
"Zean," pekik Indhi setengah sadar, matanya mulai berkaca-kaca dan seketika tubuhnya terasa lemah, detik itu juga Indhi merasa tulang-tulangnya terlepas dari tubuhnya, Indhi limbung dan hampir jatuh, untung saja pemuda yang di panggil Zean itu dengan sigap berlari dan menahan tubuh Indhi.
"Are you okay?"tanya pemuda itu khawatir.
Indhi tak kuasa menahan air matanya. Pertanyaan pemuda itu justru membuatnya semakin teringat akan Zean. Namun detik selanjutnya Indhi tersadar jika Zean-nya telaht tiada, lalu siapa kah pemuda yang menyerupai cinta pertamanya?
"Saya baik-baik saja?" jawab Indhi dengan tangan dan suara bergetar, perlahan ia mulai menyeka air matanya dan berusaha untuk berdiri sendiri.
"Sister, did you forget me?"
Indhi menatap pemuda yang kini berdiri di hadapannya, setelah kewarasannya kembali, wanita itu akhirnya teringat akan sosok bayi mungil yang lahir 14 tahun silam.
"Sam?" ucapnya ragu, pasalnya hampir 5 tahun mereka tak bertemu, setelah kematian Zean, mamy dan keluarganya memutuskan pindah ke California.
"Ya kak, ini Sam," jawab pemuda itu meyakinkan Indhi.
"Oh astaga Sam, kamu sudah sebesar ini," Indhi lalu memeluk tubuh pemuda yang sudah di anggapnya sebagai adik, wanita itu kembali menangis karena terharu bertemu lagi dengan bocah yang memiliki peran penting saat Zean meninggalkannya.
"Kak, aku datang untuk berobat. Mamy menunggu di taman rumah sakit. Setelah pekerjaan kakak selesai, temui kami di sana!"
"Kau sakit?" Indhi mengurai pelukannya dan menatap Sam.
"Mungkin karena cuaca di sini cukup dingin, sudah seminggu aku flu," jawab Sam.
"Baiklah kakak akan memeriksamu!"
***
Tak henti-hentinya Indhi melirik jam di tangannya, rasanya waktu berputar begitu lama, padahal ia sudah tak sabar ingin segera menemui wanita yang di panggilnya mamy. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya tugas Indhi berakhir, wanita hamil itu bergegas pergi ke taman rumah sakit.
Dari kejauhan Indhi melihat dua wanita duduk bersebelahan, sementara Sam duduk di kursi lain dan sedang bercengkerama dengan kedua wanita itu. Dengan langkah yang begitu cepat, Indhi menghampiri ketiga orang yang sangat di rindukannya.
"Mamy," panggil Indhi dengan suara serak, oh ayolah wanita hamil itu kembali menangis.
"Sweety," ucap seorang wanita paruh baya yang di panggil mamy tersebut, wanita itu segera memeluk Indhi dan ikut menangis bersamanya. Keduanya larut akan air mata yang menggambarkan perasaan mereka, rasa rindu, kenangan menyakitkan dan kenangan membahagiakan bercampur menjadikan sebuah tangis haru.
"Sayang, apa kabarmu?" mamy melepaskan pelukannya, wanita itu lalu menyeka air mata Indhi.
"Indhi baik mom, bagaimana dengan momy? Oh ya kapan kalian datang, kenapa tak menghubungiku?"
"Mamy juga baik nak. kami datang sekitar dua minggu yang lalu. Maaf ya,mamy sibuk mengurus sekolah Sam, jadi mamy baru sempat mengunjungimu," jawab mamy penuh sesal.
"Sekolah?" ulang Indhi penasaran.
"Kami memutuskan kembali ke Indonesia!"
Seketika mata Indhi berbinar mendengar kabar tersebut. "Mamy serius?" tanyanya tak percaya.
""Indhi sangat senang mendengarnya mam."
"Non," sela sebuah suara yang berasal dari punggung mamy.
"Mbok," Indhi sedikit bergeser dan segera memeluk wanita tua yang dulu selalu menyiapkan makanan untuknya saat ia datang ke rumah Zean. "Mbok apa kabar?"
"Mbok baik non."
"Syukurlah mbok, Indhi sangat merindukan mbok Yem."
Mbok Yem melepas pelukannya saat ia merasa ada yang menonjol di perut Indhi, wanita itu lalu menatap perut Indhi yang sudah membuncit. "Non hamil?" tanya mbok Yem memastikan.
"Hamil?" cetus momy yang sejak tadi belum menyadarinya.
"Iya mom, Indhi hamil lima bulan, dan bayinya kembar," jawab Indhi gamang, meskipun ini adalah kabar bahagia, namun rasanya ia tak pantas mengabarkan kebahagiaan itu, sementata mamy pasti masih menyimpan duka untuk Zean, sementara Indhi dengan beraninya melanjutkan hidup dan kini berbahagia bersama suami serta calon anaknya.
"Kembar. Astaga mamy sangat bahagia mendengarnya."
"Maaf mom."
"Kenapa minta maaf nak?"
"Maaf karena Indhi melanjutkan hidup dan berbahagia di atas kesedihan mamy."
Mamy meraih tangan Indhi dan menggenggamnya dengan erat. "Sayang, mamy justru bahagia karena akhirnya Indhi bisa merelakan Zean dan memulai hidup yang baru nak. kamu tidak perlu merasa bersalah, karena mamy tidak menyalahkanmu."
"Terima kasih banyak mom."
Mamy hanya mengangguk dengan senyum di wajahnya. "Siapa laki-laki beruntung itu nak?" tanya mamy penasaran.
"Kak Ega mom," jawab Indhi malu-malu.
"Your brother?"
"Hem."
"Bagaimana bisa kalian menikah?"
Indhi lalu mengajak mamy dan mbok Yem duduk. Indhi kemudian menceritakan tentang hubungannya dengan Ega dan bagaimana mereka bisa menikah. Sekilas terlihat amarah di mata mamy saat Indhi menceritakan tentang Dokter Ilham dan Mariam, namum mamy segera menyembunyikan kemarahannya karena tak ingin membuat Indhi khawatir.
"Antar mamy menemui wanita itu!"
BERSAMBUNG...