
Malam hari saat bu Tika tiba di Rumah Sakit tempat Ega di rawat. Bu Tika datang bersama bi Sumi dan segera menemui Indhi di kamar rawat inap Ega.
"Ibu," pekik Indhi saat melihat kedatangan bu Tika, wanita hamil itu segera menghambur ke dalam pelukan ibunya dan kembali menangis, rasanya air matanya tak ada habisnya, padahal sejak siang tadi ia tak sedikitpun berhenti menangis.
"Semuanya akan baik-baik saja," ucap bu Tika seraya mengusap punggung putrinya, rasanya baru kemarin kebahagiaan menghampiri kedua anaknya dan kini mereka kembali di terpa musibah.
Indhi mengurai pelukannya, kondisinya begitu memprihatinkan, wajahnya pucat dan mata bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Wajah kamu pucat sekali nak, kamu pasti belum makan kan?" bu Tika menyeka air mata di wajah putrinya dengan perasaan nelangsa. "Ibu sama bibi tadi sengaja beli makanan buat kamu, kamu harus makan dulu, ibu nggak mau kalau kamu ikutan sakit," ujar bu Tika seraya menarik pelan tangan Indhi dan membawanya menuju sofa, bu Tika mendudukan Indhi di sana dan mengeluarkan makanan yang di belinya tadi. Bu Tika sudah menduga pasti Indhi belum makan karena terlalu mencemaskan suaminya.
"Indhi nggak laper bu," tolak Indhi, bagaimana ia bisa makan sementara suaminya masih belum sadarkan diri.
"Demi Ega dan demi anak-anakmu. Kamu harus makan dan minum vitamin," tegas bu Tika, wanita itu lalu duduk di sebelah putrinya dan bermaksud untuk menyuapi Indhi.
"Indhi bisa makan sendiri bu," Indhi meraih makanan yang ada di tangan bu Tika dan mulai menyuapkannya, meski sama sekali tak berselera namun apa yang di katakan ibunya adalah kebenaran, ia harus makan dan tetap sehat demi suami dan kedua anak yang ada di perutnya.
Butuh waktu lama bagi Indhi untuk menghabiskan makanannya, setelah makan ia langsung meminum vitamin yang juga sudah di siapkan oleh ibunya.
"Kamu istirahat dulu, biar ibu yang jagain Ega!" ucap bu Tika dan di angguki oleh Indhi.
Bu Tika lalu beranjak dari duduknya, menghampiri bi Sumi yang sejak tadi duduk di sebelah tempat tidur Ega. "Bi tolong pijitin kaki Indhi ya," kata bu Tika dan segera di angguki oleh bi Sumi. Kedua wanita tua itu lalu bertukar tempat, bu Tika menjaga Ega dan bi Sumi menghampiri Indhu yang duduk di atas sofa.
"Sini non, biar bibi pijit kakinya," ucap bi Sumi.
"Tidak usah bi, bibi juga pasti capek kan," tolak Indhi dengan cepat.
"Bibi baik-baik saja. Sini kakinya biar bibi pijit, non pasti capek kan?" paksa bi Sumi, wanita itu lalu meraih kaki Indhi dan membawanya ke pangkuannya.
"Terima kasih bi, maaf merepotkan," ujar Indhi tak enak hati.
"Bibi tidak merasa di repotkan, justru bibi sangat mengkhawatirkan non Indhi," bi Sumi mulai memijat kaki Indhi, tanpa ia sadari Indhi mulai terlelap, wanita hamil itu pasti sangat kelelahan.
Malam semakin larut, Indhi masih tertidur di atas sofa sementara bu Tika dan bi Sumi masih menunggu Ega siuman.
"Kenapa mas Ega belum juga bangun ya bu," tanya bi Sumi, wajah tuanya nampak lelah dan juga khawatir.
"Iya bi, aku juga nggak tau. Padahal kata dokter luka di kepalanya tidak parah," balas bu Tika seraya memijat pelipisnya.
"Sebaiknya ibu istirahat, biar bibi yang jaga malam ini."
"Tapi bibi kan juga capek."
"Enggak bu, lagian tadi bibi sudah tidur waktu perjalanan kemari."
Sementara di ruangan ICU, tuan Hendarwan mulai membuka matanya, mama Mayang yang kebetulan berjaga segera memanggil perawat. Tak berselang lama seorang perawat dan dokter jaga masuk ke ruangan ICU membuat Dokter Aditya dan Dita yang duduk di depan ruangan itu panik.
"Kamu tunggu di sini sebentar, aku akan melihat kondisi papah," kata Dokter Aditya, setelah mendapatkan anggukan dari Dita, pria itu segera masuk ke dalam ruangan ICU.
"Apa yang terjadi mah?" tanya Dokter Aditya panik.
"Papah siuman nak," jawab mama Mayang penuh kelegaan.
"Bagaimana kondisi papah saya dok?" tanya Dokter Aditya kepada dokter setelah memeriksa kondisi papah nya.
"Kondisinya sudah stabil, besok sudah bisa di pindah ke ruang rawat inap," jelas dokter tersebut.
"Syukurlah," ungkap mama Mayang dan Dokter Aditya bersamaan.
"Oh ya, apa anda yang bernama Kevin, sejak tadi pasien terus memanggil nama anda?" tanya dokter itu seraya menatap Dokter Aditya. "Baiklah, kalau begitu sama permisi."
"Terima kasih banyak dok," ucap mama Mayang.
"Sama-sama."
Dokter Aditya lalu mendekat ke sisi tempat tidur papah nya, pria itu duduk di kursi dan menatap wajah papah nya penuh rasa syukur.
"Dit, dimana Kevin?" tanya tuan Hendarwan dengan suara yang masih terdengar samar.
"Kevin baik-baik saja pah, dia juga di rawat di Rumah Sakit ini," jawab Dokter Aditya.
"Mah," tuan Hendarwan menatap istrinya yang berdiri di belakang putra mereka.
"Iya pah, mama di sini. Apa papah butuh sesuatu?" mama Mayang mendekati suaminya.
"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Papah ingin bertemu Kevin," pinta tuan Hendarwan dengan suara putus-putus.
"Tunggu papah dan Kevin sehat dulu, mamah janji akan menceritakan semuanya setelah kalian sehat."
"Apa yang kalian bicarakan? Dan apa yang akan mama ceritakan, kenapa harus menunggu papah dan Kevin sembuh?" sela Dokter Aditya yang sejak tadi penasaran mendengar percakapan kedua orang tuanya.
Mama Mayang menoleh, wanita itu menatap sendu putra semata wayangnya. "Mama akan ceritakan nanti, kamu juga harus tau tentang kebenarannya!"
BERSAMBUNG...