
Dokter Aditya terpaku di tempatnya, pria itu bahkan tak mengedipkan matanya saat melihat penampilan Dita yang di nilainya sangat cantik. Dress berwarna cream yang gadis itu pakai sangat cocok dengan kulit sawo matangnya, riasan tipis di wajah Dita membuatnya terlihat segar. Belum lagi rambut sebahu yabg selalu Dita ikat kini di biarkan tergerai. Gadis itu nampak seperti orang lain.
"Manis," gumam Dokter Aditya tanpa sadar, namun detik berikutnya pria itu memalingkan wajahnya karena tidak mau ketahuan oleh Dita bahawa ia sedang mengagumi kecantikan gadis itu.
"Sepertinya aku tidak cocok dengan make up ini," ujar Dita setelah ia berdiri di depan Dokter Aditya.
"Hanya satu jam. Setidaknya kamu harus terlihat rapi di depan orang tuaku."
Dita akhirnya mengalah, benar apa yang di katakan calon suaminya. Meski pernikahan mereka karena terpaksa, tapi tidak ada salahnya kan berdandan rapi saat akan bertemu dengan calon mertua.
Dokter Aditya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, pria itu sedang memikirkan jawaban apa yang akan di berikan kepada orang tuanya jika mereka bertanya alasan kenapa ia buru-buru menikah.
Sementara Dita sedang memikirkan, buah tangan apa yang pantas ia bawa untuk mengunjungi calon mertuanya. Tidak mungkin dia membawakan buah yang di beli di pinggir jalan kan, apalagi kue bolu yang biasa ibunya beli untuk arisan. Bertamu ke rumah orang kaya memang memusingkan.
"Dok, anu. Kira-kira apa yang mama anda sukai? Saya tidak mungkin datang dengan tangan kosong kan?" Dita akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Dokter Aditya menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. "Berlian," jawabnya dengan wajah datar.
"Be-Be-Berlian," Dita tiba-tiba menjadi gagap, bagaimana mungkin ia membelikan berlian sementara ia saja numpang hidup di apartemen milik orang lain.
"Hahaha," Dokter Aditya tertawa lepas, ia sempat melirik Dita dan melihat kepanikan di wajah gadis itu dan menurut Dokter Aditya wajah Dita terlihat lucu. "Aku hanya bercanda. Tidak perlu bawa apapun, kamu hanya perlu mempersiapkan jawaban atas semua pertanyaan orang tuaku nanti."
"Pertanyaan apa?" tanya Dita yang semakin panik.
"I don't know," jawab Dokter Aditya seraya mengedikan kedua bahunya.
Cemas dan takut, itulah yang di rasakan oleh kedua pasangan dadakan itu, keduanya hanya diam hingga Dokter Aditya menghantikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan ukuran yang sangat besar. Bahkan Dita sampai mengucek matanya berkali-kali demi memastikan jika yang di lihatnya adalah nyata.
"Ayo turun," suara memerintah dari Dokter Aditya akhirnya menyadarkan Dita jika semua yang ada di depannya sana adalah nyata.
Dita melepaskan sabuk pengamannya lalu turun dan mengikuti langkah panjang milik calon suaminya. Kedatangan mereka di sambut oleh beberapa pelayan, dan Dita semakin tidak percaya diri setelah ia menginjakkan kaki di dalam rumah mewah tersebut.
"Nyonya besar dan tuan besar sudah menunggu di ruang tamu tuan muda," ucap salah seorang pelayan dengan sopan.
"Terima kasih," sahut Dokter Aditya, pria itu lalu meraih tangan Dita dan menuntunnya layaknya seorang kekasih.
Dita hanya bisa pasrah, gadis itu menatap tangan mereka yang saling bertautan, dan sialnya tangan hangat milik Dokter Aditya membuatnya merasa lebih tenang.
Dan di sinilah mereka sekarang, berdiri di depan kedua orang tua Dokter Aditya. Banyak hal yang membuat Dita terkejut begitu ia menginjakkan kaki di rumah calon mertuanya, namun yang paling membuatnya terkejut adalah ketika calon mama mertuanya memeluknya dan tersenyum dengan begitu ramah saat melihat kehadirannya.
