
Lewat tengah malam saat Arum keluar dari kantornya, gadis itu benar-benar menghabiskan malamnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Arum kini sudah berada di dalam mobil, gadis itu mengemudi dengan hati-hati karena tubuhnya terasa sangat lelah, tanpa Arum sadari sebuah mobil mengikutinya dari belakang dan memperhatikan gerak-geriknya
Saat melewati warung tenda yang berjualan di pinggir jalan Arum menepikan mobilnya, perutnya terasa sangat lapar dan memutuskan untuk membeli bebek madura sebagai menu makan malamnya. Arum begitu bersemangat saat pesanannya sudah berada di hadapannya, sambal bumbu hitam yang di siramkan di atas bebek goreng membuat air liurnya menetes. Tak sabar Arum segera melahap makanan kesukaannya.
Setelah makan, Arum menyempatkan mampir ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhannya, beberapa saat kemudian gadis itu keluar dari minimarket dengan menenteng dua tas belanja di tangannya, setelah memasukkan belanjaannya ke dalam mobil, Arum kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Arum memarkirkan mobilnya di halaman rumah, gadis itu keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya menuju sebuah mobil yang terparkir tak terlalu jauh dari rumahnya. Arum mengetuk kaca mobil tersebut dan si pemilik mobilpun akhirnya keluar.
"Apa pekerjaanmu jadi penguntit sekarang?" tanya Arum sambil menatap Dion, kedua tangannya bertolak pinggang karena kesal sejak tadi Dion terus mengikutinya.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu," jawab Dion jujur, sebenarnya dia sudah menunggu sejak jam 7 malam di depan kantor Arum, namun sayangnya gadis itu tak kunjung keluar dan membuatnya merasa khawatir.
"Aku sudah menjauhimu seperti yang kamu harapkan, jadi aku mohon berhenti menggangguku, mari hidup seperti dulu, sama seperti saat kamu tak menganggapku ada." ucap Arum menohok hati Dion, pria itu kembali merasa tercubit hatinya mendengar perkataan Arum.
"Aku tidak berniat mengganggumu, aku hanya mengkhawatirkanmu."
"Kalau begitu tidak perlu mengkhawatirkanku sama seperti dulu." tegas Arum, kali ini ia tak ingin membiarkan siapapun melukai hatinya.
"Aku ingin memperbaiki masa lalu Rum, beri aku kesempatan ya," pinta Dion setengah mengiba.
"Aku lelah, sebaiknya kamu pulang dan jangan pernah mengikutiku lagi."
Arum meninggalkan Dion dan segera masuk ke dalam rumahnya, gadis itu sebenarnya tak tega berbicara kasar seperti itu kepada Dion, namun ia hanya melindungi hatinya agar tidak terluka.
Sesampainya di kamar, Arum mengintip Dion dari jendela kamarnya, kamarnya yang berada di lantai atas dan bagian terdepan mempermudah untuk kita memeriksa keadaan di lantai dasar.
"Kenapa belum pergi juga, di luar sangat dingin," gumam Arum sambil menatap Dion yang masih berada di depan rumahnya.
***
Pagi telah tiba, sang surya mulai menampakan cahayanya, namun bias terang tersebut tak mengusik sepasang suami istri yang masih tertidur dengan posisi saling memeluk. Indhi nampak begitu damai tidur di dalam pelukan suaminya, lengan kekar itu ia jadikan bantal dan pinggang pria itu Indhi jadikan guling.
Ega mengerjapkan matanya saat ponselnya berdering beberapa kali, pria itu meraih ponsel dan mengangkat panggilan dengan wajah di paksakan.
"Ya hallo," sapa Ega dengan suara parau.
"Maaf menggganggu dok, ada pasien darurat yang harus di operasi segera," ucap seseorang di balik telefon.
"Apa tidak ada Dokter Bedah lain?"tanya Ega sambil melepaskan pelukan Indhi dengan perlahan.
"Hanya anda yang bisa mengoperasinya dok."
