
Satu jam yang lalu, Dokter Ega dan tim bedahnya melakukan operasi pada pasien yang mengidap Aneurisma Aorta perut, sebuah kondisi pelebaran pada pembuluh besar di perut. Operasi tersebut sempat tertunda hampir dua jam lamanya karena pasien juga mengidap Diabetes, selagi menunggu kadar gula pasien turun, sebenarnya Ega sudah menjelaskan kepada pihak keluarga jika operasi ini kemungkinan tidak akan berhasil, selain karena usia pasien yang sudah lanjut, kondisi Aneurisme Aorta pasien cukup buruk, jika Ega tetap mengoperasinya di khawatirkan Aneurisme Aorta itu akan pecah dan menyebabkan pendarahan. Namun keluarga pasien memaksa agar pasien tetap di operasi. Sebagai seorang dokter tentunya Ega juga ingin menyembuhkan pasiennya, meskipun kemungkinannya kecil namun akhirnya Ega melakukan operasi pada pasien itu setelah kadar gulanya normal.
Dan apa yang di khawatirkan terjadi, selama masa operasi Aneurisme Aorta tersebut pecah dan pendarahan tak bisa di hindarkan, berbagai upaya sudah Ega lakukan seperti menghentikan pendarahan dan transfusi darah sebanyak mungkin, namun sayangnya pasien tersebut meninggal di atas meja operasi.
Ega dan tim bedahnya keluar dari ruang operasi secara bersamaan, sebagai dokter yang bertanggung jawab atas operasi tersebut, Ega mewakili rekan-rekannya mengucapkan kabar duka dan meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan pasien. Namun rupanya keluarga pasien tidak terima dan justru memaki Ega, salah satu anak dari pasien itu juga menyuruh Ega untuk berlutut dan memohon pengampunan.
"Lihatlah kalian semua, dokter ini adalah seorang pembunuh!" wanita paruh baya itu masih menunjuk Ega dengan mata berlinang air mata.
Beberapa orang yang ada di sana mulai saling berbisik dan meragukan kemampuan Ega sebagai dokter, mendengar gunjingan itu tentu saja membuat Indhi merasa geram.
"Sus, ceritakan apa yang terjadi?" tanya Indhi pada perawat yang membantu Ega melakukan operasi.
"Sejak awal Dokter Kevin sudah memberi tahu pihak keluarga jika operasi ini kemungkinan besar tidak akan berhasil, namun mereka tetap memaksa Dokter Kevin untuk melakukan operasi dan bahkan ibu itu juga sampai berlutut di kaki Dokter Kevin, akhirnya Dokter Kevin menyetujuinya karena ibu itu mengancam tidak akan melepaskan kaki Dokter Kevin jika beliau tidak melakukan operasi," jelas perawat itu seraya menunjuk wanita paruh baya yang sedang memaki Ega.
"Anda dengar kan, anda sendiri sudah tau resiko dari operasi tersebut tapi anda masih memaksa dokter untuk mengoperasinya, tapi kenapa sekarang anda menyalahkan dokter dan menyebutnya seorang pembunuh?" Seru Indhi dengan setengah berteriak.
"Bangun kak, tidak seharusnya kakak berlutut seperti ini, aku yakin kakak sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan pasien itu," Indhi meraih kedua lengan Ega dan membantu pria itu untuk berdiri.
"Berusaha sebaik mungkin? Cih, jika memang begitu maka ayah saya tidak akan meninggal, jangan-jangan ayah saya adalah korban malpraktik dokter ini," wanita paruh baya itu masih belum mengalah dan tetap menyalahkan Ega.
"Jangan bicara sembarangan bu, Dokter Kevin adalah Dokter Bedah terbaik di Rumah Sakit ini, apa yang terjadi pada ayah anda adalah takdir," sahut Indhi membela suaminya.
"Kalau dokter hebat kenapa ayah saya bisa meninggal?"ucapnya lagi seraya melirik tajam ke arah Ega.
