Marry me, Brother

Marry me, Brother
Hamil



Sesampainya di rumah, Indhi segera mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket. Setelah menghabiskan hampir setengah jam lamanya untuk berendam, wanita itu keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaian tidurnya.


Indhi turun ke dapur untuk mengambil air minum, namun ketika sampai di dapur perutnya terasa bergejolak, wanita itu merasa sang mual dan isi perutnya mendesak ingin keluar. Indhi berlari masuk ke kamar mandi yang tak jauh dari dapur, wanita itu memuntahkan semua isi perutnya.


“Ndi, kamu kenapa?” tanya bu Tika tergopoh-gopoh menyusul anaknya ke kamar mandi, padahal wanita itu tengah sibuk di dapur.


“Ibu masak apa sih, baunya bikin mual,” bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Indhi malah balik bertanya kepada bu Tika.


“Ibu lagi numis bawang putih tadi, niatnya mau masak cah kangkung,” jawab bu Tika seadanya.


“Memang ibu belum makan malam? Kenapa malam-malam malah masak?”


“Tadi udah makan, ini lapar lagi. Terus di kulkas ada kangkung ya udah ibu masak aja.”


“Ya udah ibu lanjutin lagi, Indhi mau ke kamar. Masakan ibu bikin aku pusing,” ucap Indhi lalu ia kembali naik ke kamarnya dan melupakan air yang akan dia ambil.


“Apa dia hamil?” terka bu Tika karena tak biasanya Indhi muntah hanya karena tumisan bawang putih. “Semoga saja,” imbuh bu Tika sambil tersenyum.


Sementara di dalam kamar, Indhi merebahkan tubuhnya yang terasa lemas. Gadis itu menatap langit-langit kamar dan tiba-tiba merindukan suaminya.


“Apa aku mulai mencintai kakak? Baguslah kalau begitu, setidaknya aku tidak perlu menyakitinya lagi,” ucapnya bermonolog.


Indhi merubah posisinya, kini ia memiringkan tubuhnya dan memeluk guling sebagai pengganti suaminya. Rasanya begitu dingin, biasanya ia akan terlelap di pelukan sang suami yang sangat hangat, namun beberapa hari ke depan ia harus menahan rasa ingin di peluk suaminya.


Saat akan terlelap tiba-tiba Indhi teringat suatu hal, wanita itu menarik sebuah benda berbentuk kotak yang tersimpan di bawah lemari, Indhi menaiki benda tersebut dan terkejut melihat angka yang tertulis di atas benda itu.


“Naik dua kilo,” pekiknya sambil menutup mulut.


Indhi kembali menyimpan timbangannya, gadis itu lalu bercermin dan memperhatikan bentuk tubuhnya yang sedikit berbeda.


“Sejak kapan payu*daraku sebesar ini?” tanyanya bermonolog. Indhi lalu memegangi dadanya yang tampak membesar, gadis itu meringis menahan rasa nyeri di area payu*daranya,


“Apa aku mau menstruasi?” tebaknya lagi. “Atau aku hamil? Tapi kemarin masih negatif. Lebih baik aku menghubungi Dokter Nanda agar lebih jelas.” Indhi lalu meraih ponselnya dan menghubungi Dokter Nanda, Dokter Spesialis Kandungan yang juga merupakan rekan kerjanya.


“Hallo Ndi, ada apa? Tumben malam-malam telefon?” sapa Nanda saat panggilan tersambung.


“Hallo Nan, maaf mengganggu malam-malam begini. Aku mau nanya sesuatu Nan,” jawab Indhi.


“Ya, tanya aja,” ucap Dokter Nanda mempersilahkan.


“Nan, ciri-ciri orang hamil kaya gimana sih?” tanya Indhi meski sedikit malu.


“Kamu hamil?” bukannya menjawab, Dokter Nanda malah bertanya balik kepada Indhi.


“Maybe, aku belum yakin.”


“Udah telat menstruasi berapa hari?” tanya Dokter Nanda.


“Hampir sepuluh hari.”


“Apa ada perubahan sama tubuh kamu? Misalnya payu*dara lebih besar dan terasa nyeri saat di pegang, terus perut bagian bawah terasa kencang.”


“Besok setelah bangun tidur coba kamu cek urine, kalau hasilnya positif jam istirahat besok temui aku biar aku memeriksanya,” ujar Dokter Nanda.


