Marry me, Brother

Marry me, Brother
Memori masa lalu



"Sayang, apa yang wanita itu lakukan adalah hal yang sangat menjijikan. Bagaimana mungkin seorang ibu meninggalkan anaknya hanya demi hidup tenang seorang diri?Apa wanita seperti itu pantas di sebut ibu dan mendapatkan maaf?"


Jawaban Ega tuntu saja cukup membuat Indhi diam dan tidak berani untuk membujuk suaminya lagi. Luka batin yang di alami suaminya saat kecil pastilah teramat dalam karena hingga saat ini pria itu masih belum mau bicara dengan ibu kandungnya.


Yang bisa Indhi lakukan sekarang adalah menghibur suaminya, meski singkat namun pertemuan antara Ega dan Serly pasti membuat kesedihan tersendiri di hati suaminya. Indhi meraih tangan sang suami yang sejak tadi terkepal dengan erat, wanita itu menggenggamnya sesaat lalu mengecup punggung tangan suaminya dengan mesra. "Maaf, seharusnya aku tidak berkata seperti itu?" ucapnya penuh sesal setelah meminta sang suami melupakan dendam masa lalunya, padahal jika di ingat lagi, Indhi juga masih terjebak dalam dendam masa lalu bersama Mariam, pembunuh Zean.


Ega sedikit menggeser tubuhnya sehingga ia bisa menatap istrinya dengan seksama. "Kenapa harus minta maaf? Kamu nggak salah. Memang begitulah seharusnya sebuah hubungan, saat salah satu dari mereka bersikap salah maka yang lainnya akan mengingatkan. Tapi sayang, maaf karena aku belum bisa mendengarkan saranmu. Jujur saja, untuk melihatnya saja begitu berat. Aku belum mampu memaafkannya apalagi untuk melupakan semua perbuatannya di masa lalu," ujar Ega panjang lebar, rahangnya yang mengeras kini berganti senyuman pahit di wajahnya.


"Aku tau kak. Maaf karena tak berfikir sejauh itu. Kakak pasti sangat menderita waktu itu," Indhi hanya bisa menunduk, bahkan ia tak mampu membayangkan perasaan Ega saat di tinggalkan oleh ibunya seorang diri, padahal waktu itu usianya baru 8 tahun, bocah itu pasti menangis ketakutan saat tak menemukan keberadaan ibunya.


"Aku sangat takut. Aku berteriak memanggil namanya. Aku menangis di pinggir jalan sampai akhirnya ibu dan ayah menemukanku dan membawaku ke Rumah Sakit karena aku jatuh pingsan," ucap Ega mengenang masa lalu, hal yang tak pernah ia bahas sebelumnya namun kali ini ia ingin menceritakan kepada istrinya.


Tiba-tiba air mata membasahi wajah Indhi, membayangkan seorang bocah laki-laki ketakutan dan menangis di pinggir jalan seorang diri membuatnya merasa sedih sekaligus jengkel dalam waktu yang bersamaan.


"Kenapa menangis," Ega menyeka air mata di pipi istrinya dengan lembut. "Aku baik-baik saja sekarang, memilikimu dan juga ibu sudah lebih dari cukup, aku bahagia bersama kalian," imbuhnya mencoba menenangkan sang istri.


"Aku hanya merasa kesal," jawab Indhi dengan sesegukan.


"Kamu sangat menggemaskan," Ega terkekeh melihat istrinya yang sedang menangis, menurutnya wajah istrinya sangat lucu.


Setelah meluapkan unek-uneknya di dalam mobil, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Selama di perjalanan, tak sedikitpun Ega melepaskan tangan Indhi, pria itu menggenggamnya dengan posesif, sementara si pemilik tangan hanya diam dan menikmati hangatnya genggaman tangan sang suami. Wanita itu juga tak sedetikpun berpaling dari wajah tampan sang suami.


"Apa aku sangat tampan?" tanya Ega yang menyadari istrinya sedang menatapnya.


"Sangat," sahut Indhi dengan cepat. "Suamiku sangat tampan, beruntungnya aku karena akulah yang menjadi istri kakak," imbuhnya lagi sambil tersenyum.


"Sayang," panggil Ega dengan mesra.


"Ya."


"Kamu ingat? Dulu kamu selalu mengatakan jika yang menjadi istriku pasti sangat beruntung. Dan jika kamu bukan adikku pasti kamu akan menjadikanmu sebagai suami," Ega melirik istrinya sekilas, masih terngiang dengan jelas semua ucapan sang istri di masa lalu dimana mereka masih menjadi kakak beradik.


