
"Lalu bagaimana dengan kandungannya?" tanya Dokter Nanda memastikan kondisi janin pada rahim Indhi.
"Apa maksud anda dok?" tanya Ega masih tak mengerti.
"Apa Indhi belum memberi tahu Dokter Kevin tentang kabar bahagia ini? Indhi sedang hamil dan usianya kandungannya kini memasuki minggu ke lima," terang Dokter Nanda dengan ekspresi tak kalah terkejutnya.
"Indhi hamil?"
Entah harus bagaimana, Ega merasakan dua hal dalam satu waktu, dia sangat bahagia mendengar berita tentang kehamilan Indhi namun di sisi lain ia semakin cemas dengan kondisi istrinya. Ega hanya bisa duduk pasrah sambil berdoa agar istri dan calon anaknya baik-baik saja, pria itu menangkup kedua telapak tangannya di wajah, tak terasa buliran demi buliran mulai menetes di wajah lelahnya.
"Dokter Aditya, saya harus masuk dan memeriksa kondisi janin Indhi, kehamilannya masih dalam trimester awal dan sangat rentan keguguran!"
Ucapan Dokter Nanda seolah memberi secercah harapan pada Ega, pria itu lalu berdiri mensejajari sahabatnya. "Dit, tolong aku. Izinkan Dokter Nanda masuk dan memeriksa kondisi janin dalam rahim istriku!" iba Ega dengan tatapan memohon.
"Aku tidak memiliki wewenang Vin, tapi aku akan bicara kepada ayahku. Kalian tunggu di sini sebentar!"
Dokter Aditya melangkahkan kakinya menjauh dari kedua dokter itu, dari kejauhan Ega bisa melihat wajah tegang Dokter Aditya, nampaknya dokter itu tengah berdebat dengan ayahnya, meski begitu Ega berharap Dokter Aditya bisa membujuk ayahnya. Beberapa menit kemudian, Dokter Aditya kembali menghampiri Ega dan Dokter Nanda.
"Bagaimana Dit?" tanya Ega tak sabar.
"Ayahku mengizinkan anda masuk dok, tapi anda juga harus di isolasi selama 14 hari setelah keluar dari ruangan itu," ujar Dokter Aditya seraya menatap Dokter Nanda.
Ega menoleh dan menatap dokter wanita itu, meski ia sangat mencemaskan istrinya namun ia juga tidak boleh egois dan menyeret orang lain ke dalam bahaya. "Dokter Nanda, terima kasih banyak atas itikad baik anda, namun saya juga tidak boleh memaksa anda untuk masuk dan menolong istri saya." ucap Ega sedih, sesekali pria itu menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
"Saya akan masuk untuk memastikan keselamatan Indhi dan bayinya. Saya seorang dokter dan juga seorang ibu, saya tau kepanikan yang sedang Indhi rasakan sekarang. Untuk isolasi selama 14 hari, anggap saja saya sedang istirahat dan melakukan cuti berbayar dari Rumah Sakit," jawab Dokter Nanda di iringi senyum di wajahnya, dokter wanita itu lalu menepuk lengan Ega sambil berkata. "Indhi dan bayinya akan baik-baik saja Dokter Kevin!"
"Terima kasih banyak dok, saya tidak tau harus berbuat apa untuk membalas kebaikan anda," kata Ega penuh rasa syukur karena pada saat seperti ini masih ada orang baik yang rela membantunya meski tau akibatnya.
"Sudah kewajiban saya dok, kalau begitu saya akan masuk sekarang!"
Dokter Nanda lalu menghampiri petugas medis yang membawakan pakaian APD untuknya, ia juga meminta tolong kepada Dokter Aditya untuk memindahkan alat USG ke dalam ruangan ICU guna memantau janin dalam kandungan Indhi, setelah beberapa saat Dokter Nanda akhirnya masuk ke dalam ruang ICU.
"Terima kasih banyak Dit, aku banyak berhutang padamu," jawab Ega seraya menatap Dokter Aditya.
"Jangan seperti itu, Indhi sudah seperti adik untukku, mana mungkin aku tega membiarkannya menderita, apalagi aku akan menjadi rich uncle untuk baby yang ada di dalam perutnya," sahut dokter tampan berwajah oriental itu.
"Rich uncle," ulang Ega sambil tersenyum. "Anankku pasti bangga memiliki uncle seoang pewaris Rumah Sakit," imbuh Ega lagi.
Sementara di dalam ruang isolasi, Indhi terkejut melihat kedatangan Dokter Nanda, waktu itu Indhi memang sempat menghubungi Dokter Kandungannya untuk meminta tolong agar mengirimkan vitamin ke dalam ruang isolasinya, namun siapa sangka justu Dokter Nanda datang sendiri dengan membawa peralatan lengkap untuk memeriksa kandungan Indhi.
"Dok, apa yang kamu lakukan di sini? Disini berbahaya," tanya Indhi dengan wajah pucat serta selang oksigen terpasang di hidungnya.
"Aku harus memastikan kamu dan bayimu baik-baik saja Ndi," jawab Dokter Nanda sambil tersenyum meski wajahnya tertutup masker.
"Tapi dok, di sini tidak aman."
"Aku dokter dan aku tau apa yang harus aku lakukan Ndi. Jangan berfikir terlalu berlebihan, aku hanya ingin membantumu dan bayimu!"
"Terima kasih banyak dok, entah bagaimana aku harus membalas kebaikan kamu," ucap Indhi tulus.
"Astaga, kalian sangat mirip. Dokter Kevin juga mengatakan hal yang sama barusan. Aku hanya ingin kamu berjuang agar bisa keluar dari ruangan ini, dan tentunya dengan bayi yang ada di perutmu."
"Kak Ega ada di luar?"
"Ya, dan suamimu sudah seperti orang gila karena tidak bisa masuk ke sini," seloroh Dokter Nanda sambil mempersiapkan peralatan USG. "Kamu sangat beruntung memiliki suami yang sangat mencintaimu," imbuhnya seraya menatap wajah pucat Indhi.
"Ya aku memang sangat beruntung Nan," gumam Indhi pelan, tangan mungilnya mengusap perut yang belum menonjol sama sekali. "Kita sangat beruntung karena memiliki dady yang sangat mencintai kita, bertahanlah nak, dady menunggu kita di luar," batinnya pilu.
Setelah semua perlengkapan siap, Dokter Nanda mulai memeriksa kondisi Indhi dan janinya. "Tensimu masih rendah, syukurlah janinmu baik-baik saja, denyut jantungnya juga masih normal. Tapi kamu tidak boleh lengah, aku akan menyuntikan vitamin ke dalam infusmu." ucap Dokter Nanda sambil menatap layar monitor yang ada di hadapannya. "Baby, berjuang ya nak! Momy dan aunty akan menjagamu dengan baik, jangan rewel dan jagan buat momy kesulitan ya," pesannya pada jabang bayi yang masih berukuran sebesar biji mangga.
BERSAMBUNG...