
"Pantes aja umur udah lanjut usia masih belum dapat jodoh, ternyata karena dia sangat menyebalkan," gerutu Dita tanpa menyadari jika Indhi tengah memperhatikannya.
"Siapa yang nyebelin Dit?"
"Eh. Kamu udah datang?" bukannya menjawab Dita justru balik bertanya kepada sahabatnya.
"Baru aja. Kamu kenapa baru dateng udah kesel itu mukanya?" tanya Indhi lagi karena dia penasaran siapa yang sudah mengganggu sahabatnya.
"Itu loh Dokter Aditya, masa dia ngatain aku perawat abal-abal!" keluh Dita pada Indhi.
"Masa sih, kok kak Adit jahat banget," sahut Indhi tak percaya.
"Nggak cuma jahat tapi dia juga kelewat narsis."
"Tapi dia ganteng kan?" goda Indhi sambil tersenyum.
"Percumah ganteng kalau nyebelin!"
"Jangan terlalu benci sama seseorang, nanti naksir loh."
"Amit-amit Ndi."
Kedua sahabat itu lalu berpisah ke ruangan masing-masing, Indhi kembali ke ruangannya dan siap menerima pasien, sementara Dita memeriksa pasiennya di bangsal.
Pukul delapan pagi pasien pertama Indhi masuk ke dalam ruangannya, Indhi tersenyum ramah kepada dua orang paruh baya yang kemungkinan mereka adalah sepasang suami istri.
"Silahkan duduk bapak, ibu," ucap Indhi sambil tersenyum.
"Terima kasih dok," jawab mereka bersamaan, lalu keduanya duduk di hadapan Indhi.
"Ada yang bisa di bantu?" tanya Indhi seraya menatap kedua orang itu.
"Begini dok, akhir-akhir ini saya sering merasa lelah, berat badan saya juga turun drastis," jelas wanita paruh baya yang duduk di sebelah suaminya.
"Apa ada keluhan yang lainnya, misal ibu sering merasa haus?" tanya Indhi sebelum mendiagnosa penyakit pasiennya.
"Iya dok, setiap malam saya selalu kehausan dan sering buang air kecil," imbuh pasien tersebut.
"Sudah pernah cek gula darah sebelumnya bu?"
"Belum dok."
"Dari gejala yang ibu sampaikan kemungkinan kadar gula ibu tinggi. Tapi untuk memastikannya ibu harus cek kadar gula dulu di laboratorium.Nanti hasilnya bisa di bawa lagi kemari."
"Sus, tolong antar ibu ini ke laboratorium ya!"
Kedua pasien Indhi keluar dari ruangannya dengan di dampingi oleh perawat menuju laboratorium. Setengah jam kemudian, sepasang suami istri itu kembali ke ruangan Indhi dan menyerahkan selembar kertas hasil pemeriksaan laboratorium. Indhi memeriksa hasil laboratorium tersebut, dokter muda itu terkejut karena kadar gula darah pasiennya sangat tinggi.
"Kadar gula darah ibu sangat tinggi. Dari hasil laboratorium menunjukan kadar gula ibu 500miligram/desiliter." terang Indhi seraya menatap pasiennya dengan mimik khawatir pasalnya kadar gula darah pasiennya sudah melambung jauh di atas batas normal. kadar gula darah seseorang di katakan normal jika
sebelum makan kadar gula dalam darah berkisar antara 70-130 miligram/desiliter dan setelah makan, kadar akan naik dari batas tersebut yaitu kurang dari 140 miligram/sediliter setelah dua jam. Sementara dalam kondisi puasa selama delapan jam, kadar gula darah normal yaitu kurang dari 100 miligram/desiliter.
"Sangat pak. Kadar gula yang terlalu tinggi bisa menyebabkan komplikasi yang merujuk pada Diabetes tiprle 2, jantung dan gangguan pada ginjal. Saya akan buatkan rujukan ke Dokter Spesialis Dalam. Di sana ibu akan berkonsultasi dengan dokter ahli tentang penanganan penyakit ibu lebih lanjut."
"Apa tidak bisa dokter saja yang merawat saya?" pinta ibu itu, wajahnya terlihat sedih.
