Marry me, Brother

Marry me, Brother
Twilight



Saat jam makan siang, Ega baru menyelesaikan jam kunjungnya, pria itu kembali ke dalam ruangannya dengan wajah lelah. Namun saat tiba di dalam ruangan, wajah lelahnya berubah menjadi kesal saat melihat sahabatnya berada di dalam ruangannya.


"Ada apa?" tanya Ega cuek, ia melepaskan jas putihnya dan duduk di kursi kerjanya.


"Tidak ada. Aku hanya merindukan sahabatku," jawab Dokter Aditya asal-asalan.


"Orang lain akan mengira kita itu jeruk makan jeruk kalau kamu terus saja menempel padaku Dit!"


"Biar saja, itu tandanya kita adalah sahabat sejati!"


Ega hanya diam tak menanggapi lelucon sahabatnya, pria itu lebih memilih diam dan memijat pangkal hidungnya, berkali-kali Ega membuang nafas dengan kasar.


"Melihat wajahmu aku semakin tidak tertarik untuk menikah." ujar Dokter Aditya.


Ega menghentikkan aktivitasnya, pria itu mebenahi posisi duduknya dan kini menatap tajam sahabatnya. "Ada apa dengan wajahku? Jangan gunakan wajah tampan ini sebagai alasan, kamu bukannya tidak tertarik menikah, hanya saja tidak ada yang mau dengan pria perfeksionis sepertimu!"


"Kenapa kamu senang sekali menghinaku sih," gerutu dokter berwajah oriental itu. "Pantas saja wajahmu murung, itu adalah karma karena kamu menghina jomblo sepertku," kata Doter Aditya tak mau kalah dari ejekan sahabatnya. "Apa menikah sangat memusingkan?" tanyanya lagi karena penasaran mengapa Ega terus saja menghela nafas panjang.


"Dit," panggil Ega.


"Kenapa?"


"Sepertinya Indhi marah padaku," Ega mulai angkat bicara, sepertinya ia membutuhkan pakar cinta meski ia memilih pakar yang salah, seorang pakar cinta yang bahkan tidak memilili kekasih.


"Kenapa? Apa kamu melakukannya dengan sangat bersemangat dan melukai istrimu, sepeti yang ada di film Twilight?


"Bukan begitu, lagi pula aku bukan Vampire. Sebenarnya kami ... " Ega menggantung kalimatnya, ia sedikit ragu untuk bercerita kepada Dokter Aditya karena sudah di pastikan pria itu akan mentertawakannya.


"Kalian kenapa? Kalian udah Making Love? Terus kenapa wajahmu murung?" cecar Dokte Aditya dengan sejuta rasa keingin tauannya.


"Kami melakukannya, tapi baru saja masuk dan senjataku tiba-tiba melemah," ungkap Ega pada akhirnya, ia akan menerima jika sabahabatnya akan mentertawakannya.


"Baru saja masuk?" tanya Dokter Aditya setengah tak percaya.


"Ya, baru saja masuk dan aku belum sempat bergerak sedikitpun."


"Jangan-jangan kamu Impoten!" tebak Dokter Aditya.


"Aku rasa bukan karena Impoten, waktu itu karena istriku datang bulan kami melakukannya dengan cara lain dan berhasil. Tapi semalam, senjataku langsung tidur saat melihat Indhi menangis,"


"Aku rasa kamu perlu bantuan Psikiater, kamu terlalu takut melihatnya menangis kan?" tebak Dokter Aditya sekaligus memberikan saran kepada temannya.


"Aku rasa juga begitu Dit."


"Tadi pagi dia membuatkan nasi goreng untukku dan rasanya sangat manis. Aku rasa dia sengaja mengganti garam dan malah memasukkan gula ke dalam nasi gorengnya!"


Dokter Aditya tak bisa menahan tawanya, pria itu terbahak-bahak hingga matanya berair. Tapi saat melihat wajah temannya mengeras, pria itu segera menghentikan tawanya meskipun sebenarnya sangat sulit untuk tidak tertawa.


"Menurutku jelas kenapa Indhi marah. Sama halnya dengan kita, wanita juga perlu ******* bro, rasanya sangat menjengkelkan ketika kita tidak bisa mencapi puncak."


"Sudahlah, aku lapar. Ayo ke kantin sekarang!"ajak Ega setelah mencurahkan keluh kesahnya, sepertinya ia memang harus menemui Psikiater seperti yang di sarankan oleh sahabatnya.


Kedua pria itu lalu keluar dari ruangan Ega dan berjalan menuju kantin. Setelah mengambil nasi dan lauk pauk mereka mencari tempat duduk yang kosong, saat sedang mencari tiba-tiba Dokter Aditya melihat Indhi sedang makan siang dengan seorang perawat. Dokter Aditya tak mau kehilangan kesempatan untuk menjahili sahabatnya.


"Ayo duduk di sana," Dokter Aditya menunjuk kursi kosong yang berada di sebelah Indhi. namun saat Ega menyadari hal tersebut, dia segera menolak ajakan temannya dan memilih menjomblo. "Kenapa? Bukannya dulu kamu sangat bersemangat kalau melihatnya?" sambung Dokter Aditya lagi.


"Sekarangpun masih, tapi aku sangat malu pasanya," ucap Ega mempertegas kata malu dalam kalimatnya.


"Masalah itu harus di hadapi bukan di hindari."


Ega akhirnya menurut dan mengikuti langkah temannya menuju meja Indhi, setelah di sana bukan hanya Indhi yang terkejut karena melihat suaminya, Dokter Aditya tak kalah kaget saat melihat Dita berada di meja yang sama dengan Indhi.


"Kita cari tempat lain saja Ga," bisik Dokter Aditya di telinga sang sahabat,pria itu berencana pergi namun Ega menahannya.


"Masalah harus di hadapi bukan di hindari," jawab Ega seraya tersenyum licik ke arah temannya, pasalnya Ega tau hubungan buruk di antara Dokter Adita dengan Dita.


Tak ingin di nilai menjilat ludah sendiri akhirnya Dokter Aditya duduk di sebelah Dita dan Ega duduk bersama istrinya. Kecanggungan jelas terasa di antara mereka berempat, apalagi saat Ega dan Indhi tak sengaja saling menatap, keduanya merasa kikuk sendiri.


"Kenapa wajahnu murung sekali Ndi?" tanya Dokter Aditya setelah makanannya habis.


"Aku sedang kesal dengan seseorang," jawaban Indhi membuat Ega salah paham, padahal yang membuat Indhi kesal adalah pasien pertamanya.


"Siapa? Apa orangnya ada di sini?" Dokter Aditya melirik Ega sekilas lalu mengulum senyum.


"Tidak ada. Jangan sampai aku bertemu lagi dengan pria badjingan itu," geram Indhi saat mengingat pria muda yang memojokkan istrinya hanya karena masalah selaput dara.


Sementara Ega hanya dian dan tubuhnya menegang karena salah paham dengan cerita Indhi.


"Memangnya apa yang terjadi?" Sela Dita setelah sekian lama diam. Gadis itu merasa kesal karena doanya tidak di kabulkan, ia malah semakin sering bertemu dengan dokter yang di anggapnya gila.


Indhi menceritakan semuanya dengan sedetail mungkin, hal tersebut tentu saja membuat Ega bisa bernafas lega, tanpa di sadari sudut bibirnya terangkat menciptakan sebuah senyum samar.


"Aku rasa dia memang badjingan," timpal Dokter Aditya setelah mendengar cerita Indhi. Pria itu juga merasa heran karena masih ada pria yang tidak mau rugi seperti pasien yang Indhi ceritakan.