"Siapkan ruang operasi, setengah jam lagi saya tiba, pastikan kamu memantau kondisi pasien dan laporkan kepada saya."
Indhi menggeliat saat merasakan tubuhnya berpindah tempat, benar saja lengan kekar itu sudah tertutupi kemeja berwarna putih.
"Kakak mau kemana?" tanya Indhi penasaran.
"Aku ada operasi darurat. Sebelum berangkat usahana untuk makan lebih dulu," pesan Ega sambil tersenyum, pria itu lalu mendekati istrinya dan mencium pucuk kepala wanita itu. "Aku mencintaimu Ndi, bisiknya lagi sebelum akhirnya dia meninggalkan rumah dan bergegas ke Rumah Sakit.
Indhi memasang alarm di ponselnya, gadis itu kebagian jawal masuk siang, sehinga ia memutuskan untuk kembali tertidur.
***
Indhi tiba di Rumah Sakit sebelum jam makan siang, sebelum berangkat ia menyempatkan diri untuk membeli bekal makan siang untuk suaminya.Sesampainya di Rumah Sakit, Indhi lebih dulu pergi ke ruangan suaminya untuk mengantarkan bekal makan siangnya.
"Kenapa sepi sekali?" ucap Indhi bermonolog saat tak menemukan perawat di sekitar ruangan suaminya. Gadis itu lalu menerobos masuk ke dalam ruangan suaminya dan melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak. Di dalam ruangan itu, Indhi menyaksikan Ega tengah di peluk oleh seorang gadis yang tak asing baginya.
Indhi menjatuhkan bekal makan siang suaminya, wanita itu melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua dan segera menarik tangan gadis itu dengan kasar. Indhi juga mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh ke lantai.
"Sayang, aku bisa jelaskan," ucap Ega gugup, pasalnya istrinya pasti salah paham kepadanya
"Ternyata benar ya pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ternyata kamu sama saja dengan ibumu, perebut suami orang," maki Indhi oada gadis yang memiliki kemiripan dengannya, gadis itu adalah Bella.
"Kakak salah paham, aku nggak bermaksud seperti itu..Aku hanya mau mengucapkan terima kasih karena kak Ega sudah menyelamatkan nyawa ayah saya," jelas Bella dengan mata berkaca-kaca.
"Mengucapkan terima kasih? Cih, apa tidak bisa mengucapkan terima kasih di tempat lain, kenapa harus di ruangan yang sepi dan memeluknya seperti itu?" jawab Indhi tak percaya.
"Sungguh kak, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih," sahut Bella lagi, kini wajahnya berurai air mata.
"Pergi dari sini sekarang dan jangan pernah ganggu suami saya lagi!" usir Indhi dengan rahang mengeras dan mata memerah, wanita itu hampir saja kehilangan kesabarannya.
Setelah Bella pergi dari ruangan Ega, wanita itu kini menatap suaminya nanar, sebenarnya ia mempercayai suminya, namun entah mengapa ia merasa kesal ada orang lain yang menyentuh tubuh suaminya.
"Sayang, aku bisa jelaskan?" ujar Ega, pria itu begitu gugup melihat tatapan istrinya.
"Aku juga nggak tau kalau pasien yang aku operasi adalah ayahnya Dokter Ilham. Tiba-tiba saja gadis itu datang dan mengucapkan terima kasih, saat aku menyuruhnya pergi dia malah memelukku. Sumpah demi apapun aku tidak membalas pelukannya, aku be..."
Ega tak melanjutkan kalimatnya karena Indhi lebih dulu membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman, wanita itu begitu agresif dan mencium Ega dengan kasar.
"Jangan pernah biarkan wanita lain menyentuh tubuhmu," ucap Indhi sambil menyeka bibir suaminya yang basah, setelah itu Indhi keluar dari ruangan suaminya tanpa mengatakan apapun lagi.
"Dia marah? Apa dia cemburu?" ucap Ega bermonolog, pria itu sedikit menerbitkan senyum di wajahnya, tak menyangka jika Indhi bersikap seperti itu.
BERSAMBUNG...