
Rasa marah, benci, kecewa dan merindukan kasing sayang sang ibu kandung kini tengah bergelut di dalam kepala Ega. Rasanya ia tak bisa memutuskan harus memilih opsi yang mana, antara tetap membenci atau memaafkan.
Setelah bertemu dengan bu Tika, Ega kembali ke Rumah Sakit untuk menjemput Indhi, mungkin saja jika ia bercerita dengan Indhi semuanya akan lembih mudah.
Hampir petang saat Ega tiba di Rumah Sakit, rupanya Indhi sudah menunggunya di pelataran lobby Rumah Sakit, saat mobilnya menepi senyum hangat dari sang istri menyambut kedatangannya. Masih dengan senyum yang merekah Indhi masuk ke dalam mobil suaminya.
"Hay kak," ucap Indhi setibanya di dalam mobil.
"Hallo Wife," balas Ega dengan tersenyum, namun senyumnya tak bisa menutupi keresahan yang terlukis di wajahnya.
Meski penasaran, Indhi memilih untuk tidak bertanya, ia yakin wajah murung sang suami ada hubungannya dengan kedatangan bu Sherly ke Rumah Sakit. Perjalanan pulang mereka hanya di temani oleh keheningan, karena lelah seharian bekerja tanpa di sadari Indhi tertidur.
Ega melirik istrinya sekilas, tangan kirinya mengusap kepala Indhi dengan lembut. "Kamu pasti sangat lelah," ucapnya pelan.
Saat perjalanan pulang, tak lupa Ega mampir ke salah satu restoran favorit Indhi untuk membeli makan malam, Ega membiarkan Indhi tertidur di dalam mobil. Setelah membeli makanan, Ega kembali ke mobil dan Indhi masih terlihat nyenyak, Ega tersenyum simpul dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Setibanya di depan rumah, Ega melepaskan sabuk pengamannya, ia sedikit memiringkan tubuhnya lalu membangunnya sang istri.
"Sayang, bangun!" ucap Ega seraya menepuk lembut wajah istrinya.
Perlahan Indhi mulai membuka matanya, saat melihat wajah Ega, ia tersenyum dan menahan tangan Ega yang masih berada di pipinya, ia dapat merasakan hangatnya tangan sang suami yang membuatnya sangat nyaman. "Aku masih ngantuk," gumamnya pelan dan matanya kembali terpejam.
"Lanjutkan tidurmu di rumah, sekarang bangun dulu," kata Ega lagi, ia lalu mencubit hidung istrinya.
Indhi sontak membuka matanya, ia menatap suaminya dengan kesal. "Sakit tau," gerutunya dengan bibir mencebik.
"Makanya bangun, nanti tidur lagi di rumah. Aku sudah beli makan malam."
"Iya, iya," dengan malas Indhi melepaskan sabuk pengamannya lalu turun dari mobil, terpaan angin yang menyapu wajah ayunya membuat rasa kantuknya hilang seketika.
Setibanya di rumah, kedua orang itu sibuk membersihkan tubuh masing-masing, setelah selesai mandi, keduanya turun ke dapur untuk makan malam bersama.
Dengan telaten Ega memanaskan makanan dan menyiapkan makan malam mereka, bukan karena ia terlalu memanjakan Indhi, namun ia tak mau makan malamnya berakhir dengan dapur yang porak poranda jika Indhi yang menyiapkan makan malam mereka.
"Terima kasih sayang," ucap Indhi saat Ega meletakkan makanan di depannya.
"Sama-sama wife," balas Ega lembut, pria itu lalu duduk di sebelah istrinya.
Sepasang suami istri itu makan tanpa bersuara, keduanya terlihat menikmati makan malam sederhana mereka.
"Kak," panggil Indhi, tangannya sibuk memainkan tangan Ega yang berada di wajahnya.
"Hem," Ega menunduk sehingga ia bisa melihat wajah istrinya.
"Hari ini kakak sangat murung, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Indhi setelah menahan rasa penasaran sejak tadi.
Ega menghembuskan nafas berat, pria itu lalu bersandar pada sofa dan kepalanya mendungak menatap langit-langit ruangan itu. "Mereka datang menemuiku," jawabnya setelah cukup lama diam.
Benar tebakan Indhi, wanita itu lalu bangun dan duduk di sebelah Ega dengan posisi kaki bersilah dan tubuh yang menghadap suaminya. "Menemui kakak di Rumah Sakit?" tanyanya lagi.
"Ya, mereka datang sebagai pasien. Benar katamu, mereka pantas di juluki best actor," Ega kembali menghela nafasnya yang terdengar berat, pria itu lalu menoleh sehingga keduanya saling menatap.
"Lalu apa yang membuat kakak gelisah dan murung?"
"Aku bingung harus bagaimana. Aku dilema antara harus memaafkan ataupun tetap membencinya seumur hidup."
"Kak," Indhi meraih tangan Ega dan membawanya ke atas pangkuannya, tak lupa ia juga menggenggam tangan itu dengan erat. "Maafkan dia dan kubur dalam-dalam rasa sakit di masa lalu. Kakak harus ingat, ada aku yang mencintai kakak. Ada ibu yang juga sangat menyayangi kakak. Kakak hanya perlu memaafkan lalu melepaskan kenangan masa lalu yang menyakitkan. Setelah itu terserah kakak, apakah kakak akan menerima dia sebagai ibu kandung kakak atau melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang wanita itu lagi."
Ega menyandarkan kepalanya di pundak Indhi, wajahnya ia benamkan di ceruk leher sang istri. Seperti sebuah obat, Indhi adalah penyembuh atas segala rasa sakit yang di deritanya. Seperti nikotin, Indhi adalah candu baginya. "Terima kasih sayang, sepertinya aku tau apa yang harus aku lakukan. Bisakah kamu membantuku?"
"Hem, katakan apa yang bisa aku bantu?" jawab Indhi seraya memainkan rambut lebat suaminya.
"Aku mau bertemu mereka. Bisakah kamu menghubungi mereka?"
"Tentu saja kak. Mereka pasti mengisi data diri saat mendaftar di poli kakak, besok aku akan bertanya pada perawat yang bertugas di sana."
"Terima kasih. Aku tidak tau apa jadinya aku tanpa kamu," Ega mengangkat kepalanya, ia menatap Indhi dengan tatapan penuh cinta dan rasa syukur.
"Aku juga sangat berterima kasih padamu kak. Karena kakak, aku kembali merasakan cinta dan kehangatan. Terima kasih karena selalu ada untukku," sahut Indhi dengan perasaan tak karuan, entah apa yang terjadi jika bukan Ega yang menjadi suaminya setelah kejadian yang menyakitkan itu.
"Love you hubby," ungkap Indhi, ia lalu mengecup bibir Ega sekilas.
"Love you more wife," balas Ega, ia tersenyum lalu mencium bibir istrinya, sebuah ciuman hangat tanpa menuntut.
Malam semakin larut, kedua insan tersebut menikmati malam dingin mereka di bawah selimut tebal, keduanya nampak begitu nyaman berada di pelukan masing-masing. Mereka akhirnya terlelap, mengarungi mimpi indah serta harapan terbaik untuk masa depan mereka.
BERSAMBUNG...