"Maaf bu, tidak bisa. Sudah bukan ranah saya untuk merawat ibu. Ibu tidak perlu khawatir, Dokter Spesialis Dalam Rumah Sakit kami adalah dokter terbaik, ibu bisa mempercayakannya kepada beliau."
"Baik dok kalau begitu, terima kasih banyak dok."
Indhi menatap nelangsa kepergian pasiennya. Indhi serasa tercubit karena dia sendiri belum bisa menjaga pola makannya dengan baik, masih tidak punya waktu untuk berolahraga dan kadang masih suka stres sendirian.
(Stay healthy ya gays, beberapa bulan yang lalu othor baru saja kehilangan ibu othor karena Diabetes. Gejala awal yang ibu othor alami sama persis kek pasien Dokter Indhi. Yok mulai hidup sehat dari sekarang, hindari junk food dan makanan tidak sehat lainnya ya guys, yang masih suka minum boba dan minuman kemasan, mulai di kurang-kurangin ya.. Sehat itu mahal)
***
Jam istirahat adalah jam paling sibuk di kantin Rumah Sakit, karena pada jam itu semua dokter dan perawat dari berbagai departemen berkumpul untuk menyantap makan siang. Begitupun dengan indhi, dokter muda itu sudah mengirim pesan kepada suaminya bahwa ia akan menunggu di kantin dan makan siang berdua.
Sayangnya rencana mereka gagal total, Dita merengek tak ingin makan siang sendirian dan akhirnya Indhi membawa Dita untuk makan siang bersama. Pun dengan Ega, sebelum ke kantin, pria itu sudah di hadang oleh sahabatnya, mau tidak mau ia membawa serta sang sahabat untuk makan siang bersama.
"Sepertinya kalian memang jodoh," ucap Indhi saat mereka bertemu di kantin, pasalnya Dokter Aditya dan Dita sering bertemu meskipun mereka saling merasa kesal satu sama lain.
"Dari namanya saja sudah kelihatan." sambung Ega sambil menyikut lengan sahabatnya.
"Amit-amit," jawab Dokter Aditya dan Dita bersamaan.
"Amit-amit sama Amin amin beda tipis loh," goda Indhi sambil menahan senyum.
"Jangan sampe aku jodoh sama dokter narsis macam dia. Pantas saja sudah lanjut usia belum punya istri." seru Dita dengan wajah sebalnya.
"Kamu baru saja menghinaku? usiaku ini bukan usia lanjut, tapi usia matang dan mapan untuk mempunyai istri, dan sayangnya aku tidak berminat memiliki istri karena merepotkan," sahut Dokter Aditya tak mau kalah.
"Lagian mana ada yang mau sama dokter tua kaya anda."
"Semoga nona perawat berjodoh dengan kakek-kakek yang lebih tua dariku."
"Sudah, malu di liatin orang-orang," lerai Ega ."Ayo makan, setelah makan baru kalian lanjut lagi!"
Ega menarikkan kursi untuk istrinya duduk, sementara Dokter Aditya dan Dita terpaksa duduk bersebelahan karena tidak ada kursi kosong yang tersisa. Dalam keheningan mereka menikmati menu makan siang masing-masing, namun banyak hal yang mengganggu waktu makan siang dua jomblo yang saling bermusuhan itu, mereka harus menonton kemesraan yang di tunjukkan oleh sepasang suami istri yang duduk di hadapan mereka.
Di mata Dita, Ega nampak sangat mencintai sahabatnya, lihat saja bahkan untuk makan siang saja tak henti-hentinya Ega memandangi wajah Indhi, sesekali Ega mengambil lauk yang Indhi tak suka, menyiapkan minum saat Indhi tersedak dan banyak hal kecil lainnya yang membuat Dita merasa sangat cemburu.
"Semoga kelak aku menemukan pria yang lebih baik dari kakak," batin Dita nelangsa.
Sementara Doter Aditya hanya bisa menggerutu di dalam hati, pria itu merasa jika sang sahabat hanya sedang memanasinya dengan bermesraan di depannya.
"Dasar kamvret. Aku tau mau kalah romantis darimu kalau aku memiliki istri nantinya."
BERSAMBUNG..