"Selamat datang di rumah kami, ayo silahkan duduk," ucap mama Mayang setelah mengurai pelukannya, wanita yang tak lagi muda itu menarik tangan Dita dengab pelan yang menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.
"Siapa namamu?" tanya mama Mayang dengan wajah berbinar, entah mengapa dia langsung menyukai Dita begitu melihatnya, kesederhanaan Dita dalam berpenampilan memberikan nilai plus di mata calon mama mertuanya itu.
"Dita nyonya," jawab Dita dengan gugup.
"Mama, panggil mama," protes mama Mayang yang tak menyukai panggilan yang di berikan Dita kepadanya.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian," potong mama Mayang dengan cepat.
"Kamu beneran takut?" mama Mayang menatap Dita menunggu jawaban gadis itu.
"Tidak nyonya," jawab Dita dengan cepat, melihat wajah kecewa calon mertuanya membuat Dita mengoreksi ucapannya. "Tidak mah, Dita tidak takut, Dita hanya terharu karena mama menyambut baik kedatangan Dita."
Mama Mayang meraih tangan Dita yang terasa dingin dan memangkunya, wanita itu lalu menggenggam tangan Dita sambil tersenyum. "Tentu saja mamah menyambutmu dengan.baik, sudah sangat lama mama menunggu momen ini."
"Nak Dita sudah lama kenal dengan Adit?" tanya tuan Hendarwan yang kembali menyela percakapan kedua wanita itu.
"Sudah tuan, sekitar lima tahun," jawab Dita, gadis itu lalu menoleh ke arah calon suaminya. "Benar kan dok?" tanyanya.
"Eh, iya benar sudah lima tahun," jawab Dokter Aditya membenarkan ucapan Dita, mereka memang sudah saling mengenal sejak Dita pertama kali bekerja di Rumah Sakit milik keluarganyaa. Saat itu Ega mengenalkan Dita sebagai adiknya.
"Sudah lama ya. Kenapa baru sekarang di ajak ke rumah?" kali ini mama Mayang bertanya kepada putra semata wayangnya.
"Dokter Aditya terlalu sibuk mah, iya kan dok?"
Lagi-lagi pria itu hanya mengiyakan ucapan calon istrinya, ia tidak menyangka jika Dita bisa menghandapi kedua orang tuanya dengan tenang dan malah dia sendiri yang begitu gugup.
"Jadi kapan kalian akan menikah?"
***
Indhi duduk di depan meja rias seraya menatap pantulan suaminya di cermin,pria itu sedang membantunya mengeringkan rambut. Hal-hal kecil yang selalu Ega berikan membuat Indhi bersyukur memiliki suami seperti Ega.
"Aku memang tampan, tapi tidak perlu menatapku seperti itu."
Indhi terkekeh dengan kenarsisan suaminya, banyak hal baru yang Indhi sadari setelah mereka menikah, seperti sikap narsis dan mesyum suaminya. Padahal menurutnya, dulu Ega begitu kalem dan cool.
"Sudah selesai," Ega mengecup pucuk kepala istrinya begitu pekerjaannya selesai, pria itu lalu membenahi mesin pengering rambut dan menyimpannya di dalam laci.
"Kakak mengantarku kan?" tanya Indhi penuh harap.
"Tentu saja. Tapi ini masih terlalu sore kan?"
"Aku mau bertemu Arum dulu, katanya dia mau mengatakan hal penting," jelas Indhi.
"Oh ya sudah. Sekalian kita makan malam di luar."
Kedua pasangan itu sudah berada di sebuah restoran, keduanya menatap tajam dua orang yang duduk di hadapan mereka.
"Kalian sudah baikan?" tanya Indhi seraya menatap Arum dan Dion secara bergantian.
"Sudah," jawab kedua anak manusia itu bersamaan.
"Kami akan menikah."
BERSAMBUNG...