Indhi terkekeh mengingat semua ucapannya dulu. "Benar kata orang bahwa ucapan adalah doa, karena buktinya akulah yang menjadi wanita beruntung itu dan menjadi istri kakak."


"Kau tau, aku selalu mengaminkan setiap ucapanmu dulu, setiap kamu mengatakan ingin menjadi istriku jika kamu bukan adikku, aku selalu berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mengabulkan ucapanmu. Dan lihatlah kamu di sini sekarang dengan statusmu menjadi istriku, aku sangat bahagia," ucap Ega penuh syukur, wajahnya yang sempat terlihat sedih kini nampak lebih ceria saat menceritakan masa lalu bersama istrinya. Sungguh ia tak membutuhkan siapapun lagi kecuali istri dan ibunya.


Tak terasa perbincangan mereka membawa mereka sampai di rumah, keduanya lalu turun dan masuk ke dalam rumah yang sangat jarang mereka tempati.


"Sayang, mau makan dulu apa mandi dulu?" tanya Ega begitu keduanya berada di dapur. Pria itu meletakkan kantong plastik berisi makanan yang di belinya tadi.


"Mandi dulu kak, nanti aku panansin kalau udah mandi," sahut Indhi seraya melangkahkan kakinya menuju kamar yang ada di lantai dua.


"Mau mandi bareng?" telisik Indhi saat menyadari Ega berada di belakangnya.


Ega terkekeh karena kemauannya di ketahui sang istri. "Bolehkan?" tanyanya pelan.


"Boleh. Lebih dari mandi bersama juga boleh."


Deg...


Seketika jantung Ega memompa dengan cepat, ucapan Indhi jelas terdengar seperti tantangan baginya. Apalagi saat Ega menyaksikan Indhi mananggalkan satu persatu pakaiannya sehingga menampilkan tubuhnya yang polos. Begitu menggoda mata lelaki yang sejak beberapa hari terakhir menahan hasrat karena harus berpuasa.


"Jangan menggodaku, baru seminggu sejak kamu pendarahan. Bagaimana kalau aku tidak bisa menahannya," ujar Ega seraya menekan hasratnya yang sudah sampai di ubun-ubun.


Indhi melangkahkan kakinya mendekati sang suami, wanita itu tersenyum dengan begitu menggoda. "Kata Nanda tidak harus menunggu dua minggu asal pendarahannya sudah selesai kita bisa melakukannya," bisik Indhi tepat di telinga suaminya.


"Tidak sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Aku bisa menahannya. Aku bisa!" tolak Ega meski sebenarnya ia sangat ingin menerkam istrinya saat ini juga. Baginya kesehatan Indhi lebih dari apapun di bandingkan hasrat sesaatnya.


"Kakak yakin?" ujar Indhi memastikan.


"Asal kamu tidak menggodaku. Sudah ayo kita mandi sekarang," Ega memutar tubuh istrinya dan mendorongnya dengan pelan, setelah berada di bawah shower, pria itu menanggalkan seluruh pakaiannya.


"Adikmu bangun kak," bisik Indhi lagi sambil tersenyum meledek.


Ega hanya bisa menelan salivanya, tubuhnya tidak bisa bohong. Meski ia bersikeras akan menahanya namun benda yang sudah mengeras itu cukup menjadi bukti bahwa Ega juga pria normal.


"Aku bisa membantunya untuk tidur lagi," ucap Indhi, namun belum sempat ia melakukan apapun bibirnya lebih dulu di sambar oleh Ega. Luma*tan demi luma*tan Ega berikan di bibir mungil nan manis milik istrinya. Tak mau tinggal diam, Indhipun membalas ciuman Ega, wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


Cukup lama mereka saling menyelami rongga mulut masing-masing, tanpa menunggu persetujuan suaminya, Indhi kini duduk berjongkok dan menatap adik kecil milik suaminya.


"Sayang, kau...


Suara Ega tertahan saat merasaakan kehangatan mulut istrinya, ia hanya bisa pasrah dan menikmati permainan sang istri. Hingga suara lenguhan panjang keluar dari bibirnya, menandakan pria itu telah menuntaskan hasratnya.


Indhi lalu berdiri dan mensejajari suaminya, wanita itu mengecup bibir Ega dengan lembut. "Jangan pernah menahan apapun seorang diri. Ceritakan padaku apapun yang kakak rasakan. Aku mencintaimu kak."


Ega tak bisa menahan rasa bahagiannya, pria itu merengkuh tubuh mungil istrinya kedalam pelukannya. "Terima kasih sayang. Aku juga sangat mencintaimu."


BERSAMBUNG...