuka hati.
"Tapi yang kamu lakukan membuat aku tidak nyaman Dit. Ingat, aku sudah menikah dan sikapmu bisa saja membuat Indhi salah paham," kini Ega mulai menaikkan volume suaranya.
"Biar saja Indhi salah paham kalau perlu biar dia ninggalin kakak. Sadar kak,Indhi sama sekali tidak mencintai kakak, seharusnya kakak tau kalau hanya aku yang mencintai kakak dengan tulus," ujar Dita tak kalah keras suaranya.
Di depan pintu, Indhi masih terpaku dan belum bisa mencerna maksud perkataan sahabatnya.
"Aku tidak peduli jika Indhi tidak mencintaiku, yang aku tau aku hanya mencintai dia bahkan saat kita bersama dulu. Aku hanya mencintai Indhi, ingat itu!"
Mendadak Indhi merasa sekujur tubuhnya melemah, bahkan kini kedua kaki yang menopang tubuhnya pun mulai bergetar hebat, wanita itu berkedip dengan sangat cepat guna menahan air matanya yang akan segera tumpah. Berbagai macam pertanyaan kini memenuhi kepala Indhi.
"Dita mencintai kak Ega? Sejak kapan, kenapa aku tidak pernah tau?"
"Lalu apa maksud perkataan kak Ega, jadi mereka pernah bersama? Mereka pernah menjalin kasih? Kapan? Kenapa aku tidak tau?
"Kenapa dulu Dita diam saja dan tidak mencoba untuk menahanku menikahi ka Ega? Lalu kenapa sekarang Dita seolah menginginkan kak Ega lagi?"
Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepala Indhi, sebelum jatuh di depan ruangan Ega, ia memilih untuk pergi meski dengan langkah tertatih.
Indhi mengatur nafasnya untuk beberapa saat, setelah cukup tenang ia berniat menemui Arum di kantornya, mungkin saja dengan berbagi bersama Arum sesak di dadanya akan berkurang.
Sementara di dalam ruangan Ega, kedua orang itu masih bersitegang, keduanya saling menatap dengan sorot mata saling berlawanan. Manik berwarna cokelat milik Ega tak bisa menyembunyikan amarah serta rasa kecewanya kepada gadis yang kini berdiri di hadapannya, sementara Dita menatap Ega dengan tatapan memohon.
"Mulai sekarang jangan pernah temui aku lagi. Aku kira kamu gadis yang baik, tapi ternyata aku salah! Keluar dari ruanganku sekarang!" usir Ega seraya menunjuk pintu keluar, rasanya ia muak berlamaan dengan Dita di dalam ruang yang sama.
"Aku belum menyerah kak," ujar Dita sebelum keluar dari ruangan itu.
"Sial," umpat Ega sambil berkacak pinggang, ia sungguh khawatir hubungannya dan Dita di masa lalu akan di ketahui Indhi.
BERSAMBUNG...