
Berbeda dengan pasangan pengantin baru yang sedang sayang-sayangnya, sepulang kerja Dita menemui Bella di kantor polisi, entah apa yang di pikirkan Dita, namun gadis itu begitu ingin melihat Bella menderita. Setelah melewati beberapa proses, akhirnya Dita bertemu Bella, keduanya duduk saling berhadapan dengan tatapan yang saling menajam.
"Bagaimana kabar kakak?" tanya Bella lebih dulu, gadis itu masih memasah wajah sok polos dan sok ramah.
"Baik. Bagaimana denganmu?" jawab Dita sedikit ketus.
"Seperti yang kakak lihat, aku tidak baik-baik saja dan semua itu gara-gara Indhi," sahut Bella dengan rahang mengeras, di saat seperti ini ia masih saja menyalahkan Indhi, padahal jelas-jelas semua ini karena perbuatannya. Bella lalu meraih tangan Dita, gadis itu berusaha membodohi Dita lagi. "Tolong balaskan dendamku kak. Kita memiliki musuh yang sama kan? Singkirkan Indhi, dengan begitu kakak bisa memiliki Dokter Kevin sepenuhnya dan aku bisa membalas dendamku," ujarnya berapi-api.
Mendengar ucapan Bella sontak saja Dita menghempaskan tangan gadis itu, di tatapnya tajam gadis yang sudah membuatnya buta dan melupakan sahabatnya. "Kamu pikir aku mudah di bodohi? Cukup sekali aku menjadi orang bodoh karena terhasut omonganmu. Aku datang kemari hanya untuk memberitahumu bahwa aku akan menjadi saksi di persidangan nanti. Bersiaplah membusuk di penjara!" setelah mengucapkan kalimat panjang lebar itu, Dita beranjak dari duduknya, gadis itu berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Namun sebelum sampai di pintu langkahnya terhenti karena Bella kembali berbicara.
"Dasar gadis bodoh dan lemah. Pantas saja Dokter Kevin tak melirikmu sama sekali. Dan ingat ini Dita, kamu pikir setelah menjadi saksi di persidangan Indhi masih mau menerimamu menjadi sahabat?" kata Bella mencoba memprovokasi.
Dita menarik nafas dan menghembuskan perlahan, gadis itu memutar tubuhnya sehingga kembali bersitatap dengan Bella. "Tidak masalah jika Indhi tak menerimaku lagi, toh aku memang tidak pantas bersahabat dengannya. Asal kamu bisa masuk penjara, aku bersedia melakukan apapun!" Dita tersenyum, namun senyumannya terlihat mengejek dan membuat Bella marah.
"Breng*sek," umpat Bella, namun hal tersebut tak Dita hiraukan karena gadis itu segera pergi meninggalkan Bella.
Sepulang dari kantor polisi, Dita mendatangi bar yang biasa ia datangi bersama kedua sahabatnya. Mereka kerap pergi ke sana meskipun tidak pernah memesan minuman haram, ketiganya datang ke bar hanya untuk meluapkan stres mereka saat penat dengan pekerjaan.
Namun kali ini berbeda, Dita datang seorang diri ke bar tersebut, ia segera duduk di kursi yang menghadap bar table dan memesan minuman non alkohol di sana.
"Kenapa sendiri, kemana dua temanmu?" tanya seorang bartender yang mengenalnya.
"Mereka sibuk," jawab Dita datar. "Aku pesan yang biasa," ucapnya lagi masih dengan wajah datar.
Bartender tersebut hanya mengangguk dan meracik minuman yang biasa di pesan Dita. "Mocktail pesananmu," ucap bartender tersebut seraya menyuguhkan segelas minuman dari sari buah yang di campur soda.
Dita segera meraih gelas tersebut dan menenggaknya hingga habis. Rasa manis dari jus yang di padukan dengan soda benar-benar cocok untuk suasana hatinya yang sedang kalut. Namun rasanya segerlas Mocktail saja tidak cukup, entah mendapat bisikan setan dari mana, Dita menginginkan hal lain, gadis itu ingin merasakan seperti apa rasanya minuman beralkohol.
"Boleh aku minta minuman yang kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi," pinta Dita pada bartender.
"Boleh saja. Tapi kamu sendirian, bagaimana kalau kamu mabuk?"
"Aku tidak akan mabuk hanya dengan satu gelas minuman beralkohol rendah kan?"
"Baiklah."
Tak lama, bartender tersebut kembali menyajikan minuman Dita, namun sebelum gadis itu meminumnya, terdengar suara yang tak asing menyapanya.
"Nona pelakor," sapa seseorang yang segera duduk di sebelah Dita.
"Dokter Aditya," ucap Dita sedikit terkejut, meski panggilan Dokter Aditya terdengar menyebalkan namun Dita menahan amarahnya karena benar adanya, dia hampir menjadi seorang pelakor. Namun satu hal yang membuat Dita tak menyangka, jika dokter tampan itu juga mengunjungi sebuah bar. "Apa yang anda lakukan di sini?" tanyanya yang seketika merasa penasaran.
