
Malam mulai larut, dua pria dewasa duduk di sebuah ruang keluarga di temani dua cangkir kopi hitam serta berbagai cemilan di atas meja. Kedua pria itu nampak begitu canggung satu sama lain setelah insiden pemukulan beberapa hari yang lalu. Ya, kedua pria itu adalah Fajar dan Dion, malam ini kali pertama mereka bertemu lagi setelah insiden malam itu.
"Kalau saja Zean masih hidup, dia pasti sedang menceramahi kita sekarang," ucap Fajar memecahkan keheningan di antara mereka.
"Dia pasti sedang mengatai kita bodoh," sahut Dion, kedua pria itu kembali mengenang sahabatnya yang sudah meninggal empat tahun lalu.
"Apa pukulanku terlalu keras?" tanya Fajar seraya menatap wajah Dion yang masih menyisakan memar di sana.
"Sedikit," Dion menyentuh pipinya saat menjawab pertanyaan Fajar.
"Itu balasan karena kamu sudah menyakiti keponakanku!"
"Ya, aku tau dan aku menyesalinya," Dion benar-benar menyesali perbuatannya, pria itu menunduk lesu.
"Yon, kau tau Filsuf Plato?" tanya Fajar pada sahabatnya.
"Hem, beliau Filsuf dan Matematikawan Yunani kan? Kenapa kamu menanyakan itu?" Dion bertanya dengan kening berkerut karena tak biasanya Fajar membahas tentang seorang Filsuf.
"Suatu hari Plato duduk bersama gurunya yang bernama Socrates, lalu Plato bertanya pada gurunya apa itu cinta dan bagaimana aku bisa menemukannya?" ucap Fajar memulai menceritakan kisah Plato yang pernah di bacanya di salah satu buku Filsuf karya Plato.
"Lalu apa jawaban gurunya?" Dion nampak mulai penasaran dengan cerita yang di sampaikan oleh Fajar.
"Socrates menjawab, ada ladang gandum yang luas di sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambilah saja satu ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta."
"Plato-pun berjalan, tak seberapa lama dia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun."
"Lalu Socrates bertanya lagi, mengapa kau tak membawa satupun ranting?"
"Kamu tau apa jawaban Plato?" tanya Fajar dan Dion hanya menggeleng.
"Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan aku tidak boleh mundur kembali. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tau apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak aku ambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru ku sadari bahwasanya ranting-ranting yang ku temukan tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak ku ambil sebatang-pun pada akhirnya."
Dion mengusap wajahnya, ia mulai mengerti akan maksud Fajar menceritakan kisah Filsuf Plato. "Lalu apa lagi yang di katakan oleh Socrates?" tanya Dion lagi, ia ingin tau akhir kisah yang di lewati oleh Plato.
"Ya itulah cinta. Cinta itu semakin di cari semakin tidak di temukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika kamu dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan berlebih akan cinta, maka yang di dapat adalah kehampaan. Tiada sesuatupun yang di dapat, dan tidak dapat di mundurkan kembali waktu dan masa tidak dapat di putar mundur. Terimalah cinta apa adanya!" kata Fajar mengakhiri cerita singkat tentang percakapan antara Filsuf Plato dengan gurunya.
"Apa aku boleh berputar arah dan mengejar cintaku? Aku tidak ingin seperti Filsuf Plato, aku tidak ingin hidup dalam penyesalan karena terus begerak maju, aku ingin mengejarnya dan meraihnya," ujar Dion dengan wajah sendu, ia tak ingin lagi hidup dalam penyesalan karena melepaskan Arum begitu saja.
"Tentu saja boleh, kamu bukan Filsuf Plato, jadi kamu boleh dan berhak untuk berbalik dan meraih ranting yang menakjubkan itu," Fajar menepuk pundak sahabatnya, jika di pikir lagi memang lebih baik Arum bersama Dion karena ia sangat mengenal Dion, dan jika Dion berani menyakiti keponakannya, Fajar hanya perlu menghajarnya lagi seperti kemarin.
Di tengah percakapan mereka, pintu terbuka dan menampilkan Arum dengan wajah lelahnya, gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar dan melewati kedua pria yang sejak tadi menatapnya.
"Aku akan mendukungmu, kejarlah!" ucap Fajar, pria itu menggerakkan dagunya menunjuk sang keponakan, mengisyaratkan kepada Dion agar pria itu mengejarnya.
Dion menganggup mantap, pria itu beranjak dari duduknya dan mengejar Arum, ia tak akan berdiam diri lagi, ia tak ingin kisahnya seperti Filsuf Plato yang tak mendapatkan ranting menakjubkannya.
"Rum tunggu!" tahan Dion saat Arum hendak menutup pintu kamarnya.
"Ada apa, aku lelah, jangan ganggu aku!" jawab Arum acuh tak acuh.
Di luar dugaan, Dion tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapan Arum, kedua tangannya memegangi lutut dan kepalanya menunduk.
"Kak, apa yang kamu lakukan?" tanya Arum dengan suara tercekat, gadis itu tak percaya Dion akan bersimpuh di hadapannya. "Cepat bangun, jangan seperti ini!" imbuhnya lagi dengan suara setengah berbisik, Arum khawatir akan membuat kegaduhan di rumah.
"I'm so sorry, I'm stupid, I just realized that I really love you!" ucapnya masih dengan kepala menunduk.
Arum memutar bola matanya malas. "Kamu sedang minta maaf atau sedang pamer kemampuan bahasa asing," sindir Arum sontak membuat Dion mendungakkan kepalanya.
"Aku sedang melamarmu, maukah kau menikah denganku?" ucap Dion seraya mengeluarkan cincin dari saku jaketnya, pria itu lalu mengarahkan cincin berlian tersebut ke depan wajah Arum.
Arum diam terpaku di tempatnya, alih-alih Dion memohon untuk minta maaf justru pria itu malah melamarnya, rasanya Arum ingin menjerit saat itu juga, namun masa hukuman untuk Dion belumlah usai, Arum ingin melihat sejauh apa Dion memperjuangkannya.
"Maaf aku tidak tertarik," jawab Arum dengan wajah yang di buat sedatar mungkin. Setelah mengucapkan kalimat penolakan, Arum menutup pintu dengan sangat keras membuat Dion terlonjak kaget.
"Aku tidak akan menyerag," teriak Dion dari balik pintu.
Sementara Arum masih berdiri di belakang pintu dan tersenyum penuh kemenangan. "Maaf kak, aku hanya ingin melihat seberapa besar keseriusanmu akan mencintaiku."
BERSAMBUNG....