
Setibanya di rumah, Indhi masih merasa jengkel saat mengingat Ega tersenyum kepada wanita yang mereka temui di tempat penjual sate, entah apa yang terjadi sehingga Indhi bersikap kekanakan, padahal biasanya ia tak pernah merasa kesal saat melihat Ega bersama rekan dokter wanitanya.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Ega kebingungan, pasalnya sejak tadi Indhi acuh padanya.
"Gak papa," jawab Indhi singkat.
"Aku salah apa? Please jangan buat aku bingung!" Ega sedikit meninggikan suaranya, namun bukan membetak ia hanya frustrasi karena Indhi sangat cuek.
"Kakak membentakku?" Indhi menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, sungguh perasaannya seperti sedang di aduk-aduk.
Ega menyugar rambutnya dengan kasar, namun bukannya marah, Ega justru memeluk Indhi dengan erat. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya ingin tau kesalahan apa yang sudah aku buat?" balas Ega dengan lembut, melihat mood Indhinya yang berubah-ubah membuat Ega yakin jika istrinya pasti sedang PMS (Premenstrual Syndrome).
Sebenarnya, apa yang menyebabkan seorang wanita cenderung menjadi lebih sensitif saat menstruasi? Ternyata, kadar hormon estrogen yang fluktuatif dalam tubuh memainkan peran yang penting terhadap kondisi ini. Ketika fase ovulasi atau lepasnya sel telur, hormon estrogen dalam tubuh akan mencapai kadar paling tinggi.
Jika pada fase ovulasi pembuahan tidak terjadi, tubuh akan memasuki fase pramenstruasi. Kadar estrogen pada fase ini akan menurun drastis sebelum pada akhirnya meningkat lagi.
Ada banyak sekali efek estrogen terhadap tubuh. Hormon satu ini bisa memengaruhi produksi sekaligus efek dari endorfin jika dihubungkan dengan suasana hati. Endorfin sendiri merupakan unsur pada otak yang berperan menghadirkan kenyamanan dan kesenangan. Hormon satu ini juga membantu meningkatkan kadar serotonin yang berperan dalam pola tidur, suasana hati, dan nafsu makan.
Meski sempat kesal, namun Ega mencoba memahami istrinya karena menjadi wanita tidaklah mudah. "Bisa katakan apa salahku?" Ega kembali bertanya saat merasa Indhi mulai tenang.
Indhi mengurai pekukan suaminya, wanita itu menatap wajah Ega dengan tatapan yang masih menyimpan kekesalan. "Iya sama-sama," ucap Indhi mengulangi perkataan Ega pada wanita asing di warung sate. "Cih, aku tidak menyangka kakak begitu lembut pada wanita lain."
Ega sontak tertawa, kini ia tau apa yang menyebabkan istrinya marah-marah tanpa alasan.
"Kamu cemburu?" tebak Ega dengan wajah berbunga-bunga, sepanjang pernikahan mereka akhirnya Ega mendapati Indhi mencemburuinya.
"Tidak," sangkal Indhi dengan cepat.
"Oh ya. Seharusnya tadi aku minta kenalan juga ya sama mbak-mbak itu!
Indhi kembali menatap sinis suaminya, rasanya ia begitu kesal saat mendengar ucapan Ega, padahal Indhi tau jika Ega hanya sedang menghodanya saja.
"Hahaha. Terima kasih Tuhan," ucap Ega sambil tertawa, hal itu justru membuat Indhi bingung.
"Kenapa kakak tertawa?"
"Aku sangat bahagia karena akhirnya kamu cemburu padaku," ujar Ega penuh kebanggaan. "Jangan marah lagi ya, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan membantu wanita lain lagi."
"Bukan begitu maksudku. Kakak boleh menolong wanita lain, tapi jangan pernah tersenyum, kalau perlu kakak harus selalu memakai masker agar wajah tampan kakak tidak kelihatan!" terang Indhi panjang lebar, namun Ega hanya menanggapinya dengan senyuman yang berhasil membuat mood Indhi kembali membaik.
"Sudahlah aku mau tidur!" Indhi meninggalkan Ega dan berjalan menuju tangga. Belum sempat kakinya mengijak anak tangga, namun ia merasakan jika tubuhnya melayang di udara, kakinya bahkan tak menyentuh lantai.
"Kak, lepaskan!" protes Indhi saat menyadari Ega tengah menggendongnya ala pengantin.
"Tidak!"
"Hish, terserah."
Indhi reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Ega, wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, jangan sampai Ega melihat ia sedang tersenyum lebar saat ini, padahal baru beberapa menit yang lalu dia marah-marah hanya karena masalah sepele.
Namun tiba-tiba Indhi merasa mual setelah mencium bau parfum sang suami, rasa mualnya semakin hebat, ia lalu memaksa turun dari gendongan dan berlari menuju kamar mandi.
