Marry me, Brother

Marry me, Brother
Masak untuk suami



Hari masih sangat pagi, namun Indhi sudah membuka matanya karena ia ingin berlatih menjadi istri yang baik dan berencana menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dengan sangat hati-hati gadis itu melepaskan diri dari dekapan Ega. Saat bergerak,sesuatu yang di bawah sana kembali terasa nyeri, namun Indhi menahannya dan segera ke kamar mandi. Langkahnya tertatih dan perlu banyak perjuangan untuknya sampai ke dalam kamar mandi


Setelah melewati banyak drama di dalam kamar mandi, Indhi segera turun ke dapur, gadis itu memeriksa kulkas dan mencari bahan makanan yang bisa ia masak pagi ini. Indhi membuang nafas kasar karena kulkasnya di penuhi oleh sayuran hijau.


Mata Indhi berbinar saat mendengar pintu gerbang rumahnya terbuka, gadis itu berlalu dan membukakan pintu utama. Melihat sang majikan menyambut kedatangannya tentu saja membuat bi Sumi merasa heran, berpuluh taun bekerja bersama keluarga bu Tika baru sekali ini wanita itu melihat Indhi bangun pagi-pagi sekali.


"Ada apa non? Kenapa pagi sekali bangunnya?" tanya bi Sumi penasaran.


"Ajarin aku masak bi!" seru Indhi dan berhasil membuat bi Sumi terkejut saking tak percayanya.


"Masak?" ulang bi Sumi sekedar memastikan jika ia tak salah dengar. Indhi mengangguk dengan cepat, gadis itu tersenyum seperti orang bodoh. "Tapi ini masih pagi non?" imbuh bi Sumi.


"Aku mau bikin sarapan buat kakak bi, bantu aku ya," pinta Indhi.


Sekilas bu Sumi tersenyum, lalu wanita itu mengangguk dan mengajak majikannya itu untuk masuk dan kembali ke dapur. "Mau masak apa non?" tanyanya setelah mereka di dapur.


"Yang gampang dulu aja bi."


"Bagaimana kalau nasi goreng non? Mas Ega juga suka bikin nasi goreng buat non kan?"


"Boleh bi."


"Bibi bikin nasinya dulu, nanti satu jam lagi non Indhi kesini lagi kalau nasinya udah mateng, lebih baik sekarang non kembali dulu ke kamar," ujar bi Sumi karena tidak tega melihat Indhi menunggu di dapur, sungguh sebuah keajaiban dimana tukang makan itu tiba-tiba ingin belajar memasak.


Indhi akhirnya kembali ke kamarnya, dari pada bingung mau ngapain akhirnya ia memutuskan untuk menyiapkan baju untuk suaminya, gadis yang sudah tidak gadis lagi itu bersemangat memilih baju yang akan di pakai oleh suaminya hari ini. Setelah menyiapkan baju, ia bingung harus berbuat apa lagi, wanita itu hanya mondar-mandir di kamarnya sambil menghitung detik demi detik waktu yang berjalan. Hingga satu jam lamanya ia cosplay jadi setrika, Indhi lalu kembali turun untuk masak nasi goreng.


Di dapur bi Sumi sudah menunggunya, wanita itu sudah menyiapkan bumbu-bumbu yang akan di gunakan untuk membuat nasi goreng.


"Ini namanya bawang merah non, ini bawang putih dan ini cabai," jelas bi Sumi menunjuk satu per satu bumbu yang ada di atas cobek batu.


"Indhi tau namanya bi, Indhi tidak sebodoh itu," protes Indhi karena menurutnya asisten rumah tangganya itu terlalu menyepelekannya.


Bi Sumi hanya terkekeh, ia lalu membiarkan Indhi untuk memgulek bumbu itu. Awalnya Indhi sedikit kesulitan, namun lama-lama tangannya terbiasa dengan ulekan yang terbuat dari batu.


"Tuang telornya lalu orak orik kasar non!" Indhi melakukan yang di perintahkan oleh bi Sumi. Untuk memasak nasi goreng sebenarnya ia tak terlalu kesulitan karena dulu mendiang Zean sering mengajarinya cara membuat nasi goreng.


"Masukkin bumbunya non, kalau dah harus tinggal masukin nasi dan toping lainnya," lanjut bi Sumi.


Setelah pertempuran yang melelahkan, akhirnya Indhi berhasil membuat nasi goreng untuk sarapan suaminya, bahkan saking asiknya memasak, Indhi sampai tak menyadari jika Ega sejak tadi sedang menontonnya. Indhi meraih piring yang sudah di siapkan bi Sumi, ia lalu mengisinya dengan nasi goreng, tak lupa di atas nasi goreng tersebut ia beri toping telur mata sapi setengah mateng dan tomat yang sudah di iris.


"Selesai, kak Ega pasti menyukainya," ujarnya penuh semangat.


"Aku pasti akan menyukainya sayang," ucap Ega tiba-tiba, pria itu berhasil membuat istrinya tersentak kaget.


"Kakak," suara Indhi tercekat saat melihat suaminya tengah duduk di kursi meja makan.


"Mana nasi gorengnya," pinta Ega seraya melirik piring yang ada di tangan istrinya.


Indhi lalu membawa nasi goreng buatannya ke atas meja makan, gadis itu nampak sangat khawatir jika masakannya tidaklah enak. Indhi menatap saat Ega menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, pria itu hanya manggut-manggut menandakan jika masakan Indhi rasanya enak.


"Apakah enak kak?" tanya Indhi penasaran.


"Lumayan juga," jawab Ega, pria itu lalu meraih segelas air putih dan meminumnya hingga habis.


"Aku mau nyobaik kak," Indhi akan merampas sendok milik Ega, namun pria itu buru-buru menarik piringnya menjauh.


"Ini milikku, kamu sarapan yang lain," tolak Ega.


"Dasar pelit," gerutu Indhi. "Aku mau mandi," pamitnya karena waktu sudah mulai siang.


"Ya sana," bukannya menahan, Ega justru membiarkan istrinya pergi. Setelah Indhi tak terlihat lagi, pria itu menenggak habis satu gelas susu yang di siapkan oleh Indhi.


"Dia pasti tidak bisa membedakan mana gula, garam dan micin."


BERSAMBUNG...