Marry me, Brother

Marry me, Brother
Kesepakatan



Ke esokan harinya, Indhi meminta bantuan perawat yang bekerja di Departemen Bedah untuk memberikan informasi pribadi tentang bu Sherly. Setelah mendapatkan informasi mengenai bu Sherly, Indhi segera menghubungi nomor yang tercantum di lembar informasi tersebut.


"Ya Hallo," sapa seseorang setelah panggilan tersambung, Indhi yakin jika suara tersebut milik Naura.


"Ini aku, Indhi," ucap Indhi tanpa basa-basi. "Kak Ega ingin bertemu kalian, nanti malam kami tunggu di Caffe sebelah Rumah Sakit!"


"Kak Ega," ulang Naura tak percaya. "Baik Ndi, aku dan mama pasti akan datang," sahut Naura dengan antusias.


Indhi lalu memutus panggilannya, sebenarnya ia malas harus berhubungan lagi dengan Naura, namun demi suaminya ia akan menahan diri sejenak sampai Ega bisa menyelesaikan masalahnya.


Sepulang kerja, Indhi menunggu Ega di Caffe karena kebetulan hari ini Ega libur. Tak lama Ega datang dan segera menghampiri istrinya.


"Maaf aku telat, jalanan sangat macet," ucap Ega, setelah itu ia mengecup kening istrinya dan duduk di sebelah Indhi.


"Nggak papa kak, aku juga baru dateng. UGD sangat ramai hari ini, tubuhku sangat lelah," balas Indhi sambil tersenyum.


"Nanti malam aku pijitin," bisik Ega dengan suara menggoda, Indhi segera menatap suaminya dengan curiga.


"Hanya pijit ya," tegas Indhi.


"Nggak janji," Ega tersenyum senang karena berhasil menggoda istrinya.


"Dasar mesyumm,"pekik Indhi di selingi cubitan di pinggang suaminya.


Bukannya kesakitan, Ega justru tertawa karena cubitan Indhi lebih seperti sebuah gelitikan. "Cubitnya nanti malam saja, apa kamu udah nggak tahan?" tanyanya setengah berbisik.


Belum sempat Indhi menjawab pertanyaan Ega, kedua orang itu langsung bungkam saat melihat kedatangan dua wanita yang mereka tunggu.


Bu Sherly terlihat begitu bahagia, senyum tak pudar sedikitpun dari wajahnya sejak ia masuk ke dalam caffe. Begitupun dengan Naura yang melemparkan senyuman kepada Indhi, namun hanya di balas anggukan kepala oleh dokter muda itu.


"Kalian sudah lama menunggu?" tanya bu Sherly seraya menarik kursi dan duduk di hadapan Ega dan Indhi.


"Belum," jawab Indhi dengan singkat.


"Terima kasih ya karena kamu mau bertemu dengan mama. Apakah berarti kamu sudah memaafkan mama dan mau mengakui mama sebagai ibu kandungmu?" ujar bu Sherly dengan semangat.


"Ya. Saya memaafkan anda dan mengakui anda sebagai ibu kandung saya," ungkap Ega dengan suara berat.


"Oh akhirnya. Terima kasih ya nak. Kalau begitu mulai sekarang panggil aku mama, dan Naura juga akan menjadi adik kamu sekarang."


"Ti..." kalimat Ega terhenti karena tiba-tiba bu Sherly memotong ucapannya.


"Karena kita sudah baikan dan kamu mengakui mama berarti mama boleh dong minta bantuan kamu," ucap bu Sherly masih dengan senyum lebar di wajahnya yang sudah keriput.


"Batuan?" ulang Indhi seraya menatap bu Sherly dan Naura bergantian.


"Ya. Kalian mau kan membantu kami. Kita kan sudah jadi keluarga sekarang."


"Sejak papa nya Naura meninggal, Naura harus berhenti kuliah dan bekerja demi menghidupi kami berdua. Mama sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi. Karena sekarang Ega sudah menerima mama sebagai ibu kandungnya, jadi mama minta bantuan Ega untuk membantu keuangan mama setiap bulannya, mama juga mau Ega membantu biaya kuliah Naura."


Deg...


Seperti tertusuk ribuan mata pisau yang menghunus hingga ke jantungnya, Ega menatap nanar wanita yang baru saja di maafkannya itu. Ia tak menyangka jika niat ibu kandungnya mendekatinya lagi bukan karena sebuah ketulusan, wanita itu tak sungguh-sungguh ingin dekat dengan Ega, wanita itu hanya ingin memanfaatkan Ega sebagai sumber keuangannya.


