Marry me, Brother

Marry me, Brother
Gertakan



"Aku yang akan menjamin Bella tidak akan menyentuh kalian!"


Ega dan Indhi menoleh ke arah sumber suara,mereka berbalik dan saling melirik untuk sesaat lalu kembali menatap pria yang berdiri di hadapan mereka.


"Dokter Ilham," pekik Indhi tertahan. "Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Indhi dengan kening mengkerut.


"Aku menghadiri sidang, biar bagaimanapun Bella adalah adik ku, meskipun dia bersalah namun aku juga tidak tega meninggalkannya sendirian," jawab Dokter Ilham.


Tak ada respon dari Ega maupun Indhi, sepasang suami istri itu hanya diam dan menatap Dokter Ilham dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Ayo sayang sebaiknya kita pulang, kamu pasti lelah," ucap Ega penuh penekanan, meski telah sepenuhnya memiliki Indhi namun tetap saja ia menyimpan cemburu pada pria itu.


"Semoga anda menepati janji anda dok. Tolong nasehati ibu dan adik anda untuk berhenti mengganggu keluarga saya!" pesan Indhi pada mantan tunangannya.


"Aku janji Ndi," balas Dokter Ilham nelangsa, melihat sikap Indhi yang begitu dingin padanya membuat pria itu merasa sedih, hatinya seolah terkoyak.


"Ayo kak," Indhi mengaitkan tangannya di lengan Ega, mereka lalu meninggalkan Dokter Ilham.


Sementara Dokter Ilham hanya mampu menahan rasa sakit saat melihat Indhi pergi bersama suaminya, rasa sesal kembali memenuhi hatinya. Kata 'seandainya' kembali menari-nari di kepalanya. Seandainya hubungan mereka di awali dengan ketulusan mungkin kini Dokter Ilham tengah berbahagia dengan Indhi. Seandainya Marriam tak pernah menyakiti keluarga Indhi, mungkin kini Dokter Ikham tengah menikmati hari-harinya bersama Indhi.


"Bagaimana caranya agar aku bisa melupakanmu Indhi," gumam Dokter Ilham, pria itu lalu menagkupkan kedua telapak tangannya di wajah, menutupi mata yang memerah akibat menahan kesedihan.


Sementara di tempat lain, Ega dan Indhi sudah berada di dalam mobil, Ega akan mengantarkan Indhi pulang terlebih dahulu sebelum ia kembali ke Rumah Sakit.


Selama perjalanan pulang Indhi lebih banyak diam. Mungkin karena ia sedang hamil, hatinya menjadi sangat sensitif, ia juga merasa sering panik akhir-akhir ini, apalagi ancaman Bella saat di ruang sidang benar-benar mengganggu pikirannya.


"Aku akan melindungi kalian. Jangan terlalu di pikirkan apa yang Bella katakan tadi. Dia hanya menggertak karena dia sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Jadi aku harap kamu jangan terlalu terpengaruh, kasian bayi-bayi kita," ucap Ega menenangkan Indhi, tangan kirinya terulur mengusap perut istrinya.


Indhi menoleh ke arah suaminya, wanita hamil itu tersenyum meski sedikit ia paksa. "Iya kak, kita akan baik-baik saja. Bella sudah di penjara sekarang, dia pasti tidak berani mengganggu kita lagi," tutur Indhi dengan ragu, entah mengapa ancaman Bella membuatnya resah.


***


"Indhi sudah pulang?" tanya Arum kepada Dita, kedua wanita itu masih di pengadilan karena Dita menunggu Arum menyelesaikan berkas-berkas perkara yang di pakai untuk sidang.


"Sudah. Tapi kayaknya dia sedikit ketakutan," jawab Dita khawatir.


"Bella sempat mengancamnya tadi," tutur Arum.


"Mengancam? Gadis itu benar-benar keterlaluan!" geram Dita, kini kedua tangannya mengepal, mengingat bagaimana kelicikan gadis itu.


"Kita harus hati-hati. Aku merasa Bella serius dengan ancamannya," ucap Arum, entah mengapa ia merasa Bella sudah menyiapkan rencana untuk membalas Indhi.


"Aku akan melindungi Indhi dan bayinya. Itu janjiku Rum!"