“Oke Nan, terima kasih ya.”


“Sama-sama. Wah, Dokter Ilham pasti sangat bahagia kalau kamu beneran hamil,” ucap Dokter Nanda yang masih belum mengetahui kebenaran tentang pernikahan Indhi.


“Nan, aku nggak jadi nikah sama Dokter Ilham, apa kamu nggak dengar gosip di Rumah Sakit?” ucap Indhi mencoba meluruskan kesalahpahaman temannya.


“Gosip apa? Terus kamu nikahnya sama siapa? Aku enggak tau apa-apa sumpah, pas kamu nikah aku lagi di luar kota kan waktu itu,” Dokter Nanda nampak begitu terkejut.


“Aku nikah sama Dokter Kevin,” jujur Indhi.


“What?” pekik Dokter Nanda tak percaya. “He’s your brother?


“Aku jelaskan besok. Sekali lagi terima kasih Nan.”


Indhi lalu mengakhiri panggilan tersebut, karena tak sabar menunggu hingga pagi, Indhi memutuskan untuk mengeceknya sekarang.


“Aku hamil?” gumamnya setelah melihat dua garis merah di alat tes kehamilannya, meski salah satu garisnya masih terlihat samar.


“Lebih baik besok pagi aku mengeceknya lagi.”


Indhi tak bisa tidur, selain karena merindukan suaminya, ia juga tak sabar menanti esok pagi dan memastikan tentang kehamilannya. Entah jam berapa wanita itu akhirnya terlelap. Saat pagi tiba, Indhi kembali mengecek urinnya.


“Positif, aku hamil,” gumamnya sambil tersenyum, ia lalu mengelus perutnya yang masih rata itu. “Terima kasih sudah hadir nak, mungkin dengan kehadiranmu momy bisa mencintai dady mu.”


Indhi tak bisa menahan rasa bahagianya, pernikahan yang awalnya hanya untuk membalas dendam justru membawanya memulai kehidupan baru yang jauh lebih berwarna, pernikahan yang tak di dasari rasa cinta justru membuatnya selalu bahagia.


Setelah bersiap, Indhi turun ke lantai dasar dan menemui ibunya yang sedang menyiapkan sarapan bersama bi Sumi.


“Ibu,” panggil Indhi dengan keras, senyumnya begitu lebar hingga menampakkan gigi gingsulnya.


“Kenapa kamu senang sekali?” tanya bu Tika keheranan.


“Kejutan,” Indhi menunjukkan alat tes kehamilan miliknya.


Bu Tika menatap intens benda yang berada di tangan putrinya, dua garis merah yang tercetak di sana membuat bu Tika membekap mulutnya sendiri. “Kamu hamil? Ibu akan menjadi nenek,” ucap bu Tika, wajah tuanya tampak begitu bahagia, saking bahagianya ia bahkan sampai menangis. “Bi lihat bi, kita akan menjadi nenek,” ujar bu Tika sambil memperlihatkan alat tes kehamilan milik Indhi, kedua wanita itu saling memeluk dan menangis penuh haru.


Meski bi Sumi hanya lah seorang asisten rumah tangga, namun bu Tika dan anak-anaknya sudah menganggap bi Sumi seperti keluarga mereka, pasalnya bi Sumi sudah bekerja bersama bu Tika sejak wanita itu baru saja menikah. Bi Sumi adalah saksi hidup perjuangan bu Tika sejak di tinggal suaminya.


“Selamat non, rasanya baru kemarin bibi mengganti popok non Indhi, sekarang non Indhi sudah dewasa dan sebentar lagi menjadi ibu,” ucap bi Sumi sambil menyeka air matanya.


“Terima kasih bi. Ibu dan bibi harus selalu sehat agar kelak bisa mengurus cucu kalian,” ujar Indhi, wanita muda itu lalu memeluk kedua orang yang berarti dalam hidupnya, seorang ibu yang sudah melahirkannya dan seorang pengasuh yang telah menjaga dan merawatnya sejak ia masih kecil.


Begitulah manusia seharusnya, tak perlu menciptakan sebuah perbedaan hanya karena status semata. Hidup itu begitu indah ketika kita saling menghargai dan menghormati satu sama lain, sekaya dan semiskin apa pun kita, di mata Tuhan kita tetaplah sama, hanya Iman dan Taqwa yang membedakan seberapa mulia kita di mata Tuhan.


BERSAMBUNG...