"Berapa yang anda butuhkan?" tanya Ega dengan suara serak,amarahnya hampir saja meledak jika saja Indhi tak menggenggam tangannya dengan erat.


"Tidak banyak, sekitar dua puluh juta saja setiap bulan. Dan untuk biaya kulian Naura sekitar sepuluh juta. Jadi mama hanya minta tiga puluh juta setiap bulannya. Ega pasti tidak keberatan kan, mama tau Ega sekarang menjadi dokter yang hebat, pasti gaji Ega lebih dari itu kan?" ucap ibu Sherly tanpa rasa malu sedikitpun.


"Sepertinya saya dan suami saya sudah salah sangka. Kami pikir, anda tulus ingin dekat dengan suami saya, tapi nyatanya ada niat terselubung di balik permintaan maaf anda," Indhi yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, ia sangat menyesal karena sempat membujuk Ega untuk memaafkan ibu kandungnya tersebut. Indhi akhirnya tau mengapa Ega begitu sulit untuk memaafkan wanita tersebut.


"Saya tulus kok. Tapi saya juga butuh bantuan Ega. Apa salahnya seorang anak membantu ibunya? Saya yang sudah melahirkan Ega, jadi sudah sepantasnya Ega membalas budi kepada saya kan."


Lagi dan lagi, ucapan bu Sherly kembali melukai Ega, pria itu hanya bisa diam, meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Ia lahir tanpa tau di mana ayahnya, menginjak usia 8 tahun ia di telantarkan oleh ibu kandungnya, dan kini ibu kandungnya kembali hanya menginginkan uangnya.


"Berikan nomor rekening anda, saya akan kirimkan lima ratus juta sekarang juga," ucap Ega membuat ketiga wanita yang duduk bersamanya terkejut.


"Kak," Indhi hendak melayangkan protes, namun Ega segera menatapnya dan menganggukkan kepala sebagai tanda Ega bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


Dengan semangat dan wajah dan berbinar, bu Sherly merogoh tasnya dan mengeluarkan buku tabungan miliknya. Wanita itu tanpa merasa malu sedikitpun memberikan buku tersebut kepada Ega. "Ini nomer rekening mama, terima kasih ya nak." ujarnya dengan senyuman lebar.


"Setelah uang itu masuk ke rekening anda maka saat itu juga kita sudah tidak memiliki ikatan apapun lagi," ucap Ega dengan rahang mengeras, sementara bu Sherly nampak panik mendengar penututan Ega.


"Ke-kenapa begitu. Bukannya kamu sudah memaafkan mama?" tanya bu Sherly dengan bibir bergetar.


"Saya memang sudah memaafkan anda. Anggap saja uang tersebut sebagai bayaran karena anda sudah melahirkan saya. Karena saya sudah membayar jasa anda, maka artinya kita tak memiliki hubungan apapun lagi!"


"Tapi nak, bukan begitu yang mama inginkan . Mama juga ingin dekat denganmu lagi."


"Terima atau tidak uang ini?" tanya Ega dengan tegas.


"Mama terima, tapi mama juga tidak mau kehilangan kamu lagi," kilah bu Sherly dengan wajah nelangsa.


"Baiklah kalau begitu. Saya anggap anda menolak uang ini," Ega kembali menyerahkan buku rekening milik ibu Sherly namun wanita itu segera menahan buku rekeningnya agar tetap berada di tangan Ega.


"Baik mama terima uangnya karena mama juga sangat membutuhkan uang tersebut," putus bu Sherly karena tak mau kehilangan uang lima ratus juta.


Ega tersenyum hambar, pria itu lalu meraih ponselnya dan segera mentransferkan uang tersebut kepada bu Sherly. Uang yang ia kumpulkan beberapa taun terakhir, uang yang seharusnya ia gunakan untuk biaya pendidikan Indhi terpaksa ia gunakan demi membalas budi pada wanita yang sudah melahirkannya.


"Anda bisa cek, uangnya sudah masuk. Jangan pernah ganggu kehidupan kami lagi. Kalau anda masih mengganggu keluarga saya, maka saya tidak segan-segan untuk melaporkan anda ke pihak yang berwajib!" ancam Ega dengan mata memerah, pria itu lalu meraih tangan Indhi dan menariknya keluar dari tempat tersebut. Setibanya di dekat mobil, tiba-tiba Ega kehilangan keseimbangannya, pria itu limbung dan hampir jatuh, untung saja Indhi berhasil menahan tubuhnya.


"Kak," teriak Indhi dengan wajah panik.


BERSAMBUNG...