
“Jauh dari orang tersayang dapat membuat tubuh mengalami respon fisik yang setara dengan gejala penarikan obat. Penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan rasa cemas, kadar stres dan kortisol pada tubuh manusia yang sedang dilanda rindu. Tak hanya itu, rasa ketidaknyamanan fisik juga muncul saat seseorang berada jauh dari pasangannya.”
Rindu, kata itulah yang mungkin tepat untuk menggambarkan keadaan yang tengah di rasakan oleh Dion, seharian pria itu merasa tidak nyaman dan gelisah, beberapa kali ia memeriksa ponsel namun tak mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu pesan dari Arum. Pria itu telah terbiasa di ganggu oleh gadis itu, kini tiba-tiba gadis itu menghilang dan menyisakan kebiasaan yang telah menemaninya bertahun-tahun ini.
Dion tak ingin menjadi pecundang lagi, ia memberanikan diri datang menemui Arum di rumahnya, wajahnya yang penuh lebam tak menghalangi niatnya untuk bertemu Arum dan memohon pengampunan kepada gadis itu. Dion mengerutkan dahinya saat mendapati halaman rumah Arum di padati dengan beberapa mobil yang ia kenali, tak biasanya rumah itu ramai. Dion bergegas turun, seketika ia merasa khawatir kepada Arum.
Pintu rumah tersebut tak tertutup rapat, Dion menerobos masuk tanpa permisi dan mendapati Ega, Indhi, Fajar, serta Dita sedang duduk bersama di ruang keluarga. Kedatangan Dion tentu saja membuat mereka terkejut, apalagi luka biru keunguan yang memenuhi wajah Dion.
"Ngapain kesini lagi?" tanya Fajar dengan nada tak enak di dengar.
"Jar, kasih kesempatan aku buat ketemu dan ngomong sama Arum," pintanya dengan wajah memelas.
"Duduk dulu Yon, kita bahas masalah ini dengan kepala dingin." Ega menunjuk kursi kosong di sebelahnya. "Dan kamu Jar, tahan emosimu, kita dengarkan alasan Dion dulu," pesan Ega sambil menatap Fajar.
"Aku coba tahan mas," sahut Fajar.
Dion duduk di kursi yang berada di samping Ega, pria itu menunduk dan meremas buku-buku jarinya.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu, Arum datang ke rumah kami sambil menangis?" tanya Ega berusaha bijak dan menjadi penengah mengingat Fajar adalah tipe orang yang gampang tersulut emosi.
"Malam itu kita makan malam bersama kan, setelah kalian pulang Arum kembali menyatakan perasaannya. Aku kembali menolaknya. Arum lalu pergi ke bar, dia mabuk dan aku menyusulnya, dia kembali memesan alkohol dan aku meminum alkohol pesanannya karena Arum sudah mulai mabuk. Kami berencana untuk pulang, aku masih dalam pengaruh alkohol sementara Arum sudah sadar. Tanpa sengaja aku menciumnya dan menggungkapkan perasaanku yang sesungguhnya. Saat sadar aku mengingat semuanya, aku terlalu pengecut dan khawatir jika Fajar akan menghabisiku karena aku menyukai Arum, dan dengan bodohnya aku mengatakan kepada Arum jika ciuaman itu adalah sebuah kesalahan." ungkap Dion panjang lebar, sementara pendengarnya serempak membuang nafas panjang.
"Kenapa kamu tidak bertanya langsung padaku. Aku tidak akan marah seandainya aku tau kamu menyukai Arum. Selama ini aku melarangnya mengejarmu karena aku pikir kamu tidak menyukainya." ucap Fajar dengan wajah yang lebih tenang.
"Maaf Jar, seharusnya aku melakukan hal itu. Aku memang pengecut," sahut Dion menyalahkan diri."
"Sudahlah, tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri dan menyesali yang sudah terjadi, sekarang yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki hubunganmu dengan Arum. Aku belum pernah melihatnya sehancur itu Yon," pesan Ega bijak.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang mas?" tanya Dion sambil menatap Ega.
"Aku juga tidak tau, aku belum pernah membujuk wanita sebelumnya. Coba kamu bantu Dion sayang," Ega menoleh ke arah Indhi dan meminta pendapat istrinya.
"Yang pertama biarkan dia istirahat dulu, kondisinya benar-benar buruk." kata Indhi seraya menatap tajam ke arah Dion.
"Selanjutnya kak Dion harus berusaha mendapatkan kepercayaan Arum lagi. Dekati dia dengan ketulusan,beri dia perhatian dan jangan membuatnya sedih lagi."
"Baiklah, aku akan mencobanya."
Dion akhirnya pulang tanpa bertemu dengan Arum, dia mengikuti saran Indhi untuk membiarkan Arum menenangkan hati dan juga dirinya. Mungkin kini Dion terkena karma, sekarang pria itu harus berusaha mendapatkan hati Arum lagi.
"Om kami pulang dulu ya. Nanti kalau infusnya habis, om tinggal pasang kaya yang aku ajarin tadi, nanti malam aku kesini lagi." pamit Indhi kepada Fajar.
"Sabar Jar. kalau ada apa-apa segera hubungi kami,"ucap Ega sambil menepuk pundak Fajar .
"Makasih mas."
"Om, Dita juga pamit pulang ya."
"Makasih ya Dit."
Ega, Indhi dan Dita meninggalkan rumah Arum bersamaan, saat sudah berada di halaman, Indhi menghentikan langkahnya dan menghadang sahahatnya
"Dit sekalian aja pulangnya, rumah kita searah kan?" Indhi menawarkan bantuan untuk sahabatnya. Dita melirik Ega sekilas namun pria itu tak berekspresi sedikitpun.
"Nggak usah Ndi, aku bisa naik taxi kok," tolak Dita karena tak mau melihat kemesraan mereka.
"Yakin?" tanya Indhi memastikan.
"Iya Ndi."
"Hati-hati pulangnya Dit."
"Aku duluan ya." Dita melangkahkan kakinya meninggalkan halaman rumah Arum, namun ia sempat tak sengaja mendengar percakapan Ega dan Indhi yang membuat dadany terasa sesak, ia kembali merasa cemburu dan semakin tak rela melepaskan Ega.
"Besok mau sarapan apa kak?" tanya Indhi masih dalam posisi berdiri di halaman rumah Arum.
"Nasi goreng boleh, asal jangan rasa kecap dna gula mulu," ledek Ega mengingat nasi goreng yang di makannya beberapa hari yang lalu.
"Kakak ih. Itu semua salah bi Sumi kak, si bibi nggak ngasih tau aku mana gula, mana garam dan micin." elak Indhi membela diri.
"Kamu dokter, mustahil nggak bisa bedain mana gula dan mana garam. Atau jagan-jangan kamu sengaja kan?" tebak Ega sambil menunjuk wajah istrinya.
"Eggak kak, sumpah." Indhi mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya hingga membentuk huruf V.
"Kalau gitu sarapan kamu aja biar aku cepet di pangil dady." ujar Ega sambil menggelitik perut istrinya.
"Ampun kak," Indhi tertawa menahan geli, setelah Ega melepaskannya kedua orang itu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Arum.
"Kenapa kamu tidak bisa bersikap manis saat bersamaku kak? Benarkah tidak ada sedikitpun rasa cinta untukku? Maafin aku yang belum bisa merelakanmu."
BERSAMBUNG...