Marry me, Brother

Marry me, Brother
Keras kepala



Ega melepaskan pelukannya, pria itu lalu beralih pada Indhi dan segera memeluknya. "Terima kasih sayang. Aku janji akan menjaga kalian sebaik mungkin. Dan demi kesehatan kalian, aku mau kamu cuti sampai bayi kita lahir!"


"Apa?" pekik Indhi tertahan, ia lalu melepaskan pelukan suaminya dan menatapnya dengan tatapan yang sukar di jelaskan.


"Aku mau kamu cuti sampai bayi kita lahir!" ulang Ega penuh penekanan di setiap kata-katanya.


"Tidak bisa kak, aku akan tetap bekerja seperti biasa," tolak Indhi dengan cepat, bagaimana mungkin ia cuti selama itu.


"Aku hanya ingin kamu dan bayi kita baik-baik saja," ucap Ega dengan suara yang lebih keras.


"Aku tau, tapi tidak dengan cuti selama setahun. Aku bisa meminta bantuan kak Adit untuk menghilangkan jadwal jaga malam sampai aku melahirkan!" Indhi tak mau kalah, kali ini ia menganggap sikap Ega keterlaluan.


"Tetap saja, aku tidak mau kamu kecapean. Please, kali ini saja dengarkan perkataan suamimu!"


"Aku seorang dokter kak, apa jadinya jika seorang dokter berdiam diri di rumah dan tidak memanfaatkan keahliannya untuk mengobati orang lain. Kali ini kakak keterlaluan, maaf aku tidak bisa menuruti keinginan kakak," Indhi menatap tajam suaminya, tampak begitu jelas sorot kekecewaan kepada suaminya.


"Kamu sangat keras kepala!"


Untuk pertama kalinya Ega membetak istrinya, hal tersebut tentu saja segera di sesalinya, namun rasa takutnya yang berlebihan membuat Ega tetap pada pendiriannya, ia ingin Indhi cuti selama hamil.


"Aku keras kepala? Lalu bagaimana dengan kakak? kakak juga seorang dokter, bagaimana mungkin kakak memintaku cuti selama sembilan bulan? Itu namanya kakak egois!" teriak Indhi yang mulai terbawa emosi.


"Ya aku memang egois, dan itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin kehilanganmu dan anak-anak kita!"


"Sudah cukup!" sela bu Tika yang sejak tadi hanya diam menyaksikan perdebatan sepasang suami istri tersebut. Sementara Dokter Nanda hanya diam membisu menonton pertengkaran rekan kerjanya.


Ega dan Indhi menoleh ke arah ibunya, kedua orang itu lalu menunduk dan menyesali perbuatan mereka, tak seharusnya mereka bertengkar di depan ibu mereka.


"Ega, ibu tau kamu mengkhawatirkan kondisi Indhi dan bayi kalian. Tapi nak, meminta Indhi cuti selama 9 bulan itu sama saja seperti kamu mengurungnya. Wanita hamil itu tidak boleh stres, kalau Indhi hanya diam di rumah apa kamu yakin dia tidak akan stres? Kalau sampai Indhi stres, hal itu juga tidak baik untuk kandunganya. Benar kata Indhi, kamu bisa meminta bantuan nak Adit untuk menghilangkan shift malam Indhi. Kalian ini kerja di tempat yang sama, kamu bisa menjaganya dari dekat, kalau Indhi hanya di rumah siapa yang akan menjaganya?" ucap bu Tika dengan bijak.


"Dan untuk Indhi, tidak baik berbicara kasar dengan suamimu. Ega memang sedikit berlebihan, namun bukan berarti kamu menjadi tidak hormat dengan suamimu!"


Kedua orang itu diam sesaat, memcerna dengan baik nasihat yang di sampaikan oleh ibu mereka.


"Maaf bu," ucap mereka bersamaan, keduanya lalu saling menatap satu sama lain, namun detik berikutnya mereka sama-sama membuang muka dan mengalihkan pandangan mereka.


"Bicarakan hal ini baik-baik," tegas bu Tika, wanita itu lalu meraih tasnya dan berniat pergi memberikan ruang untuk suami istri itu membicarakan masalah mereka.


