Marry me, Brother

Marry me, Brother
Rencana Indhi



Keesokan paginya, Dokter Aditya kembali ke apartemen karena harus bertemu dengan Dita, namun seolah lupa jika Dita kini tinggal di apartemennya, pria itu masuk ke dalam apartemen miliknya tanpa permisi. Setibanya di dalam apartemen, Dokter Aditya membelalakan matanya saat melihat Dita sedang memasak di dapur. Bukan tanpa alasan, pasalnya gadis itu memakai kemeja yang terlihat kebesaran namun hanya sampai di atas lututnya, pahanya yang putih bersih terpampang nyata, bagai pemandangan indah yang susah untuk di lewatkan.


Saat Dita memutar tubuhnya, gadis itu terlonjak kaget, untung saja piring yang ada di tangannya tidak terlepas. "Kapan anda datang dok," tanya Dita dengan gugup, ia buru-buru menaruh piringnya di atas meja makan dan berlari masuk ke kamar mengambil selimut lalu melilitkannya di pinggang. Setelah pahanya tertutup, Dita kembali ke dapur menemui bakal calon suaminya.


"Baru saja. Maaf, aku lupa kamu tinggal di sini sekarang," jawabnya canggung, pria itu kembali mengamati tubuh Dita yang sudah terbalut selimut.


"Ah maaf dok, saya lupa beli baju kemarin, jadi sapa pinjam kemeja anda. Maaf dok, seharusnya saya minta izin terlebih dahulu," jelas Dita saat menyadari Dokter Aditya mengamati penampilannya.


"Nanti aku antar belanja. Nanti malam kita pergi ke rumah orang tuaku, mereka ingin bertemu denganmu," kata Dokter Aditya datar.


"Orang tua?" ulang Dita, pasalnya ia masih tak percaya jika Dokter Aditya sungguh-sungguh akan menikahinya, belum lagi ia tidak percaya diri bertemu dengan kedua orang tua pria itu.


"Ya mereka ingin bertemu dengan calon menantu. Tidak perlu khawatir, mereka pasti menerimamu dengan baik," Dokter Aditya tau apa yang sedang di pikirkan Dita, pria itu mencoba memupuk rasa percaya diri Dita. "Apa yang kamu masak?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Hanya mie goreng. Anda mau?" tawar Dita sedikit ragu, mana mungkin anak orang kaya seperti dia mau makan mie instan goreng.


"Baunya sangat enak. Apa aku boleh mencicipinya?"


"Silahkan dok."


Dokter Aditya duduk di kursi meja makan sambil menatap sepiring mie goreng dengan toping telur setengah matang. Pria itu lalu meraih sendok dan meminggirkan telor tersebut sebelum akhirnya mencicipi mie instan buatan Dita. "Waow, amazing," gumamnya setelah merasakan mie instan untuk yang pertama kalinya.


"Kenapa dok?" tanya Dita cemas.


"Ini enak sekali. Kamu sangat pintar memasak," pujinya sambil tersenyum.


"Itu cuma mie instan, siapa saja bisa memasaknya dok. Apa anda belum pernah makan mie instan sebelumnya?"


Dokter Aditya menggeleng pelan. "Mamah ku sangat cerewet kalau soal makanan. Aku terbiasa makan makanan sehat. Aku tidak percaya mie instan rasanya sangat enak. Pantas saja saat kuliah dulu Kevin sangat menyukainya," jawabnya dengan jujur, pria itu kembali menyuapkan mie instan tersebut ke dalam mulutnya.


Berbeda dengan Dita, gadis itu berubah murung saat Dokter Aditya menyebutkan nama pria yang sangat di cintainya. Entah, saat mendengar nama Ega, rasa bersalahnya kembali memenuhi hati.


Menyadari perubahan wajah Dita membuat Dokter Aditya merasa tidak enak hati. "Aku tidak bermaksud membuatmu mengingat Kevin," ucapnya penuh sesal setelah menyadari jika ia sempat menyebutkan nama pria lain.


"Tidak papa dok, saya baik-baik saja," jawab Dita bohong. "Silahkan di lanjut makannya. Oh ya kenapa telurnya tidak di makan?" imbuhnya seraya menatap telur yang tak tersentuh.


"Aku tidak suka telur setengah matang."


"Sayang sekali, padahal rasanya sangat enak."


"Kalau begitu kamu saja yang memakannya. Ini," Dokter Aditya memindahkan telur ke sendok kemudian mengarahkan sendok tersebut ke Dita, padahal posisi mereka lumayan jauh. "Cepat ke sini, tanganku pegal," keluh pria itu sambil menatap Dita.