"Dokter juga manusia bu, dokter bukan Tuhan yang bisa merubah takdir manusia, hidup dan mati sudah di gariskan oleh Tuhan jauh sebelum kita di lahirkan. Saya yakin Dokter Kevin juga tidak menginginkan hasil seperti ini," Indhi mulai menurunkan nada bicaranya, gadis itu merasa tertampar oleh ucapannya sendiri karena sampai saat ini ia masih belum bisa menerima kematian Zean.
"Siapa kamu, kenapa kamu sangat membelanya?"
"Saya," Indhi melirik Ega sesaat, gadis itu lalu meraih tangan Ega dan menggenggamnya. "Saya istrinya, jadi saya tau siapa suami saya, beliau adalah dokter yang sangat hebat, jadi saya tidak terima saat anda menyebutnya melakukan tindakan Malpraktik!"
Rekan satu tim Ega begitu tekejut mendengar pengakuan Indhi, selama ini yang mereka tau jika keduanya adalah kakak beradik, pengakuan Indhi tentu saja akan menjadi berita heboh setelah ini.
"Saya tidak peduli dengan status kamu, saya akan menuntut Rumah Sakit ini dan dokter itu," anak pasien itu masih saja keras kepala.
"Anda tidak bisa menuntut kami karena sebelumnya anda sudah menandatangani surat persetujuan operasi." Sela salah seorang perawat.
Setelah mendengar ancaman dari Indhi, keluarga pasien meninggalkan tempat itu tanpa bicara sedikitpun. Indhi lalu membantu Ega kembali ke ruangannya. Setibanya di ruangan, Indhi mengunci ruangan Ega dan membantu suaminya untuk duduk. Indhi menarik salah satu kursi dan membawanya ke dekat Ega.
"Kakak baik-baik saja kan?" tanya Indhi meski ia tau bahwa jawabannya tentu tidak baik-baik saja, bagaimana seorang dokter bisa baik-baik saja setelah pasiennya meninggal.
"Kak, semua yang terjadi bukan salah kakak, aku yakin kakak sudah melakukan yang terbaik. Jadi kakak tidak perlu menyalahkan diri sendiri!"
"Sayang kemarilah?" Akhirnya Ega angkat bicara setelah beberapa saat diam. Ega menarik tangan Indhi dan menyuruh gadis itu untuk duduk di atas pengkuannya. Sang istripun menurut, ia duduk di pangkuan suaminya dan melingkarkan tangannya di leher Ega.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Ega seraya menatap wajah istrinya.
"Tentu saja boleh. Aku istrimu, tidak perlu bertanya jika ingin memelukku karena jawabannya akan selalu iya."
Ega lalu memeluk pinggang istrinya dengan erat, wajahnya menempel di atas buah da*da milik sang istri, tak ada pikiran kotor yang terlintas di kepalanya, ia hanya ingin menenangkan diri dengan cara memeluk istrinya.
"Sangat nyaman, aku sangat menyukainya," ucap Ega pelan, matanya tertutup sambil menikmati wangi tubuh istrinya.
"Aku bawakan makan siang. Mau aku suapin?"
Ega menggeleng pelan. "Aku belum lapar, bisakah kamu memberikan yang lain?"
"Katakan, aku akan memberikannya untuk kakak."
"Aku mau ini, ini, dan ini," Ega menunjuk bibir Indhi, buah da*danya serta bagian inti yang tertutup celana jeans miliknya.
"Aku tidak bisa memberikannya di sini kak, maksudku yang ini dan yang ini," ucap Indhi seraya menunjuk buah da*da dan lembah berumput hitam miliknya.
"Berarti yang ini boleh?" Ega menunjuk bibir istrinya dan hanya di angguki oleh sang pemilik.
Tanpa menunggu lama, Ega segera mencium bibir istrinya, sebuah ciuman lembut dan tanpa menuntut, keduanya saling berpautan, menikmati belitan lidah masing-masing.
Begitulah pernikahan, sepasang suami istri ibarat kaki dan tangan, jika kaki sakit maka tangan akan mengobatinya, jika tangan yang sakit maka kaki akan berjalan untuk mencari obatnya.
BERSAMBUNG..