
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit tak sedikitpun Ega melepaskan tangan Indhi, berkali-kali gadis itu memperingatkan Ega untuk melepaskan tangannya karena Ega sedang mengemudi, namun pria itu benar-benar sedang di mabuk asmara, bahkan selepas adegan dewasa di kamar mandi, Ega tak henti-hentinya tersenyum.
Sesampainya di parkiran Rumah Sakit Ega bergegas turun dari mobil, pria itu membantu istrinya membuka pintu mobil, hal tersebut tentu saja membuat Indhi merasa heran dengan sikap suaminya.
"Aku masuk ya kak, kakak hati-hati pulangnya," pamit Indhi, gadis itu meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangannya.
"Hem, kamu juga hati-hati kerjanya," Ega menahan tangan Indhi dan mengecupnya beberapa kali, setelah puas mengecup tangan istrinya, pria itu beralih mengecup kening istrinya.
"Kak, malu di liatin orang," ujar Indhi sambil menatap sekeliling.
"Kenapa harus malu, kamu kan istriku."
"Ya udah kakak pulang sana, aku mau kerja dulu," Indhi mendorong tubuh suaminya agar pria itu masuk ke dalam mobil.
Ega sudah berada di dalam mobilnya, tiba-tiba ia membuka kaca mobil dan memberikan kode kepada Indhi agar gadis itu mendekat. Dasarnya penurut atau memang bodoh, Indhi mendekatkan wajahnya tanpa menaruh curiga kepada sang suami.
Cupp..
Sebuah kecupan singkat di bibir Indhi membuat gadis itu membelalakan matanya. Seketika gadis itu menegang, sistem saraf simpatiknya bekerja dan memunculkan rona merah di wajahnya.
"Manis, aku suka," ucap Ega seraya mengusap bibir istrinya. "Aku pulang ya," imbuhnya lagi seolah tak terjadi apapun, sementara Indhi hanya mengangguk dan mengatur detak jantungnya yang tak bertempo.
"Hati-hati," kata Indhi sambil melambaikan tangannya kepada sang suami yang mulai meninggalkan lingkungan Rumah Sakit.
"Kenapa dia manis sekali," batin Indhi tak percaya melihat tingkah sang suami, setelah berhasil menstabilkan detak jantungnya, gadis itu berjalan menuju Rumah Sakit, sebagai Dokter Umum, malam ini ia dinas malam di UGD.
Dari kejauhan, tak sengaja Indhi melihat Dokter Ilham keluar dari Rumah Sakit, gadis itu sempat berhenti sejenak, namun rasa bencinya mendorong kakinya untuk terus maju hingga akhirnya mereka berpapasan tepat di depan lobby utama Rumah Sakit. Indhi hanya menundukkan kepalanya sekedar memberi hormat kepada rekan sejawatnya, namun berbeda dengan Indhi, mantan tunangannya itu justru menahan langkah Indhi dengan mencekal pergelangan tangannya.
"Lepas," ucap Indhi seraya menyentak tangannya dengan keras.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Dokter Ilham tanpa melepaskan tangan mantan tunangannya itu.
"Tentu saja saya sangat bahagia, saya memiliki suami yang jujur dan mencintai saya dengan tulus," seru Indhi berapi-api, gadis itu benar-benar tidak tau lagi bagaimana harus meghadapi Dokter Ilham agar pria itu berhenti mengganggunya.
"Aku juga tulus cinta sama kamu," Dokter Ilham tak mau kalah, pria itu nyaris berteriak saat mengucapkan kata cinta.
"Tulus?" Indhi tersenyum getir mendengar kata tulus keluar dari mulut Dokter Ilham. "Anda yakin tidak mempunyai niat saat mendekati saya?" tanyanya lagi seraya menatap nanar mantan tunangannya.
Deg ...
"Lepaskan tangan istriku!!"
Indhi dan Dokter Ilham menoleh bersamaan, di depan mereka Ega berdiri dengan rahang mengeras dan menatap Dokter Ilham penuh kebencian. Saat cengkeraman tangan Dokter Ilham mengendur, saat itu juga Indhi gunakan untuk melepaskan diri, gadis itu segera berjalan menghampiri suaminya.
"Kak, ini tidak seperti yang kakak lihat," ucap Indhi mencoba menjelaskan sebelum Ega salah paham.
"Hem, aku mengerti, aku percaya sama kamu," jawab Ega seraya membelai wajah istrinya. "ID cardmu ketinggalan di mobil, dasar ceroboh," imbuh Ega seraya mengeluarkan ID card milik Indhi, pria itu lalu mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Sakit kak," rengek Indhi.
"Masuk sana, jam kerjamu sebentar lagi di mulai," titah Ega, pria itu kembali mengusap rambut istrinya.
Indhi mengalungkan ID cardnya di leher, bukan untuk memanasi Dokter Ilham, gadis itu berjinjit dan mengecup pipi suaminya sebagai ucapan terima kasih, hal itu tentu saja membuat Ega dan Dokter Ilham terkejut.
"Ucapan terimakasih," bisik Indhi, gadis itu lalu meninggalkan Ega dan melewati Dokter Ilham tanpa sepatah katapun.
"Anda lihat kan? Kami bahagia dengan pernikahan kami, jadi berhenti mengganggu Indhi!"
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti ancaman, Ega berlalu meninggalkan Rumah Sakit, meski sempat merasa kesal melihat Dokter Ilham menyentuh istrinya, namun kecupan yang Indhi berikan mengobati rasa kesalnya, justru sekarang seperti ribuan bunga bermekaran di hatinya, pria itu merasa sangat bahagia.
Sepertinya malam ini adalah malam yang penuh kejutan, setelah gagal bercinta karena tiba-tiba datang bulan, mendapat kecupan dari suaminya, lalu bertemu dengan mantan tunangannya, kali ini Indhi kembali di buat terkejut melihat kehadiran Bella di Rumah Sakit tempatnya bekerja, gadis itu menatap nyalang adik tirinya yang kini tengah bergabung bersama rekan-rekannya di UGD.
"Malam dok, anda baru datang?" tanya salah seorang perawat yang kebetulan dinas malam bersama Indhi.
"Iya, jalannya macet," jawab Indhi ramah, sesaat ia melirik Bella. "Siapa dia, apa perawat baru?" tanya Indhi pada rekannya seolah ia tak mengenal Bella.
"Ah, dia Apoteker baru di Departmen Umum dok," jawab rekan Indhi.
"Perkenalkan, nama saya Bella dok, mohon bimbingannya, semoga kita akur kedepannya," Bella menjulurkan tangannya ke arah Indhi, dengan senyuk kaku Indhi beraih tangan Bella, keduanya saling berjabat dan saling menatap dengan tatapan yang sukar di artikan.
"Saya Indhi, selamat bergabung di Departmen Umum, semoga betah dan tidak menimbulkan masalah," ucap Indhi di selingi sindiran di dalam kata-katanya.
Bella tersenyum kecut mendengar ucapan Indhi. "Tentu saja dok," jawabnya. "Tentu saja aku akan membuatmu dalam masalah," gumamnya di dalam hati, senyum kecutnya berubah menjadi seringai di wajahnya yang terbilang mirip dengan Indhi.
BERSAMBUNG...