Marry me, Brother

Marry me, Brother
Bahaya Pergaulan Bebas



Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah seminggu setelah sidang putusan pengadilan dan kini Indhi mulai beraktivitas seperti biasanya. Meski masih memilih soal makanan, namun setidaknya ada sesuatu yang masuk ke dalam perutnya demi memenuhi kebutuhan kedua bayinya. Indhi juga sudah mulai bekerja lagi, selama sembilan bulan ke depan ia di bebaskan dari shift malam dan tugas di UGD, pemilik Rumah Sakit sangat memperlakukan karyawannya dengan sangat baik.


Pagi ini Indhi sudah berada di ruangannya, ia tengah bersiap sebelum jam kerjanya di mulai. Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke dalam ruangan Indhi bersama dengan seorang pasien. Indhi tersenyun kepada pasiennya dan mempersilahkan pasiennya untuk duduk.


"Ada yang bisa di bantu?" tanya Indhi pada seorang pemuda yang kira-kira berusia dua puluh tahunan.


"Begini dok, beberapa hari terakhir saya terkena flu, demam saya juga tinggi. Saya sudah minum obat warung tapi gejalanya semakin parah. Malah kepala saya ikut sakit dan sendi-sendi saya terasa nyeri," ucap pemuda itu menjelaskan gejala yang di alaminya.


"Kita tensi darah dulu ya. Sus, tolong bantu untuk tensi darah!" titah Indhi pada perawat yang membantunya.


"Baik dok. Bisa di buka jaketnya mas?" ucap perawat itu sambil tersenyum.


Pemuda itu mengangguk lalu membuka jaketnya, betapa terkejutnya perawat tersebut saat melihat ruam kemerahan di telapak tangan pasiennya.


"Dokter, lihat ini!" perawat tersebut menunjuk ruam pada telapak tangan si pemuda.


"Sejak kapan ruamnya muncul?" tanya Indhi dengan wajah serius.


"Sekitar seminggu yang lalu dok. Apa saya terkena cacar?" tanya pemuda itu dengan ragu.


"Tolong buka mulutnya sebentar, saya akan memeriksa apa ada ruam di mulut anda!"


Pemuda itu lalu membuka mulutnya sesuai perintah Indhi, dokter itu kembali di buat terkejut melihat ada beberapa ruam di dalam mulut pasiennya.


"Anda masih sekolah?" tanya Indhi setelah memeriksa mulut pasiennya.


"Saya masih kuliah dok."


"Apa saya bisa bertanya tentang urusan pribadi?" tanya Indhi lagi, meski sempat ragu namun akhirnya pemuda itu mengangguk.


"Kamu pernah melakukan *3*** bebas?"


Pemuda itu terkejut dengan pertanyaan Indhi, pemuda itu menunduk seraya meremas tangannya sendiri, keringat dingin menetes di pelipisnya.


"Saya mohon jawab yang jujur, dengan begitu saya bisa membantu anda," ujar Indhi karena pemuda itu hanya diam dan menunduk.


Perlahan pemuda itu mulai mengangkat kepalanya, dengan segenap keberanian yang ia punya ia lalu menatap Indhi. "Apa saya sakit parah?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan menghakimi urusan pribadimu, tapi aku harap kamu bisa berkata jujur, jika penyakitmu sama seperti yang aku pikirkan, itu tandanya kamu harus segera di obati. Tidak perlu takut, katakan yang sebenarnya. Apa kamu pernah melakukannya?" imbuh Indhi panjang lebar, kali ini ia tak memakai bahasa formal lagi agar pasiennya tak merasa canggung ataupun segan untuk bercerita.


Dengan mata yang berkaca-kaca pemuda itu mengangguk pelan. "Saya terjebak hubungan sesama jenis dok," tuturnya dengan bibir bergetar.


