
"Istirahat? Enak saja. Aku akan membuatmu menjerit sepanjang malam." Dion mengangkat sudut bibirnya, senyuman mesyum terbit di bibirnya tanpa di sadari oleh Arum.
Setelah selesai membersihkan diri, Dion keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe berwarna putih, pria itu melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat di mana istrinya berada.
Dion duduk di bibir ranjang, bohong rasanya jika ia tidak merasa gugup. Meski umurnya sudah dewasa dan pernah hidup di luar negeri, namun Dion belum pernah melakukan hubungan intim dengan lawan jenis.
"Sudah mandi?" tanya Arum setelah menyadari kedatangan suaminya.
"Hem," Dion hanya bergumam, ia sedang berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Tarik nafas Dion, malam ini waktunya," batinnya menenangkan diri.
"Kak," panggil Arum, suaranya terdengar begitu lembut dan menggoda.
"Ya," sahut Dion dengan segera. "Kamu menginginkan sesuatu?" tanyanya penuh harap.
"Hem,"gumam Arum.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Dion lagi, ia berharap jika Arum meminta sesuatu seperti apa yang ada di dalam kepalanya.
"Aku lapar."
Glek...
Dion menelan salivanya dengan kasar, wajahnya yang tadinya bersemangat tiba-tiba layu begitu mendengar permintaan istrinya.
"Sabar Dion, sabar. Lebih baik memang makan dulu supaya nanti kuat bergulat di atas kasur," ucap Dion yang tentu saja hanya di dalam hati.
"Aku pesankan sebentar. kamu mau makan apa?"
"Apa aja kak, asal kenyang."
Dion lalu menghubungi servis room untuk memesan makan malamnya bersama Arum. Setengah jam kemudian seorang pelayan mengantarkan makan malam mereka, keduanya pun menikmati waktu mereka dengan bahagia.
"Makan malam pertama bersama istri tercinta," ucap Dion yang terdengar seperti sebuah gombalan.
"Memangnya kakak mencintaiku?" tanya Arum dengan wajah berbinar, berharap sang suami akan kembali mengucapkan kata I LOVE YOU.
"Tidak," sahut Dion dengan wajah tanpa dosa, jawaban singkatnya tentu saja membuat Arum kesal. "Kalau aku tidak mencintaimu untuk apa aku menikahimu. Jangan terlalu berpikir berlebihan, kamu tau sendiri aku bukan tipikal orang yang romantis, tapi kamu harus selalu ingat ini, aku mencintaimu."
Arum mengulum bibirnya, saking senangnya ia tak bisa menahan senyumannya, pengakuan Dion tentu saja membuatnya berdebar-debar, bahkan kini telinganya sangat merah.
"Cepat makan, setelah itu kita bermain," ucap Dion yang sejak tadi gemas melihat ekspresi wajah istrinya, jika di biarkan terlalu lama, ia khawatir akan menelan Arum saat ini juga.
"Main apa?"tanya Arum dengan polosnya.
"Gulat."
Arum hanya mengangguk-anggukan kepalanya seolah tau apa yang di maksud 'gulat' oleh suaminya, padahal 'gulat' yang di maksud Dion berbeda arti dengan 'gulat yang di pikirkan Arum.
Selesai makan, keduanya duduk di atas tempat tidur dengan bersandar pada headboard, keduanya nampak canggung.
"kak," panggil Arum.
"Ya," Dion menoleh ke arah istrinya, berharap sang istri akan mengajaknya bermain gulat.
"Sudah malam, mari istirahat," Arum membenahi posisinya, gadis itu merebahkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut tebal.
"Rum," kini guliran Dion yang memanggil istrinya.
"Apa kak?" tanya Arum tanpa merubah posisinya.
"Ini malam pengantin kita. Apa aku tidak boleh meminta hak ku?" entah keberanian dari mana, tiba-tiba saja Dion meminta hak nya sebagai seorang suami.
Arum memiringkan tubuhnya menghadap sang suami, gadis itu menatap suaminya dengan tatapan yang sukar di jabarkan. "Aku takut kak," ujar Arum dengan wajah menegang.
"Katanya rasanya sakit saat pertama kali."
"Aku akan melakukannya dengan pelan."
Setelah terbujuk oleh rayuan maut suaminya, kini Arum pasrah saat Dion mulai menyentuh tubuhnya, bahkan saat Dion menciumnya, Arum mulai membalas dan mengimbangi ciuman Dion.
Setelah melakukan pemanasan, tiba saat yang di tunggu-tunggu. Dengan pelan Dion berusaha melakukan penyatuan dengan Arum, namun setelah di coba berulang kali tembakannya selalu tidak tepat sasaran.