Ega yang panik juga segera mengejar istrinya,.di dalam kamar mandi, Ega mendapati istrinya tengah memuntahkan semua isi perutnya, dengan cepat Ega segera memijat leher belakang Indhi.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ega khawatir.
Indhi menyiram bekas muntahannya, ia lalu membersihkan mulutnya. "Aku baik-baik saja kak. Mungkin karena aku makan terlalu banyak," jawab Indhi pelan, rasanya tenaganya ikut terkuras habis.
Sementara Indhi memutuskan untuk rebahan karena kepalanya juga terasa pusing. "Astaga, apa asam lambungku naik ya?" ucapnya bermonolog.
Tak lama Ega kembali ke kamar, ia lalu membantu Indhi untuk duduk dan minum air hangat. "Apa kamu keracunan sate?" ujar Ega menduga-duga.
"Kalau satenya beracun kakak juga ikut muntah-muntah. Mungkin asam lambungku naik kak, tadi satenya pedes kan?"
"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat sekarang," Ega mengecup kening Indhi hingga tanpa sengaja Indhi kembali mencium bau parfum di baju Ega.
Indhi kembali berlari ke dalam kamar mandi, ia kembali muntah namun kali ini hanya cairan bening yang keluar dari perutnya.
Dengan wajah panik Ega menyusul Indhi, pria itu terkejut melihat istrinya begitu pucat. "Kita ke Rumah Sakit seka..."
Bruk...
Belum sempat Ega menyelesaikan ucapannya, Indhi lebih dulu jatuh tak sadarkan diri, untung saja Ega sigap menangkap tubuh istrinya.
"Sayang bangun," ucap Ega dengan panik, pria itu lalu menggendong istrinya keluar dari kamar mandi.
Ega merebahkan tubuh Indhi di atas tempat tidur, ia lalu meraih peralatan medis miliknya dan segera memeriksa kondisi sang istri. "Kenapa tekanan darahnya sangat rendah?" ucapnya pada diri sendiri. Karena khawatir terjadi sesuatu kepada istrinya, Ega memutuskan membawa Indhi ke Rumah Sakit agar Indhi mendapatkan perawatan yang lebih baik. Meski Ega seorang dokter, namun ia tidak bisa mendiagnosis penyakit istrinya tanpa bantuan alat-alat medis yang lebih canggih.
Setengah jam kemudian, Ega tiba di UGD Rumah Sakit tempatnya bekerja. Dokter yang berjaga di UGD segera memeriksa kondisi Indhi.
"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Ega dengan wajah khawatir.
"Tekanan darah Dokter Indhi masih masih rendah, Dokter Indhi juga mengalami dehidrasi. Saya juga sudah memeriksa kondisi perutnya , sepertinya Dokter Indhi saat ini sedang hamil. Untuk lebih jelasnya kami akan melakukan tes hCG (Human chorionic gonadotropin).
"Ha-hamil?" ulang Ega tak percaya.
"Iya dok. Kami akan segera mengambil sampel darah untuk memastikannya."
Ega terpaku di tempatnya, antara percaya dan tidak percaya. Pasalnya baru lima minggu pasca Indhi keguguran. Ega khawatir jika benar-benar Indhi hamil akan berpengaruh pada rahim istrinya.
Selagi menunggu hasil tes darah, Ega menamani Indhi dan menunggu istrinya bangun. Tangannya masih setia menggenggam telapak tangan mungil milik istrinya.
"Kak," panggil Indhi lirih, karena terlalu mengkhawatirkan kondisi istrinya, Ega bahkan tidak menyadari jika Indhi sudah siuman.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga. Aku sangat takut," ucap Ega penuh kelegaan.
"Kenapa kita di Rumah Sakit kak?" tanya Indhi setelah menyadari ia berada di UGD, tempat yang tak asing baginya.
"Kamu pingsan. Dokter sedang melakukan tes darah untuk memastikan apa yang terjadi denganmu."
Indhi hanya mengangguk, tubuhnya masih terasa lemas.
Tak lama kemudian, dokter kembali masuk ke UGD dengan membawa hasil tes darah Indhi.
"Bagaimana dok?" tanya Ega penasaran.
"Menurut hasil tes, kadar hormon hCG cukup tinggi dan menunjukan Dokter Indhi positif hamil. Tapi untuk lebih jelasnya, kalian bisa menemui Dokter Nanda atau Dokter Spesialis Kandungan yang lain untuk memastikan usia kandungannya. Selamat Dokter Kevin, selamat Dokter Indhi."
Indhi dan Ega saling menatap dengan perasaan yang sulit di gambarkan. Mereka masih tak percaya jika Tuhan akan secepat itu memberikan kepercayaan lagi kepada mereka.
"A-aku hamil."
BERSAMBUNG...