"Terima kasih karena sudah jujur. Kita akan melakukan tes darah, di lihat dari gejalanya kemungkinan kamu terkena Sifilis atau yang sering di sebut Raja Singa," ungkap Indhi dengan raut khawatir.


"Sifilis?" ulang pemuda itu dengan wajah memucat.


"Ya Sifilis, salah satu penyakit seksual yang menular. Penyakit sifilis terjadi karena adanya infeksi bakteri Treponema Pallidum yang masuk ke tubuh, bakteri akan menginfeksi tubuh melalui kontak dengan orang yang menderita penyakit Sifilis selama aktivitas seksual. Bakteri juga dapat menular saat melakukan kontak fisik dengan luka orang yang menderita Sifilis," terang Indhi.


"Apa bisa di obati?" tanyanya dengan di penuhi rasa takut.


"Kita harus mencari tahu sampai di tahap mana penyakit itu menyerang tubuhmu. Untuk mengobati sifilis tahap primer, sekunder, dan laten dokter akan memberikan suntikan Penisilin, sejenis antibiotik."


"Lalu apa saya bisa sembuh total dok?"


"Penyakit sifilis dapat disembuhkan jika pengobatan dilakukan sedini mungkin. Semakin dini seseorang mengetahui diagnosis sifilis, maka pengobatan akan mencegah penyebaran bakteri ke organ tubuh lainnya. Namun, bila bakteri sifilis telah menyerang dan merusak organ tubuh. Pengobatan mungkin tidak membantu memperbaiki organ tubuh yang rusak akibat infeksi. Berdoa saja agar kamu bisa sembuh, dan setelah kejadian ini aku harap kamu meninggalkan dunia sesat itu. Kamu masih kulih, jalanmu masih panjang. Setidaknya ingatlah kedua orang tuamu yang memiliki harapan besar kepadamu," pesan Indhi dengan lembut, meski pemuda itu salah namun tak seharusnya Indhi menghakiminya, justru pemuda itu harus di rangkul agar bisa kembali ke jalan yang benar.


"Iya dok, saya sangat menyesal. Saya akan berusaha keluar dari lingkaran hitam itu. Terima kasih banyak dok," ucap pemuda itu sedih, bahkan kini air mata menetes di pipinya.


"Sekarang ikut Suster Lina ke Laboratorium untuk cek darah. Setelah hasilnya keluar kamu bisa kesini lagi. Ingat pesanku ya, untuk sementara jangan dulu berkontak fisik dengan orang lain. Kamu mengerti kan yang aku maksud?"


"Saya mengerti dok, saya juga tidak mau menularkan penyakit ini kepada siapapun."


Indhi menanggapinya dengan senyum ramah. "Aku yakin kamu akan baik-baik saja," ucap Indhi menenangkan.


"Terima kasih banyak dok, saya permisi," pemuda itu lalu keluar bersama perawat.


Setelah kepergian pasiennya, Indhi membuang nafas berat, wanita hamil itu menyayangkan pergaulan anak zaman sekarang. Mereka dengan santainya melakukan *3*** bebas tanpa menggunakan pengaman tanpa tahu bahaya apa yang mengincar mereka. Kurangnya edukasi mengenai bahaya *3*** bebas sejak dini membuat generasi muda acuh pada kesehatan. Padahal pendidikan *3*** pada anak dapat membantu anak untuk terhindar dari risiko pelecehan hingga penyimpangan sek*sual. Melalui pendidikan *3***, anak akan lebih mengenali fungsi tubuhnya, menghindari apa yang seharusnya tidak dilakukan serta memahami konsekuensi dari tiap perbuatannya.


Sayangnya, banyak orang tua yang merasa tabu atau tidak tahu bagaimana memberikan pendidikan *3*** yang tepat pada anak. Ketiadaan pendidikan *3*** yang tepat pada anak ini memungkinkan timbulnya rasa penasaran yang mereka jawab dengan cara yang tidak sesuai norma.


BERSAMBUNG...