"Ibu mau kemana?" tanya Indhi saat melihat ibunya akan pergi.


"Ibu lapar, ibu mau makan," sahut bu Tika tanpa menoleh, lalu wanita itu menghilang di balik pintu.


"Aku juga mau istirahat, kalian bisa memakai ruangan ini untuk bicara," pamit Dokter Nanda.


"Tidak masalah dok, hal ini sering terjadi kepada pasangan muda. Kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya anda dengarkan perkataan ibu anda. Saya yang akan mengawasi Indhi secara langsung, Dokter Kevin tidak perlu khawatir."


"Baik dok, terima kasih sarannya."


Dokter Nanda hanya mengangguk sambil tersenyum, dokter itu lalu keluar dari ruangannya untuk istirahat makan siang.


Kini hanya ada Ega dan Indhi, kedua manusia itu masih mengunci rapat mulut masing-masing.


Tak tahan dengan aksi saling diam itu, Indhi berusaha turun dari tempat tidurnya, namun dengan cepat Ega membantu Indhi turun dan mendudukkannya di atas kursi roda.


Tanpa berkata apapun, Ega mendorong kursi roda istrinya menuju kamar rawat inapnya, setibanya di dalam kamar, Ega kembali menggendong Indhi dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Istirahatlah. Aku harus kembali bekerja!" ucap Ega dengan wajah datar, setelah menyelimuti tubuh bagian bawah istrinya, Ega benar-benar meninggalkan ruang rawat tersebut.


"Dia benar-benar posesif," gerutu Indhi seraya mengamati punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.


Setelah sampai di ruangannya, Ega segera mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya, ia lalu bersandar di kursi dan memijat kedua pelipisnya.


"Ega bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa kamu membentak Indhi," maki Ega pada dirinya sendiri. Setelah lama merenungi perbuatannya, Ega langsung memeriksa jam yang melingkar di tangannya.


"Aku masih punya waktu satu jam lagi sebelum operas," ucapnya pada diri sendiri, pria itu lalu beranjak dari kursinya dan berlari munuju ruang rawat inap istrinya.


Setibanya di kamar, Ega menghampiri tempat tidur istrinya, segala bentuk penyesalan kembali menyeruak di hatinya saat melihat Indhi tengah tertidur dengan wajah sembab dan mata yang sedikit bengkak.


"Maafin aku sayang. Kamu pasti sangat sedih karena aku membentakmu tadi," lirih Ega seraya menatap wajah istrinya, pria itu lalu duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur Indhi dan menunggu istrinya yang sedang tertidur pulas.


Setengah jam kemudian, Indhi merasa haus, ia membuka matanya dan tekejut melihat Ega tertidur dalam posisi duduk.


"Sejak kapan dia datang," batin Indhi, ia lalu duduk dan meraih gelas yang berada di atas nakas dengan hati-hati, ia tak mau membangunkan Ega karena ia tau semalaman ini Ega sama sekali tidak tidur.


Ega yang begitu peka terhadap suara segera membuka matanya saat ia mendengar bunyi gelas yang di letakkan di atas meja. "Kamu sudah bangun. Maaf aku malah ketiduran," ucap Ega seraya meraup wajahnya dengan telapak tangan.


"Hem, aku haus," jawab Indhi cuek. Ia masih sangat kesal dengan suaminya.


Melihat wajak kesal istrinya, Ega lalu memeluk tubuh Indhi dengan sangat erat. Nyatanya ia tidak sanggup jika harus perang diam dengan istrinya. Lihatlah, bahkan belum ada satu jam sejak mereka bertengkar dan sekarang Ega tidak sanggup di cuekin istrinya.


"Sayang, aku memang egois. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu tadi," ucap Ega penuh sesal, pekukannya bahkan semakin erat. "Aku akan menuruti semua keinginanmu, aku tidak akan melarangmu cuti selama hamil lagi. Tapi berjanjilah kamu harus bisa menjaga diri dan menjaga anak-anak kita!"


BERSAMBUNG...