Marry me, Brother

Marry me, Brother
Sebuah kesalahan



Jas hitam serta kacamata hitam Ega kenakan saat menghadiri pemakaman tuan Hendarwan, wajahnya terlihat datar, namun kesedihan yang dalam tersimpan di balik kaca mata hitamnya.


Sebuah tangan tiba-tiba menggenggam tangannya,.seketika ia merasa hangat saat tangan itu menyentuhnya. Ega menoleh, tepat di sebelahnya, Indhi berdiri seraya menatapnya lembut, seolah- olah wanita itu sedang mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


Ega kembali menatap galian tanah berwarna kemerahan, tempat dimana tuan Hendarwan akan di semayamkan. Penyesalan tentu saja memenuhi hatinya, seandainya ia tak terlalu keras kepala, mungkin saja kini mereka tengah bersama sebagai seorang paman dan keponakan.


Tangis pilu tak henti-hentinya keluar dari bibir mama Mayang, wanita tua itu bersandar di pelukan putranya seraya meratapi kematian suami tercinta.


Semua anggota keluarga menabur bunga di atas pusaran tuan Hendarwan, tak terkecuali Ega, pria itu bahkan menangis saat kelopak bunga mulai berjatuhan di atas gundukan tanah.


"Maaf," lirih nya penuh sesal, keegoisan serta amarah yang mendalam membuat Ega melupakan semua kebaikan tuan Hendarwan kepadanya. Padahal jika di pikir lagi, apa yang tuan Hendarwan lakukan adalah bentuk kasih sayang nya kepada Ega.


Saat semua orang akan pulang, tak sengaja Ega menangkap sosok yang tak asing baginya, sosok itu bersembunyi di balik pohon kamboja dengan setelan serba hitam dan kain penutup kepala.


"Sherly," ujar mama Mayang yang juga melihat kedatangan wanita itu.


Mama Mayang berlari menghampiri Sherly, lalu di ikuti oleh yang lainnya.


"Sherly," panggil mama Mayang dengan suara serak.


"Mbak Mayang," pekik wanita bernama Sherly yang tak lain adalah ibu kandung Ega.


"Kenapa kamu sembunyi di sini, apa kamu tidak ingin melihat kakakmu untuk yang terakhir kali?"


"Mbak aku," Sherly tak melanjutkan kalimatnya, wanita itu menatap takut pada Dua yang berdiri di belakang kakak iparnya.


Mama Mayang menoleh, seketika ia tau mengapa Sherly enggan bergabung mengantar tuan Hendarwan ke peristirahatan terakhirnya, wanita itu pasti malu bertemu lagi dengan Ega setelah semua perbuatannya.


"Sayang, ayo kita pulang," ajak Ega seraya menarik lembut tangan Indhi, namun wanita hamil itu enggan bergerak dan malah menahan tangan suaminya.


"Sayang please, aku lelah," ajak Ega dengan wajah putus asa, mau tidak mau akhirnya Indhi mengalah dan meninggalkan pemakaman.


Semua orang menatap kepergian Ega dan Indhi, lalu mereka beralih menatap Sherly dengan prihatin.


"Beri dia waktu Sher!" ujar mama Mayang seraya menepuk bahu adik ipar nya.


"Aku tidak berharap dia mau mengakui ku mbak. Aku hanya sedih, setiap melihatnya aku seperti melihat masa lalu ku yang mengerikan! Dia kesalahan terbesar ku!"


"Dita," ucap mama Mayang dan Dokter Aditya bersamaan.


"Mah, mas Adit. Nyonya Sherly bahkan menganggap kak Ega adalah sebuah kesalahan, bukankah lebih baik kak Ega tetap bersikap demikian, tidak mengakui ibunya sendiri. Kak Ega juga pantas bahagia! "


Dokter Aditya menatap istrinya dengan tatapan yang aneh, entah sejak kapan ia merasa kesal saat Dita membela Ega, intinya pria itu tak suka saat Dita menyebut nama Ega.


"Ya kamu memang benar. Sebaiknya kami memang hidup seperti ini," jawab Sherly sedih.


"Sher, maafin menantuku, aku yakin dia tak bermaksud membuat mu sedih," sahut mama Mayang tak enak hati.


Dita memutar bola matanya jengah, semenjak Dita tau jika Sherly pernah meminta uang dari Ega, ia merasa jika Sherly tak pernah tulus kepada Ega, mungkin saja Sherly hanya memanfaatkan Ega, hal itulah yang terbersit di pikiran Dita.


Sementara di tempat lain, Ega dan Indhi sudah tiba di rumah ibunya. Setelah membersihkan diri, keduanya duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Ega memeluk istrinya penuh kasih sayang, sementara Indhi terlihat bimbang, ia ingin membahas masalah Sherly namun ia takut Ega akan marah kepadanya.


"Katakan!" ucap Ega seraya memainkan ujung rambut istrinya.


"Eh," pekik Indhi terkejut.


"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan. sejak tadi kamu sangat gelisah," lanjut Ega menjawab rasa penasaran Indhi.


"Apa ini, apa kakak dukun?" jawab Indhi tak percaya, bisa-bisanya suaminya tau jika dia ingin membicarakan sesuatu.


"Cepat katakan, Nanti kamu malah nggak bisa tidur!"


"Mm, mengenai bu Sherly..." Indhi ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


Ega mengurai pelukannya, pria itu lalu menatap istrinya. "Sayang, semenjak dia meminta uang padaku aku sudah menganggap tali takdir di antara kami sudah putus. aku tak pernah melihat ketulusan di matanya, jadi aku mohon jangan paksa aku untuk menerima wanita itu lagi. Aku baik-baik saja,cukup denganmu dan ibu serta bayi kita aku sudah bahagia," jelas Ega tanpa keraguan.


"Maaf kak, aku akan menghargai keputusan kakak!"


"Terima kasih sayang."


BERSAMBUNG...