
Pagi-pagi sekali Ega sudah bangun dan bersiap-siap ke bandara. Pria itu mengamati wajah istrinya yang masih terlelap, senyum terukir di wajah tampannya, bukan tanpa alasan, Ega merasa jika Indhi mulai menyukainya. Karena tak ingin mengganggu tidur sang istri, Ega segera ke kamar mandi dan melakukan ritual paginya.
Kini Ega telah rapi dengan setelan jas yang nampak begitu cocok di tubuhnya, Ega kembali mendekati ranjang dan duduk di tepi tempat tidur sambil menatap wanita tercintanya.
"Aku berangkat ya, maaf tidak membangunkanmu, aku tidak ingin melihatmu sedih. I LOVE YOU WIFE," ucap Ega seraya mengecup kening istrinya.
Di lantai bawah bu Tika sudah menunggunya, ibu mertuanya itu terlihat sedang mencari sesuatu. "Mana istrimu?" tanya bu Tika karena tak menemukan Indhi.
"Masih tidur bu," jawab Ega pelan.
"Tidur?" pekik bu Tika. "Istri macam apa yang masih tidur sementara suaminya akan pergi ke luar kota?" omel bu Tika.
"Ega sengata tidak membangunkan Indhi bu. Semalaman dia merengek minta ikut," ucap Ega membela istrinya.
"Astaga, dia pikir dia masih kecil dan selalu menempel kemanapun kamu ikut!"
"Akhir-akhir ini mood Indhi mudah berantakan, aku harap ibu jangan pancing emosinya ya!" pesan Ega sebelum pria itu meraih tangan bu Tika dan mencium punggung tangannya. "Ega berangkat bu dan jangan marahi istriku," imbuhnya lagi.
Bu Tika hanya mengangguk dan mengantarakan putranya keluar rumah, setelah Ega berangkat bu Tika kembali ke kamarnya karena hari belum juga beranjak pagi.
Bunyi alarm bersahut-sahutan membuat Indhi terpaksa membuka matanya,tangannya menjelajahi setiap inci tempat tidurnya dan tidak menemukan Ega di sana. Indhi membuka matanya perlahan, ia lalu angun dan duduk dengan bersandar pada headboard, matanya menatap sekeliling dan tak menemukan koper yang semalam di kemasnya.
"Apa dia sudah berangkat?" tanyanya pada diri sendiri, Indhi bergegas bangun dan mencari keberadaan Ega. Wanita itu menyusuri setiap anak tangga dan menghampiri ibunya yang sedang menonton berita di ruang keluarga.
"Bu, kakak mana?" Indhi bertanya lalu duduk di samping ibunya.
"Sudah berangkat ke bandara," jawab bu Tika tanpa mengalihkan atensinya, ia tengah fokus menonton berita terbaru.
"Kenapa aku nggak di bangunin, kakak jahat sekali," ucap Indhi dengan wajah murung, seketika matanya terasa panas dan ingin menangis.
"Suamimu itu bukan jahat, dia terlalu baik kepadamu. Katanya tidak tega ngebangunin kamu," bu Tika meletakkan remot yang sejak tadi di pegangnya, wanita itu menoleh ke arah putrinya dan terkejut melihat Indhi tengah menahan bendungan di matanyan "Kamu nangis?" tanya bu Tika terheran-heran, sejak kecil Indhi memang selalu menempel kepada Ega, namun kali ini sungguh keterlaluan, hanya karena di tinggal tiga hari ke luar kota dan gadis itu menangis. "Suamimu kan hanya pergi tiga hari, bukan tiga tahun. Sudah jangan menangis," bu Tika menyeka air mata yang akhirnya lolos di wajah Indhi.
"Tiga hari itu lama bu," sahut Indhi dengan suara serak.
"Kalau begitu susul aja," usul bu Tika asal-salan.
"Aku kan kerja."
"Ya udah, tunggu aja. Mentang-mentang pengantin baru!"
Bu Tika kembali menonton siaran berita yang tengah ramai mengenai kemunculan virus Covid-19, sehuah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.
"Duh jangan sampai masuk ke Indonesia itu virus," gumam bu Tika masih dengan wajah seriusnya.
"Apa si bu?" Seketika Indhi tertarik dengan berita yang sedang di tonton ibunya.
"Itu loh virus Covid-19 yang lagi rame di negeri tirai bambu, katanya udah mulai menyebar ke negara lain," jawab bu Tika.
Indhi mengamati berita dengan seksama, sebagai sesorang dokter, ia tentu saja merasa khawatir jika sampai virus tersebut masuk ke Indonesia, belum lagi menurut berita penyebarannya begitu cepat membuat Indhi merinding di buatnya.
