Marry me, Brother

Marry me, Brother
Radang usus buntu



Setelah percintaan panas semalam, Indhi merasa tubuhnya remuk redam, semalam Ega benar-benar membuatnya berteriak hingga kehabisan suara. Meski tubuhnya terasa pegal, namun Indhi tetap bangun saat alarmnya berbunyi. Hari ini ia memiliki jadwal pagi dan bertugas di UGD.


Setelah selesai mandi, Indhi keluar dari kamar mandi dan mendapati Ega yang baru saja bangun. Pria itu tersenyum kepadanya.


"Morning wife," sapa Ega dengan suara serak.


"Morning hubby," sahut Indhi, meski kesal karena Ega membuatnya kelelahan sepanjang malam, namun nyatanya Indhi juga menikmatinya jadi ia tak bisa protes.


setelah saling menyapa, keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Setengah jam kemudian, mereka sudah siap untuk berangkat ke Rumah Sakit.


"Kita sarapan di jalan aja ya," ucap Ega serayamemerikaa jam tangannya. Waktunya sangat mepet jika ia harus menyiapkan sarapan terlebih dulu.


"Oke."


Dalam perjalanan menuju tempat kerja, Ega sempat mampir ke salah satu restoran dan membeli sarapan untuknya dan juga sang istri. Ia kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Rumah Sakit.


Setibanya di Rumah Sakit, keduanya keluar dari mobil.


"Kak, aku duluan ya. Aku jaga UGD hari ini," ucap Indhi berpamitan, wanita itu meraih tangan Ega dan mengecup punggung tangan suaminya. Saking terburu-burunya, Indhi sampai melupakan sarapan yang di beli Ega.


"Dasar ceroboh," gumam Ega, pria itu lalu mengikuti Indhi dari belakang.


Kehadiran Ega di UGD tentu saja menarik banyak perhatian, pasalnya dokter tampan dengan sejuta keahlian itu merupakan salah satu Dokter Bedah terbaik di Rumah Sakit tersebut. Semua mata tertuju pada Indhi, ya siapa lagi kalau bukan Dokter Umum berwajah cantik itu yang menarik kedatangan Ega. Beberapa perawat menatap iri saat Ega memberikan sarapan Indhi yang terlupakan.


"Astaga aku sampai lupa," pekik Indhi seraya menerima sarapannya. "Thanks honey," imbuhnya sambil berbisik.


"Nice day wife," ucap Ega, pria itu mengusap kepala Indhi sekilas lalu meninggalkan tempat itu.


"Astaga mereka romantis sekali," ucap salah satu perawat yang ada di UGD


"Kalau aku yang jadi Dokter Indhi, aku pasti sudah pingsan saking senangnya," sahut perawat lainnya.


kehaluan mereka harus berakhir saat seseorang masuk ke dalam UGD sambil menangis.


"Sus tolong anak saya, dia ada di dalam mobil," ucap seorang ibu pada salah satu perawat.


Kedua perawat itu berlari keluar sambil mendorong brankar dan menghampiri sebuah mobil yang berhenti di depan pintu ruang gawat darurat itu, di dalam mobil seorang remaja pria tengah berteriak kesakitan sambil memegangi perut bagian kanan bawah.


Remaja pria itu segera di pindahkan ke atas brankar, remaja yang kira-kira berusia lima belas tahun tersebut tak henti-hentinya berteriak kesakitan. Kedua perawat itu segera mendorong brankar masuk ke dalam ruang tindakan.


Melihat kedua perawat membawa pasien, dengan cepat Indhi mendatangi pasiennya.


"Apa keluhannya?" tanya Indhi pada seorang wanita yang di yakini sebagai ibu pasien.


"Anak saya terus saja mengeluh sakit di perut bagian kanan bawah dok, beberapa hari terakhir dia kehilangan nafsu makan, demamnya tinggi dan beberapa kali muntah," jelas ibu pasien.


Indhi mengangguk paham, ia lalu menekan area perut pasien yang di keluhkan sakit. Pasien itu kembali berteriak histeris, untuk kembali menyakinkan diagnosanya, Indhi mengangkat kaki kanan pasien dan pasien itu kembali berteriak kesakitan.


