Marry me, Brother

Marry me, Brother
Pamit



Seminggu sudah pasca keguguran, kondisi Indhi kini sudah membaik dan ia bersiap untuk kembali bekerja setelah melewati masa cutinya yang begitu panjang. Bunyi alarm yang bersahut-sahutnya berhasil mengusik sepasang suami istri yang masih nyaman terlelap di balik selimut tebal. Perlahan, kedua insan itu membuka matanya secara bersamaan, senyum segera terbit begitu manik mata mereka beradu pandang.


"Morning wife," ucap Ega dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Morning husband," jawab Indhi dan sebuah kecupan mendarat di bibir suaminya.


Ega mengulum senyum, setelah pengakuan dari sang istri beberapa hati yang lalu, pria itu kini lebih banyak tersenyum, apalagi saat melihat istrinya yang tak terlalu larut dalam kesedihan setelah kepergian Lily.


Kini mereka sepakat memulai awal baru sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai dan melengkapi. Beberapa hari terakhir, Indhi bahkan menyibukkan dirinya menjadi istri yang baik, untuk melupakan kesedihannya, wanita itu belajar memasak agar Ega selalu menyantap sarapan buatannya.


"Aku mandi duluan ya kak," pamit Indhi pada suaminya, wanita itu kembali mengecup bibir milik sang suami sebelum menyibak selimut lalu turun dari tempat tidurnya.


"Sayang aku ikut," teriak Ega saat punggung istrinya menghilang di balik pintu kamar mandi, pria itu bergegas bangun dan menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


"Kakak mau ngapain?" tanya Indhi dengan wajah terkejut, pasalnya ia kini sudah tak memakai pakaian, salahnya memang karena tak pernah mengunci pintu saat mandi.


"Mandi bareng," jawabnya dengan wajah tanpa dosa, Ega lalu melepaskan piyama dan menampilkan tubuh atletisnya tanpa merasa malu sedikitpun.


"Hanya mandi ya, awas kalau minta aneh-aneh!" ancam Indhi seraya melotot kepada suaminya. Ancaman tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya hubungan intim usai keguguran hanya bisa dilakukan jika perdarahan yang terjadi sudah benar-benar berhenti. Waktu paling minim yang dibutuhkan agar masalah tersebut selesai sekitar dua minggu. Apabila hubungan intim dilakukan saat perdarahan belum selesai, infeksi pada rahim dapat meningkat.


"ya sayang, aku juga tahu batasan. Aku sabar menunggu sampai kamu siap bercinta," Ega tersenyum lalu menarik tangan istrinya menuju shower, pria itu menghidupkan air hingga membasahi tubuh keduanya. Ega meraih sabun dan menuangnya di tangan, pria itu lalu menyabuni tubuh istrinya tanpa melakukan hal nakal, ia benar-benar hanya menyabuni dan mereka benar-benar hanya mandi bersama sampai akhir.


Indhi keluar dari kamar mandi dengan bathrobe bermarna putih yang melekat di tubuhnya, sementara Ega hanya melilitkan handuk di tubuh bagian bawahnya.


"Hari ini pakai setelan jas yang ini ya kak," ujar Indhi seraya mengeluarkan setelan jas berwarna biru muda dengan kemeja berwarna putih.


"Hem, apapun yang kamu pilih akan aku pakai," Ega melangkahkan kaki mendekati istrinya, pria itu meraih setelah tersebut dan memakainya di depan sang istri.


"Kakak tidak malu?" tanya Indhi dengan tatapan yang tak teralihkan dari tubuh sang suami.


"Kenapa harus malu sama istri sendiri," jawabnya tanpa beban.


Indhi terkekeh mwndengar jawaban suaminya. "Benar juga, lagi pula aku sudah melihat semuanya, dan semua ini adalah milikku," sahut Indhi penuh percaya diri, wanita itu lalu berjinjit saat membantu sang suami memakaikan dasi.


"Suamiku paling keren," pujinya seraya mengajungkan kedua jari jempolnya di depan wajah Ega.


"Tentu saja, aku si paling keren dan paling tampan," oceh Ega menyombongkan diri.


Indhi hanya tersenyum melihat kenarsisan suaminya, entah sejak kapan pria itu jadi narsis begini. Setelah membantu suaminya, Indhi memilih baju yang akan di pakainya untuk bekerja hari ini.


"Kita berangkat bersama kan?" tanya Ega setelah keduanya siap.


