
Siang yang begitu cerah, gumpalan awan putih menghiasi hamparan langit biru yang seakan ikut merasakan kebahagian Arum dan Dion.
Setelah mengucapkan ikrar pernikahan, kini Arum dan Dion siap menyandang status baru mereka sebagai sepasang suami istri. Senyum tak hilang sedikitpun dari wajah Arum, wajahnya begitu berbinar layaknya langit cerah di luar sana.
Bagaimana Arum tak bahagia, perjalanannya untuk sampai di atas altar bersama pria pujaannya tidaklah mudah. Lelah, kecewa dan rasa sakit selalu menemaninya saat ia berjuang merebut hati pria yang kini resmi menjadi suaminya.
Jika kau percaya cinta sejati, mungkin Arum lah salah satu contohnya, sejak awal ia jatuh cinta, hatinya hanya tertaut pada satu pria, pilihannya tak pernah berubah meski banyak opsi lain di dalam hidupnya.
Mungkinkah ini yang di sebut dengan 'tiada perjuangan yang sia-sia'?"
Saat ini kedua mempelai tengah menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan, senyum bahagia terpancar jelas di wajah keduanya.
Tiba saatnya Indhi dan Ega untuk meberikan selamat kepada Arum dan Dion, namun sudah beberapa menit Indhi berdiri di hadapan Arum namun wanita itu sama sekali tak bersuara. Hanya senyum dan buliran bening yang menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Indhi terlalu bahagia hingga ia tak bisa mengatakan apapun untuk sahabatnya, sahabat terbaik yang mungkin rela mati hanya untuk dirinya.
"Kamu tidak mau mengucapkan selamat untukku?" Ucap Arum pelan, sebenarnya ia tau apa yang sedang di rasakan Indhi, namun Arum harus segera menghentikan air mata Indhi sebelum ia juga ikut menagis.
"A-Aku sa-ngat baha-gia," ucap Indhi dengan suara terputus-putus, air matanya masih belum mau berhenti.
"Jangan menangis, nanti aku ikut menangis!" Arum mulai menahan air matanya, Indhi benar-benar membuatnya ingin menangis sekencang-kencangnya.
"Sayang jangan menangis lagi. Ini hari bahagia Arum, seharusnya kamu tersenyum bukan menangis," ujar Ega dan berusaha menenangkan istrinya.
"Ak-u terlalu baha-gia sampai aku tak ingin berhenti menangis."
"Kalau begitu kita pergi dulu, kalau sampai Arum menangis bisa-bisa pesta pernikahan ini bubar. Selamat untuk kalian berdua ya, aku ikut bahagia. Semoga pernikahan kalian di berkahi kebahagiaan."
Ega lalu membawa istrinya turun dari pelaminan dan mengajaknya duduk untuk menenangkan diri. Ega memberikan segelas air putih kepada Indhi agar ia merasa lebih baik.
"Sayang kamu ini kenapa sensitif sekali?" tanya Ega seraya membenahi riasan Indhi yang mulai luntur dengan tisu.
"Aku juga nggak tau kak," sahut Indhi dengan suara serak, bahkan kini matanya bengkak karena menagis terlalu lama. "Mungkin karena aku terlalu bahagia."
Langit mulai gelap, acara pernikahanpun telah usai, para tamu sudah meinggalkan ballrom tempat acara berlangsung, hanya tinggal keluarga besar Arum dan Dion yang masih berada di dalam ballroom untuk melakukan sesi foto bersama. Tak ketinggalan Ega dan Indhi, serta Dita dan Dokter Aditya ikut mengabadikan momen bahagia itu.
Setelah acara selesai, Indhi dan Ega pulang terlebih dahulu karena seharian ini Indhi merasa tubuhnya kurang enak badan, sementara Dita dan Dokter Aditya menyusul setelahnya.
Di lobby hotel, tiba-tiba Arum mengingat saran dari kedua sahabatnya untuk memberikan hak Dokter Aditya sebagai suami, entah menadapat keberanian dari mana tiba-tiba Dita menahan lengan suaminya. Dokter Aditya lantas menghentikan langkahnya, pria itu berbalik dan menatap istrinya penuh tanya.
