
Sejak suaminya berangkat ke luar kota, Indhi tak merasa tenang sama sekali, wanita hamil itu gelisah sepanjang waktu karena sampai siang hari Ega belum juga memberikan kabar darinya.
Indhi sedang berada di kantin bersama dengan Dita, kebetulan hari ini mereka satu shift sehingga bisa makan siang bersama. Namun Dita merasa aneh karena sejak tadi Indhi selalu menghela nafas berat dan makanannya hanya di aduk-aduk saja.
"Kamu mau ganti menu?" tanya Dita, ia khawatir Indhi tidak cocok dengan menu makan siang mereka.
"Tidak," jawab Indhi lesu.
"Terus kenapa nggak di makan? kasian twins, mereka butuh asupan juga."
"Aku khawatir sama kak Ega, dia belum ngasih kabar, seharusnya dia sudah sampai kan?" jujur Indhi dan kembali membuang nafas yang terdengar berat.
"Kamu makan dulu, kalau udah makan nanti aku minta mas Adit buat telefon papa Hendrawan," Dita meraih sendok Indhi dan menyuapkan makanan untuk sahabatnya.
"Bener ya," ucap Indhi dengan mulut penuh.
"Ya, tapi harus habis dulu makanannya!"
Indhi lalu bersemangat untuk menghabiskan makannya, ia tak sabar ingin mendengar suara suaminya. Semenjak hamil dia paling tidak suka berjauhan dengan sang suami.
Setelah makam, Dita dan Indhi berjalan beriringan menuju ruangan Dokter Aditya, namun belum sempat mereka sampai di ruangannya, mereka melihat Dokter Aditya berlari dengan wajah panik, tak lama Dokter Aditya menghampiri keduanya.
"Ada apa mas? Kenapa kamu lari-larian?" tanya Dita seraya menyeka keringat di dahi suaminya dengan sapu tangan miliknya.
"Kita harus ke luar kota sekarang!" jawab Dokter Aditya dengan nafas tersenggal-senggal.
"Kenapa kak? Apa terjadi sesuatu dengan kak Ega?" tanya Indhi dengan wajah panik, matanya bahkan kini sudah berkaca-kaca.
"Ada apa sih mas?" Dita menimpali.
"Mobil yang di tumpangi papah dan Kevin kecelakaan, mereka di rawat di rumah sakit sekarang!"
Deg...
Seolah dunianya runtuh, tubuh Indhi seketika lemas, wanita hamil itu limbung dan untung saja Dita sigap menahan tubuh Indhi. Buliran bening mulai menetes di wajahnya yang memucat, ketakutan seketika memenuhi kepalanya. Bayangan akan kematian Zean kembali menghantui pikirannya. Indhi tidak siap jika ia harus kehilangan Ega.
"Me-mereka baik-baik saja kan kak?" tanya Indhi dengan bibir bergetar.
"Aku belum tau. Kita harus kesana sekarang. Kamu kuat kan?" jawab Dokter Aditya dengan wajah frustrasi, pasalnya ia hanya di hubungi oleh pihak kepolisian tanpa tau keadaan tuan Hendarwan serta Ega.
"Ak-aku kuat kak, ayo kita berangkat sekarang!" jawab Indhi bohong, padahal untuk berdiri sendiri saja ia tak bisa menahan beban tubuhnya.
"Aku ikut ya mas," pinta Dita.
"Ya, ayo kita berangkat sekarang!"
Dita memapah Indhi menuju mobil Dokter Aditya yang sudah menunggu mereka di depan lobby, kedua wanita itu masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang sementara Dokter Aditya akan mengemudi.
"Dit, jaga Indhi baik-baik," ucap Dokter Aditya pada istrinya.
"Pasti mas."
Mobil Dokter Aditya meninggalkan Rumah Sakit tempat mereka bekerja dan menuju rumah sakit tempat tuan Hendarwan dan Ega di rawat. Perjalanan memakan waktu tiga jam lebih, ketika mereka tiba di rumah sakit hari sudah mulai sore.
Dokter Aditya keluar dari mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk istrinya. "Terima kasih mas," ucap Dita, lalu ia segera keluar dari mobil dan membantu Indhi untuk keluar dari mobil juga.
Ketiga orang itu berjalan menuju meja informasi untuk menanyakan keberadaan Ega dan Tuan Hendarwan.
"Permisi, saya mencari pasien atas nama Kevin Ega Irvantara dan Hendarwan Syahputra, serta Mohadi, mereka bertiga korban kecelakaan lalu lintas," tanya Dokter Aditya pada resepsionis.
