Marry me, Brother

Marry me, Brother
Kamu cemburu?



Sama halnya dengan Ega, sepulang dari makan malam di rumah Arum mood Dokter Aditya tiba-tiba saja jelek. Di sepanjang perjalanan pulang pria itu hanya diam dan sesekali mengumpat seraya memukul setir.


Setibanya di apartemen, mereka berdua masih saling diam, Dita memilih mandi terlebih dahulu lalu ia akan beristirahat, karena tubuhnya terasa sangat lelah. Saat berpapasan di depan pintu kamar mandi, Dita tak menyapa suaminya sedikitpun, ia hanya melewati suaminya dan berhasil membuat Dokter Aditya kebingungan.


"Dita," panggil Dokter Aditya.


Dita hanya menoleh. "Ya," jawabnya singkat lalu kembali berjalan menuju walk in closet yang berada di sisi lain kamar mereka.


Merasa aneh dengan sikap istrinya, Dokter Aditya urung untuk masuk ke dalam kamar mandi dan malah mengikuti istrinya ke dalam ruangan khusus untuk menyimpan pakaian mereka.


"Eh," pekik Dokter Aditya saat tak sengaja melihat Dita sedang mengganti bajunya, namun Dita malah terkesan cuek dan sengaja memamerkan bokongnya saat ia tengah mengenakan under wear.


"Dit," panggil Dokter Aditya dengan nafas yang mulai tak teratur.


"Kenapa?" Dita menyahut, namun ia masih sibuk memakai baju.


Dokter Aditya melangkahkan kakinya lebih dekat, kini pria itu berdiri tepat di belakang istrinya. "Apa aku punya salah? Sepertinya sejak tadi kamu menghindariku?"


Dita menghela nafas dengan kasar, wanita itu lalu berbalik dan menatap suaminya dengan tatapan yang sulit di jabarkan. "Maaf sebelumnya mas, bukannya aku terlalu ikut campur. Tapi aku tidak suka dengan cara mas yang seakan memojokkan kak Ega," keluh Dita setelah sekian lama memilih diam.


"Jadi kamu menghawatirkan Ega?" selidik dokter tampan itu dengan perasaan aneh, ada sesuatu yang tidak nyaman di hatinya saat mengetahui istrinya lebih memperdulilan pria lain.


"Apa begitu besar cintamu untuknya sampai-sampai kamu lebih membela dia dari pada suamimu sendiri?" Dokter Aditya semakin merasa aneh, entah sejak kapan ia peduli pada perasaan istrinya.


Lagi-lagi Dita menghela nafas dengan kasar. "Aku tidak membela kak Ega. Aku melakukan ini semua karena aku peduli padamu. Kamu ini putra pemilik Rumah Sakit, bagaimana kalau ada orang lain yang melihat perlakuanmu pada kak Ega, image mu akan hancur dan orang-orang tidak akan mempercayaimu memimpin Rumah Sakit nantinya," jelas Dita panjang lebar.


"Dia dulu yang membuatku kesal," elak Dokter Aditya membela diri.


"Terlepas siapapun yang memulai duluan, aku harap kamu tidak melakukan hal kekanakan seperti tadi lagi!"


"Ya ya, aku tau. Kamu pasti tidak suka kan pria tercintamu di hina orang lain?" sindir Dokter Aditya dengan wajah kesal.


"Kenapa kamu bilang begitu? Apa kamu kesal padaku? Apa kamu mulai menyukaiku?" cecar Dita seraya melangkah lebih dekat pada suaminya, tak lupa seringai kecil terbentuk di bibirnya


"Aku cemburu hahah," ujar Dokter Aditya seraya menunjuk wajahnya sendiri, pria itu juga tertawa hambar demi menutupi rasa gugupnya. "Tentu saja tidak," imbuhnya penuh percaya diri.


"Oh ya sudah," cetus Dita dengan wajah sedih, seketika hatinya di selusupi rasa kecewa setelah mendengar ucapan suaminya . Dengan kesal Dita meninggalkan suaminya yang masih mematung di tempatnya.


"Dasar menyebalkan," batin Dita mendegus kesal.


BERSAMBUNG...