"Lakukan apapun dok, tolong selamatkan anak saya," pinta ibu pasien dengan air mata berlinang.


"Sudah kewajiban kami bu," ujar Indhi dengan sopan. Dokter muda itu lalu beralih pada perawat yang membantunya.


"Sus tolong siapkan semua keperluan tes pasien. Jika benar terjadi peradangan usus buntu yang serius segera hubungi Dokter Bedah," titah Indhi.


"Baik dok."


Penyakit usus buntu adalah peradangan pada usus buntu atau apendiks, yaitu organ berbentuk kantong berukuran 5–10 cm yang tersambung ke usus besar.  Kondisi ini umumnya ditandai dengan nyeri di perut bagian kanan bawah.


Penyakit usus buntu sendiri terjadi akibat infeksi di rongga usus buntu. Akibatnya, bakteri berkembang dengan cepat sehingga membuat usus buntu meradang, bengkak, dan bernanah.


Jika dibiarkan, penyakit usus buntu dapat menjadi serius dan menyebabkan usus buntu pecah. Kondisi tersebut dapat menimbukan nyeri hebat yang bisa berakibat fatal.


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah tiba waktu istirahat. Indhi mendaratkan bokongnya di atas tempat duduk, berjaga di UGD adalah hal yang selalu menguras waktunya. Lihatlah sekarang, ia bahkan belum memakan sarapan yang di beli suaminya dan sudah tiba waktunya makan siang.


Karena tak ada lagi pasien darurat, Indhi memutuskan pergi ke kantin Rumah Sakit, ia ingin menikmati waktu sarapan dan makan siangnya dengan tenang. Indhi membeli satu kotak jus segar dan sebotol air mineral, wanita itu lalu duduk di salah satu kursi yang kosong.


Indhi mengeluarlan makanan yang di beli Ega tadi pagi. Meski sudah dingin tapi rasanya sayang untuk membuangnya, jadi Indhi memutuskan untuk tetap memakannya.


Baru beberapa suap ia menikmati makan siangnya dengan tenang, wanita itu menghela nafas berat saat melihat seseorang berdiri di hadapannya. Seseorang yang sangat di hindarinya itu malah sengaja menampakkan diri.


"Boleh saya duduk di sini?" tanya seseorang yang tak lain adalah Dokter Ilham, mantan tunangannya.


"Silahkan," jawab Indhi dingin, meski kehilangan seleranya namun ia tetap harus mengisi perutnya agar tidak lemas saat kembali bekerja nanti.


"Terima kasih," ujar Dotker Ilham. Pria itu lalu menaruh nampan berisi makanan, dan bersiap menyantap makannya.


Namun bukannya makan, pria itu malah memperhatikan Indhi yang sedang menikmati makanannya, pria itu tersenyum sekilas saat melihat Indhi begitu lahap. "Apa kamu sangat lapar, kenapa makannya cepat sekali?" tanyanya penasaran.


Indhi mengunyah makanannya dengan cepat, ia lalu menyambar kotak jus dan meminumnya hingga setengah habis. "Saya tidak ingin terlalu lama berada di dekat anda, jadi saya harus menyelesaikan makan siang saya dengan cepat," jawab Indhi menohok hati mantan tunangannya.


"Apa tak ada lagi maaf untukku? Apa kita tak bisa berteman?"


Indhi benar-benar kehilangan nafsu makannya, wanita itu menghela nafas berat lalu menatap pria yang duduk di hadapannya.


"Tidak," ucap Indhi dengan tegas, wanita itu lalu beranjak dari kursinya. "Jangan pernah memimpikan hal itu," imbuhnya dengan kejam.


Indhi lalu meninggalkan Dotker Ilham dengan sejuta penyesalannya. Pria itu menunduk lemah.


"Ya aku memang tidak pantas memimpikanmu lagi. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Aku masih mencintaimu Ndi," ucapnya penuh penyesalan.


"Jangan berani-benari mencintai istri orang lain."


BERSAMBUNG...