"Saya cek sebentar pak," ucap staff resepsionis tersebut. "Saudara Kevin Ega Irvantara berada di ruang perawatan, sementara saudara Hendarwan sedang menjalani operasi," terang staff tersebut.
"Saudara Mohadi dinyatakan meninggal setibanya di rumah sakit pak."
Dokter Aditya mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak menyangka supir yang sudah mengabdi kepada keluarganya berpuluh tahun lamanya meninggal secara tragis.
Setelah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Ega dan tuan Hendarwan, mereka bertiga segera menuju ruang perawatan Ega.
Dengan tangan yang bergetar Indhi membuka pintu ruangan dimana Ega di rawat, air matanya tak bisa di bendung lagi saat melihat sang suami terbaring di atas tempat tidur dengan beberapa luka di tubuhnya.
"Kak, aku..." Indhi terisak sejadi-jadinya, wanita itu duduk di sebelah tempat tidur sang suami, tangannya yang bergetar hebat meraih tangan Ega yang terasa dingin.
Begitupun dengan Dita, wanita itu ikut menangis melihat kondisi pria yang dahulu amat di cintainya. Kepalanya yang di balut perban serta tangan kirinya yang di balut kain penyangga menandakan jika kondisi Ega cukup parah.
"Kevin akan baik-baik saja. Kamu temani Indhi, aku harus menunggu operasi papah," ucap Dokter Aditya seraya menyeka air mata istrinya, pria itu lalu pergi dari ruangan Ega dan menuju ruang operasi, namum ada sesuatu yang mengganjal hatinya, melihat istrinya menangisi orang lain membuat hatinyaa merasa kurang nyaman.
Dokter Aditya menunggu dengan gelisah di ruang tunggu khusus keluarga, tak berselang lama mama Mayang datang dan segera menghampiri putranya dengan wajah berurai air mata.
"Bagaimana kondisi papah mu?" tanyanya panik.
"Papah masih di operasi mah, semoga saja papah baik-baik saja," jawab Dokter Aditya penuh harap, pria itu lalu memeluk mama nya yang semakin terisak.
"Bagaimana dengan Kevin?" tanya mama Mayang lagi.
"Kevin masih belum sadar. Tangan kirinya patah dan kepalanya juga terluka."
"Astaga, kenapa ini bisa terjadi," mama Mayang tak bisa membayangkan bagaimana jika terjadi sesuatu pada suaminya.
"Lalu dimana istrimu?"
"Dia menemani Indhi karena bu Tika belum datang."
Setelah sekitar satu jam menunggu, pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan itu dan Dokter Aditya langsung menghampirinya.
"Bagaimana operasinya dok?" tanya Dokter Aditya gamang.
"Kami berhasil menghentikan pendarahan di otaknya, tapi saat ini pasien belum sadar, kami akan terus memantau kondisi pasien sampai pasien sadar" jawab dokter itu.
"Terima kasih banyak dok," meski papah nya belum sadar namun Dokter Aditya merasa sedikit lega, setidaknya operasinya berjalan dengan lancar dan Dokter Aditya yakin jika semuanya akan baik-baik saja.
Sementara di ruangan perawatan Ega, pria itu masih enggan membuka matanya, padahal menurut dokter yang menanganinya seharusnya Ega sudah sadar.
"Dit, sebaiknya kamu menemui mertuamu," ucap Indhi setelah sadar jika Dita telah menemaninya selama berjam-jam.
"Tidak, aku sudah bilang sama mas Adit. Aku akan di sini menemanimu," jawab Dita.
"Setidaknya temui mama Mayang sebentar, kamu bisa kesini lagi nanti. Aku baik-baik saja, sebentar lagi ibu juga pasti sampai."
"Tapi Ndi," ucap Dita gamang.
"Dit, temui mama Mayang dan hibur beliau. Aku sungguh baik-baik saja."
"Baiklah kalau begitu. Segera hubungi aku kalau kamu merasa kurang sehat ya," Dita akhirnya setuju karena bagaimanapun dia juga harus memberikan dukungan kepada suami dan mama mertuanya.
Meski ragu namun akhirnya Dita meninggalkan Indhi dan menemui suami serta mama mertuanya.
Sepeninggal Dita, Indhi kembali menangis sambil menggenggam tangan suaminya. "Bangun kak, jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Ayo buka matamu kak, lihat aku. Aku dan bayi kita menunggumu."
BERSAMBUNG...