"Aku sedang bersenang-senang. Bagaimana denganmu nona pelakor?" balasnya masih dengan tatapan menghina.
"Aku sedang merenungi kesalahanku," jawaban Dita di iringi oleh wajah lesunya tentu saja membuat Dokter Aditya merasa bersalah karena terlalu memojokkan gadis itu.
"Apa Indhi belum memaafkanmu?" tanya Dokter Adita, kali ini wajahnya terlihat serius.
"Aku berharap dia tidak memaafkanku. Dengan begitu aku akan mendapatkan hukuman yang setimpat. Dia begitu baik dan aku malah menyakitinya," perasaan yang bergejolak mendorong Dita menenggak minuman beralkoholnya, sensasi pahit yang pertama kali ia rasakan sungguh tak ia pedulikan lagi.
"Anda menyukainya?" Cetus Dita.
"Ya," jawab Dokter Aditya tanpa sadar, mungkin karena minuman beralkohol yang sudah di minumnya sebelum melihat kedatangan Dita.
"Dia memang cantik dan sangat baik. Aku tidak terkejut mendengar anda menyukainya," balas Dita yang nampak biasa saja. "Tapi bukannya anda sudah menganggap Indhi seperti adik?" tanyanya lagi yang tiba-tiba merasa penasaran.
"Kamu percaya hal itu? Sangat mustahil seorang pria menganggap wanita seperti adik kandungnya sendiri. Itu hanya alibiku karena aku tau jika Ega juga menyukai Indhi. Aku tidak ingin bermusuhan dengan Ega hanya gara-gara perasaan bodohku ini."
Dita hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Apa yang di katakan Dokter Aditya memanglah benar adanya. Di dunia ini sangat mustahil seorang laki-laki dan perempuan berteman tanpa ada yang memendam perasaan cinta.
Keduanya lalu larut dalam pikiran masing-masing, mereka berdua menikmati minuman haram mereka hingga keduanya hampir kehilangan kesadaran.
"Se-sebaiknya a-aku pulang," ucap Dita terbata-bata, gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari bar dengan langkah terseok-seok.
Pengaruh alkohol yang sangat kuat membuat Dokter Aditya melupakan fakta jika Dita adalah gadis yang sangat di bencinya beberapa waktu yang lalu, pria itu lalu mengejar Dita dan mengajaknya untuk pulang bersama.
"Aku akan mengantarmu," ajak Dokter Aditya setengah sadar, pria itu menarik tangan Dita menuju mobilnya.
Rupanya Dokter Aditya datang bersama sopirnya, melihat kedatangan Dokter Aditya, pak sopir segera membukakan pintu untuk majikannya, sopir tersebut sempat melirik Dita sesaat, namun ia tak peduli karena tidak mau ikut campur dengan urusan majikannya.
Dita yang sudah mabok berat hanya bisa tidur di dalam mobil, bahkan saat Dokter Aditya menanyakan dimana alamat rumahnya gadis itu tak terbangun. Terpaksa Dokter Aditya membawa Dita ke apartemennya dan akan mengantarkannya setelah gadis itu sadar.
"Nona perawat, bangunlah kita sudah sampai," seru Dokter Aditya sambil menepuk pipi Dita.
Gadis itu membelalakan matanya dan tiba-tiba turun dari mobil, Dokter Aditya yang terkejut segera menyusul Dita.
"Dimana rumahmu, aku akan mengantarkannya?" tanya Dokter Aditya lagi.
"Rumah? Aku tidak punya rumah," balas Dita asal-asalan, gadis itu benar-benar teler.
"Ikut aku, aku akan memberi tumpangan satu malam kepadamu."
Dokter Aditya lalu membawa Dita ke unit apartemennya, pria itu memapah gadis yang sudah benar-benar teler.
Sesampainya di dalam apartemen, Dokter Aditya di buat terkejut saat Dita mulai melepaskan blazer yang di pakainya, matanya semakin melebar saat Dita menanggalkan seluruh pakaiannya dan hanya meninggalkan br*a serta underwear dari tubuhnya.
Dokter Aditya menelan salivanya berkali-kali, bokong sintal milik Dita begitu menggodanya saat gadis itu berjalan menuju sofa, belum lagi saat Dita merebahkan tubuhnya di atas sofa, gundukan daging kenyal yang menyumbul dari wadahnya membuat Dokter Aditya tak bisa menahan hormon dewasanya.
Dengan langkah yang sedikit tertatih, pria itu menghampiri Dita dan menatap tubuh yang hampir polos itu penuh damba.
"Aku ingin pipis," keluh Dita, dengan setengah sadar, gadis itu meraih tangan Dokter Aditya yang menuntunnya masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar milik dokter itu.
Dokter Aditya menunggu di depan pintu kamar mandi dengan perasaan gamang. Setelah beberapa saat, gadis itu keluar dan reflek Dokter Aditya menahan salah satu tangan Dita.
"Aku mau tidur," ujar Dita seraya memutar tubuhnya.
BERSAMBUNG...