"Semoga saja tidak masuk ke negara kita bu," ucap Indhi penuh harapan.
***
Sesampainya di Rumah Sakit, berita tentang penyebaran virus Covid-19 telah ramai di perbincangkan, bahkan direktur Rumah Sakit sampai mengumpulkan seluruh dokter dan perawat yang bekerja di Rumah Sakit dan memberikan peringatan agar lebih waspada.
Saat jam makan siang, suasana kantin begitu ramai, berita menganai virus tersebut menjadi topik hangat di kalangan dokter dan juga perawat.
"Seserius itu kah virusnya?" tanya Dita saat ia dan Indhi tengah makan siang bersama.
"Yang aku lihat di berita sih iya, penyebarannya cepat banget, bahkan di beberapa negara di Eropa sudah melakukan Lockdown guna mencegah menyebaran virus tersebut," jawab Indhi dengan wajah serius.
"Iya dan gejala paling umum adalah Anosmia (hilangnya penciuman dan rasa)."
"Mudah-mudahan nggak masuk ke negara kita tercinta," kata Dita di selingi doa terbaik.
"Semoga saja," sahut Indhi mengamini doa sang sahabat.
"Ndi, kamu gemukan kayanya deh," ucap Dita mengalihkan topik pembicaraan mereka, rasanyaa tidak nyaman makan sambil membahas masalah virus.
"Masa sih. Akhir-akhir ini aku doyan banget makan soalnya. Duh harus diet nih," sahut Indhi sambil mencubit pinggangnya yang mulai bergelambir.
"Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanya Dita dengan perasaan tak karuan, di sisi lain ia bahagia jika ternyata benar sahabatnya tengah mengandung, namun di sisi lain ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.
"Belum Dit, kemarin udah di cek hasilnya masih negatif," jawab Indhi seraya memasukan nasi ke dalam mulutnya.
"Oh, mungin hormon Ghrelin kamu lagi naik kali."
Hormon Ghrelin adalah hormon lapar yang di produksi lambung, jadi jika seseorang lapar nanti akan memberikan sinyal ke otak bahwa seseorang itu lapar dan butuh makan.
"Kayanya iya," jawab Indhi mengiyakan perkiraan sahabatnya.
Setelah makan siang bersama, kedua sahabat itu berpisah di kantin dan harus kembali ke tempat kerja masing-masing. Batu saja Indhi sampai di ruangannya, tapi ia sudah merasa lapar lagi.
"Aku baru saja makan kenapa sudah lapar lagi. Astaga, ini tidak boleh terjadi, bisa-bisa berat badanku naik nanti," gumam Indhi sambil menggelengkan kepalanya.
Sekuat tenaga Indhi menahan laparnya, namun saat jam kerjanya selesai wanita itu sudah tidak tahan lagi, ia buru-buru keluar dari Rumah Sakit dan pergi ke restoran cepat saji yang jaraknya cukup dekat dengan tempatnya bekerja. Seperti orang yang tidak makan berhari-hari, Indhi memesan satu hamburger berukuran besar, kentang goreng dan ayam goreng crispy, tak lupa segelas mangga fluit berukuran besar.
Saat akan makan tiba-tiba ponselnya berbunyi, Indhi tersenyum melihat panggilan vidio masuk dari suaminya, ia buru-buru menggeser panel berwana hijau dan panggilan vidio tersambung.
"Hallo kak," sapa Indhi dengan semangat.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Ega.
"Makan," Indhi memperlihatnya makanan yang di pesannya.
"Banyak sekali?" tanya Ega terheran-heran.
"Aku kelaparan kak. Kapan kakak sampai?"
"Siang tadi, aku sedang di hotel sekarang."
"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Indhi dengan wajah sebal.
"Maaf, aku tidak tega membangunkanmu," jawab Ega apa adanya.
"Kali ini aku maafkan," ucap Indhi seraya memasukkan humberger ke mulutnya.
"Sayang, pelan-pelan makannya! Oh ya, aku dengar direktur mengumpulkan semua tenaga medis tadi pagi?" tanya Ega dan hanya di angguki oleh Indhi.
"Jaga kesehatanmu sayang dan waspada pada pasien dengan gejala demam, flu batuk dan Anosmia. Jangan lupa tanyakan pada pasien apakah mereka memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri!" pesan Ega panjang lebar kali tinggi kepada istrinya.
"Siap sayang," sahut Indhi tanpa sadar.
"Apa aku tidak salah dengar, coba ulangi lagi," pinta Ega sambil tersenyum senang.
"Tidak mau!"
"Ayolah, sekali saja,"
"No."