"Aku juga akan melindungi mereka. Ayo kita pergi dari sini," ajak Arum, kedua wanita itu lalu meninggalkan pengadilan, Dita memutuskan pulang ke apartemen sementara Arum kembali ke kantornya.


Setibanya di apartemen, Dita segera masuk ke dalam kamarnya, setelah melepaskan blazer dan tasnya, Dita melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Dita terpaku di tempatnya dengan mata yang membulat sempurna, bagaimana tidak, rupanya Dokter Aditya sudah pulang dan kini sedang mandi dengan tubuh polos.


"M-m-maaf, aku pikir mas belum pulang," ucap Dita gugup saat suaminya menoleh ke arahnya.


Bukannya menjawab, Dokter Aditya justu mendekati Dita dan menarik tubuhnya ke bawah shower yang sedang menyala.


"Mas bajuku basah," protes Dita.


"Tapi mas," Dita menahan kemejanya saat suminya akan menariknya.


"Tidak usah malu, aku sudah melihat semuanya," bujuk Dokter Aditya, tak lupa senyuman manis membingkai wajah orientalnya.


Seakan tersihir, Dita menyingkirkan tangannya dan membiarkan sang suami melepaskan semua pakaiannya. Bahkan kini tubuhnya benar-benar polos. Dita sedikit tersentak saat ia meraskan pijatan di da*danya.


"Aku sangat menyukai ini," bisik Dokter Aditya seraya menatap d*ada istrinya penuh damba. "Bolehkan?" tanyanya dengan suara serak dan nafas yang mulai tak beraturan.


Dita mengangguk dengan wajah tersipu, tanpa menunggu lama Dokter Aditya segera mencium bibir Dita dengan lembut. Keduanya hanyut dalam permainan lidah yang mulai memanas.


Tak sampai di sana, keduanya pun melakukan penyatuan di dalam kamar mandi, percintaan panas mereka berakhir bersamaan dengan erangan panjang Dokter Aditya


"Terima kasih," ucap Dokter Aditya seraya mengecup kening istrinya.


"Sama-sama mas," jawab Dita malu-malu.


Keduanya lalu membersihkan tubuh mereka dari sisa-sisa percintaan mereka. Setelah selesai mandi, keduanya duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Kenapa jam segini sudah pulang mas?" tanya Dita penasaran, padahal masih jam satu siang.


"Aku ada urusan di luar, setelah selesai aku malas kembali ke Rumah Sakit," jawab Dokter Aditya dengan entengnya.


"Mentang-mentang pemilik rumah sakit," batin Dita.


"Bagaimana sidangnya?" tanya Dokter Aditya, sebenarnya ia pulang lebih awal karena ingin menghibur istrinya, ia tau jika Dita masih menyimpan penyesalan atas perbuatannya kepada Indhi meskipun Indhi telah memaafkannya.


"Bella di jatuhi hukuman sepuluh tahun penjara mas," jawab Dita seraya menatap suaminya.


"Baguslah. Dia layak di hukum!"


"Tapi aku takut," ujar Dita dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Kenapa?"


"Bella mengancam akan menganggu Indhi lagi."


Dokter Aditya menarik tubuh Dita ke dalam pelukannya. "Semuanya akan baik-baik saja, lagi pula apa yang bisa di lakukan seseorang yang berada di dalam penjara? Kamu tidak perlu khawatir, Bella hanya menggertak saja, dia sudah kehilangan taringnya jadi yang bisa dia lakukan hanya mengancam," ucap Dokter Aditya dengan lembut.


"Semoga saja begitu. Terima kasih mas," ujar Dita, ia terharu dengan perhatian suaminya.


"Sama-sama."


Keduanya masih asik menikmati pelukan hangat tersebut, hingga suara tak terduga terdengar dari perut Dokter Aditya. Dita melepaskan pekukannya, gadis itu tersenyum sambil menatap suaminya


"Tunggu sebentar mas, aku akan menyiapkan makan siang, mas pasti kelaparan," ucap Dita, ia lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur.


Dokter Aditya menatap punggung Dita yang mulai sibuk di dapur, tanpa ia sadari, senyum mengembang di wajah tampannya. "Aku akan berusaha untuk mencintaimu."


BERSAMBUNG...