"Iya, dan aku mau naik motor," pinta Indhi dengan senyum terbaiknya.


"As you wish."


Indhi segera menghambur ke dalam pelukan suaminya, wanita itu begitu bahagia hanya karena keinginannya naik motor di kabulkan oleh sang suami. "Terima kasih sayang," bisiknya pelan, setelah melepaskan pelukannya Indhi menghujani wajah suaminya dengan ciuman. Sepertinya kali ini Indhi mulai bucin.


"Pagi bu, pagi bi," sapa keduanya dengan ramah.


"Pagi nak," jawab bu Tika dengan senyum yang begitu lebar, wanita itu merasa sangat bahagia melihat kebahagiaan kedua anaknya.


"Pagi non, pagi mas," sahut bi Sumi yang masih sibuk beberes di dapur.


Indhi menarik kursi di seberang ibunya, sementara Ega menghampiri bi Sumi, pria itu menarik pelan tubuh bi Sumi agar bergabung sarapan dengan mereka. "Nanti lagi kerjanya, kita sarapan dulu," ujar Ega sambil membantu bi Sumi duduk di sebelah ibunya.


"Dari tadi udah ibu paksa tapi nggak mau, giliran sama Ega langsung patuh. Bibi curang," celoteh bu Tika dengan wajah yang sengaja ia buat kesal.


"Maaf bu, abisnya bibi nggak tahan sama pesona mas Ega," sahut bi Sumi yang mengundang gelak tawa di antara mereka.


Pagi ini, sarapan mereka di selingi canda tawa, suasana rumah menjadi lebih hidup. Dan seperti inilah seharusnya sebuah keluarga, saling menghibur satu sama lain, saling menguatkan saat salah satu dari mereka terluka, saling mendukung apapun yang di lakukan oleh anggota keluarga selama masih dalam lingkup positif.


Perjalanan menuju Rumah Sakit mereka nikmati dengan hati yang bahagia, Indhi memeluk erat suaminya, ia tak lagi memikirkan apa yang akan orang lain katakan mengenai hubungannya dengan Ega, pagi ini ia akan menunjukan kepada dunia jika Ega adalah suaminya.


Kedatangan sepasang suami istri itu tentu saja menarik perhatian, padahal kedua manusia itu hanya berjalan bersampingan saat masuk ke area Rumah Sakit.


"Jadi mereka beneran suami istri, aku pikir cuma gosip."


"Ya Tuhan mereka sangat serasi."


"Aku iri sekali pada Dokter Indhi."


Indhi merasa puas mendengar ocehan dari beberapa perawat yang di temuinya, andai saja bukan di Rumah Sakit mungkin ia akan menggandeng lengan Ega dengan mesra.


Langkah ringan kedua pasutri itu terhenti saat gadis perseragam perawat menghadang jalan mereka, Indhi dan Ega saling melempar pandang sebelum fokus pada gadis yang berdiri di depan mereka sambil menunduk.


"Ada apa?" tanya Indhi dengan cuek, kekecewaannya pada gadis yang tak lain adalah sahabatnya masih tersisa di hatinya.


"A-aku..." Dita tiba-tiba menjadi gagap, padahal sebelumnya ia sudah berlatih dan merangkai kata-kata untuk menyambut kedatangan Indhi. "Syukurlah kamu sudah sehat," ucapnya karena tak tau harus berkata apa lagi, semua narasi yang ada di kepalanya tiba-tiba hilang.


"Hem," jawab Indhi singkat dan tidak jelas.


"Mungkin ini terakhir kita bertemu. Meski tidak pantas di maafkan tapi aku akan tetap memohon padamu dengan tidak tau malu. Aku sangat menyesal dan aku minta maaf padamu. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Dita yang membuat Ega dan Indhi bertanya-tanya, apa maksudnya dengan pertemuan terakhir.


"Apa maksudmu dengan pertemuan terakhir?" tanya Indhi pada akhrinya, bohong namanya jika ia tak peduli, hubungan yang sudah terjalin begitu lama tidak semudah itu untuk melupakannya.


"Aku akan berhenti bekerja Ndi, aku tau kamu pasti tidak nyaman jika harus bertemu denganku setiap hari."


"Berhenti?" ulang Indhi dengan suara terkejut, meski marah tapi dia juga tidak ingin Dita berhenti bekerja.


"Hem, maafin aku untuk semuanya Ndi. Aku pemit."


BERSAMBUNG...