"Kak sakit," jerit Arum saat ia merasakan sesuatu yang besar berusaha menerobos aset berharganya.
"Kak, aku tidak mau lagi," Arum mendorong tubuh Dion dengan kuat sehingga pria itu terjungkal ke belakang. Tanpa rasa bersalah Arum berlari masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Dion yang tengah meratapi nasib cacing Alaska miliknya.
"Ya setidaknya aku berhasil membuatmu menjerit," gumamnya seraya menunduk lemah, menatap iba pada cacing alaska yang masih menegang.
Hampir satu jam lamanya Arum berada di dalam kamar mandi, gadis itu sedang merutuki kebodohannya karena mendorong suaminya di tengah-tengah aktivitas panas mereka. "Dasar bodoh, padahal kan ini yang kamu inginkan sejak lama Rum," gumamnya seraya memukul kepala.
Setelah lama berdiam diri di kamar mandi, Arum memutuskan untuk keluar. Ia sudah memantapkan hati untuk melanjutkan aktivitas panas mereka, namun saat Arum keluar, ia mendapati suaminya yang sidah tertidur dengan pulas, bahkan Dion sudah berpakaian lengkap.
"Maaf kak," bisiknya penuh sesal, gadis itu lalu menyusul suaminya tidur.
Berbeda dengan kedua pengantin baru yang berada di hotel yang sama, Ega dan Indhi tengah berkeliling kota menggunakan motor sport sesuai keinginan istrinya. Mereka sebenarnya sudah pulang ke rumah setelah menghadiri acara pernikahan Arum, namun tiba-tiba Indhi merengek minta makan sate dan mau tidak mau Ega harus menuruti keinginan istrinya.
"Kak, di sana rame,kita makan di sana aja ya!" Indhi menepuk pundak Ega dan menunjuk penjual sate yang ada di pinggir jalan. Ega lalu memarkirkan motornya di tepi jalan.
Indhi turun dan motor dan segera memesan sate yang sejak tadi di idam-idamkannya. "Bang, sate kambingnya dua puluh tusuk pakai bumbu kecap, sate ayamnya sepuluh tusuk pakai bumbu kacang. Nasinya dua yang bang!"
Ega yang berdiri di belakang istrinya kaget mendengar pesanan sang istri. "Sayang, apa nggak kebanyakan?" tanya Ega karena khawatir mereka tidak bisa menghabiskannya.
"Tidak kak, aku ingin makan banyak malam ini."
Indhi dan Ega lalu duduk bersebelahan menunggu pesanan mereka. Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang, Indhi menatap dua piring sate yang membuat air liurnya hampir tumpah.
Ega merasa heran saat melihat Indhi makan dengan begitu lahap, biasanya Indhi memang lapah makannya, namun kali ini sepertinya terlalu lahap, Ega khawatir Indhi akan tersedak.
"Sayang, pelan-pelan makannya, nanti kamu tersedak!" ucap Ega mengingatkan sang istri.
Indhi menoleh ke arah suaminya, mulutnya masih penuh dengan makanan, dengan susah payah Indhi mengunyah makanannya. "Satenya enak banget," jawab Indhi tanpa memperdulikan wajah khawatir Ega.
"Tapi makannya pelan-pelan saja," Ega menyelipkan rambut Indhi ke belakang telinga, lalu ia kembali menikmati makanannya.
Saat sedang makan, tiba-tiba seorang wanita melewati mereka dan tak sengaja menjatuhkan dompet miliknya. Ega yang melihat itupun segera mengambil dompet tersebut dan menyerahkannya kepada pemiliknya.
"Maaf mba, dompetnya jatuh," seru Ega seraya memberikan dompet tersebut.
"Oh Astaga. Terima kasih banyak mas," ucap wanita itu dengan senyum yang begitu manis.
"Sama-sama mbak," balas Ega, tak lupa senyum manis juga membingkai wajah tampannya.
Interaksi Ega dan wanita itu tak luput dari perhatian Indhi, selera makannya tiba-tiba saja hilang. Indhi menatap suaminya kesal, ia tidak suka melihat Ega tersenyum kepada wanita lain.
"Kenapa tidak di habiskan?" tanya Ega setelah kembali ke kursinya.
"Kenyang," jawab Indhi ketus.
"Ini satenya masih banyak. Atau mau di bungkus aja?"
"Terserah!"
Ega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya, perasaan beberapa menit yang lalu Indhi masih asyik menikmati satenya.
Wanita memang sulit di mengerti, wanita itu rumit!
BERSAMBUNG...