"Ada apa?" tanyanya bingung karena tiba-tiba Dita menahannya.
"Aku ingin menginap di sini?" ucap Dita pelan, namun masih terdengar oleh Dokter Aditya.
"Kenapa tiba-tiba ingin menginap?" Dokter Aditya kembali bertanya karena ia merasa aneh dengan sikap Dita.
"Aku hanya ingin merasakan menginap di hotel mewah," bohong Dita, ia tak mungkin mengaku jika ia akan memberikan hak suaminya dengan suka rela.
"Kamar untukku? Hanya untukku? Bukan kamar kita? Jadi hanya aku yang akan menginap? Apa dia tidak ingin menginap bersamaku?"
Kepada Dita di penuhi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya merasa kecewa, namun ia juga tidak bisa memaksa suaminya untuk ikut menginap,
"Ayo ke atas, aku akan mengantarmu," ucapan Dokter Aditya sontak membuat Dita tersadar dari lamunan panjangnya, dengan langkah berat ia mengikuti suaminya menuju kamar hotel yang sudah di pesan Dokter Aditya.
"Anggap saja aku sedang staycation sendirian," batin Dita.
Mereka sudah berada di depan kamar kotel, Dokter Aditya sengaja memesankan kamar VVIP untuk istrinya agar Dita merasa nyaman menginap di hotel. Kedua orang itu lalu masuk ke dalam kamar hotel, betapa terkejutnya Dita melihat kamar yang begitu luas dengan desai interior yang sangat megah. Dita bahkan menatap takjum, ranjang berukuran raksasa yang akan menjadi tempat tidurnya malam ini.
"Tidak masalah kalau aku harus menginap sendirian," batin Dita lagi, sebenarnya ia hanya sedang menutupi hatinya yang terasa hampa.
"Ini kartu aksesnya, kamu bisa memesan makanan apapun dari kamar ini," Dokter Aditya memberikan kartu tersebut dan di terima Dita dengan senyum yang di paksakan. "Aku harus pulang karena besok pagi ada operasi."
Dita hanya diam tak menyahuti ucapan suaminya, ia merasa kurang nyaman saat melihat punggung Dotker Aditya yang semakin menjauh. Sepertinya Dita sudah tersugesti oleh ucapan kedua sahabatnya, tiba-tiba ia takut kalau suaminya yang tampan dan kaya raya itu di ambil oleh wanita lain.
"Mas," panggil Dita saat suaminya sudah berada di depan pintu.
"Kamu butuh sesuatu?" Dokter Aditya berbalik dan menatap istrinya.
Dita memberanikan diri untuk mendekati suaminya, meski langkahnya terasa berat namun ia terus melangkahkan kakinya hingga mengikis jarak di antara mereka. "Tidak bisakan kamu menemaniku di sini?"
Dokter Aditya terkejut mendengar ucapan istrinya, karena untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka Dita menginginkan sesuatu darinya.
"Maaf, tapi aku harus menyiapkan beberapa dokumen untuk operasi besok," jawab Dokter Aditya, sebenarnya ia juga ingin menginap bersama istrinya, hanya saja ia takut hilang kendali dan kembali menyentuh Dita. Meski Dita sudah resmi menjadi istrinya, namun Dokter Aditya tidak ingin menyentuh Dita tanpa izin dari wanita itu.
"Mas, kamu yakin tidak ingin bercerai denganku?"
Pertanyaan Dita lagi-lagi membuat Dokter Aditya merasa bingung dengan sikap istrinya.
"Sudah aku katakan. Pernikahan adalah hal yang suci dan aku hanya akan melakukannya sekali seumur hidup," tegas Dokter Aditya dengan tatapan tajam.
"Kalau begitu temani aku dan izinkan aku melakukan kewajibanku."
"A-apa maksudmu?" Dokter Aditya bertanya dengan bola mata yang membesar, ia kembali di kejutkan oleh istrinya.
"Aku siap melakukannya lagi. Aku akan memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. Kalau benar kamu tidak ingin menceraikanku, maka sentuh aku sehingga pernikahan kita memiliki sebuah tujuan. Aku ingin memiliki anak darimu dan kita menjadi keluarga yang bahagia."
"Kamu serius?"
BERSAMBUNG...