Meski ragu namun akhirnya Dita mendekat, gadis itu mengambil alih sendok yang ada di tangan Dokter Aditya dan segera memasukkan telur tersebut ke mulutnya.


"Apa enak?" tanya Dokter Aditya sambil memperhatikan Dita yang sedang mengunyah.


"Hem," gumam Dita sambil mengangguk.


"Kamu bisa siap-siap, aku akan menanimu belanja," ujar sang dokter saat Dita sudah menghabiskan makanannya, gadis itu mengangguk patuh dan kembali ke kamar yang di tempatinya.


Beberapa menit kemudian, Dita keluar dari kamar, gadis itu terlihat kurang nyaman mengenakan baju yang di kenakannya saat dia di usir dari rumah.


"Ayo berangkat," ajak Dokter Aditya, pria itu melangkah lebih dulu keluar dari apartemen, sementara Dita mengikuti di belakangnya seraya mengendus bajunya di bagian ketiak, ia khawatir kalau Dokter Aditya bisa mencium bau kurang sedap dari pakaiannya.


Sesampainya di mobil, Dita ragu untuk masuk ke dalam mobil mewah milik calon suaminya itu. "Dok, saya bisa pergi sendiri," ucap Dita.


Dokter Aditya menoleh dan menatap Dita. "Kenapa? Kamu tidak nyaman pergi denganku?"


Dokter Aditya terkekeh, pria itu lalu membukakan pintu mobil untuk Dita. "Tidak masalah, aku bisa pakai masker nanti," jawabnua setengah bercanda.


"Tapi dok."


"Sudah cepat masuk," Dokter Aditya mendorong pelan tubuh Dita agar masuk ke dalam mobilnya, setelah gadis itu berada di dalam, ia segera menyusul masuk ke dalam mobil.


"Anda tidak terganggu dengan bau saya?" tanya Dita lagi saat mereka sudah berada di perjalanan.


"Tidak," jawab Dokter Aditya singkat, keduanya lalu diam dan larut dalam pikiran masing-masing.


***


Di pagi yang sama namun dengan tempat yang berbeda. Sepasang suami istri masih betah di dalam selimut meski keduanya sudah bangun. Mereka saling memeluk dengan erat seolah gadis remaja yang sedang kasmaran.


"Sayang, kita harus bangun," kata Ega namum tak melepaskan pelukannya.


"Sebentar lagi. Lagi pula kakak libur hari ini dan aku masuk malam," jawab Indhi enggan, karena ia masih ingin menikmati kehangatan yang di berikan oleh suaminya.


"Sepuluh menit lagi ya," kata Ega.


"Tiga puluh menit lagi," tawar Indh sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu satu jam lagi," ucap Ega seraya menghujani wajah istrinya dengan ciuman, lalu keduanya kembali mengeratkan pelukan mereka.


"Kak," panggil Indhi pelan, wajahnya yang bersembunyi di dada sang suami membuat suaranya terdengar sangat pelan.


"Hem."


"Aku mencintaimu," ucap Indhi dengan wajah merona.


"Aku sangat mencintaimu," balas Ega seraya mengecup pucuk kepala istrinya.


"Kak," panggil Indhi lagi.


"Apa?"


"Apa aku boleh belajar spesialis?"


Ega mengurai pelukannya, ia lalu mendorong tubuh istrinya dengan pelan sehingga ia bisa melihat wajah sang istri. "Kamu serius?" tanyanya tak percaya. Pasalnya sebelum menikah Indhi sempat menolak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis.


"Aku serius. Kakak punya uang untuk membiayai pendidikanku kan?" tanyanya di selingi canda, padahal tabungannya masih cukup untuk membiayai pendidikannya.


"Meski tidak banyak tapi cukuplah untuk membiayai kuliahmu. Kalau kurang aku bisa cari pekerjaan sampingan," jawab Ega dengan wajah serius, padahal uangnya lebih dari cukup untuk biaya pendidikan istrinya.


"Pekerjaan sampingan?" ulang Indhi.


"Jadi tukang ojek online misalnya. Kalau nggak aku bisa jadi mas-mas sopifood," imbuhnya masih dengan wajah serius.


"Tidak-tidak. Nanti banyak yang godain kakak, aku tidak rela. Lebih baik aku tidak belajar spesialis," ujar Indhi tak terima dengan rencana suaminya.


"Hahaha, aku hanya bercanda sayang. Memangnya kamu mau belajar spesialis apa dan di mana?"


"Aku ingin ambil Bedah Torak dan belajar di Amerika."


BERSAMBUNG...