
"Apa aku boleh masuk sekarang?" tanya Ega dengan nafas berat, nafsunya sudah di ujung kepala.
"Hem, lakukan. Aku milikmu."
Ega lalu melucuti pakaiannya, namun saat pria itu hendak membuka kain terakhir yang membungkus adik kecilnya terdengar suara bel rumah yang di tekan berkali-kali.
"Shiiiittttt, siapa yang datang malam-malam begini?" umpat Ega karena bel itu mengganggu konsentrasinya.
"Lihat dulu kak, siapa tau tamu penting!"
"Tapi sayang, ini sudah nanggung, biar saja pasti ibu yang akan membukakan pintu," tolak Ega karena senjatanya sudah siap untuk bertempur.
"Ibu kan tidak di rumah kak," ucap Indhi mengingatkan sang suami jika ibu mereka sedang liburan ke luar negeri bersama teman-temannya.
"Ah aku lupa. Pakai bathrobemu, aku akan turun sekarang," Ega kembali berpakaian lengkap, pria itu lalu turun untuk membuka pintu. Karena merasa penasaran dengan tamu yang datang, Indhi mengenakan baju haramnya lagi dan membungkusnya dengan bathrobe, gadis itu lalu menyusul suaminya.
Di depan pintu, Ega dan Indhi menatap tamunya dengan tatapan berbeda. Ega menatap tamunya dengan sebal karena telah mengganggu aktivitas panasnya, sementara Indhi menatapnya heran saat melihat sang sahabat datang dengan wajah layu, mata sembab yang berlinang air mana. Ya yang datang bertamu adalah Arum, gadis itu nampak sangat kacau.
Indhi segera membawa Arum masuk, gadis itu membawa sahabatnya untuk duduk di sofa. Indhi berlari menuju dapur dan kembali ke ruang tamu dengan membawa air mineral.
"Minumlah," tutur Indhi, ia membuka botol air mineral dan memberikannya kepada sang sahabat. Arum meraih botol itu dan menghabiskannya tanpa sisa.
"Apa yang terjadi?" tanya Indhi dengan hati-hati, sementara Ega hanya berdiri bersandar pada tembok dan menonton kedua sahabat itu.
"Dion menciumku, dia bilang dia menyukaiku tapi dia takut om Fajar akan mengatainya gila, namun setelah menciumku tiba-tiba dia bilang kalau ciuman itu hanya sebuah kesalahan," papar Arum, gadis itu menceritakannya secara detail.
"Kau ini masih muda cantik dan berpendidikan, di tempat kerjamu pasti banyak pria tampan, tapi kenapa kamu malah menggilai pria bodoh itu," sambung Ega setelah keterkejutannya.
"Kakak juga di kelilingi wanita cantik dan hebat, tapi kenapa kakak hanya menginginkan Indhi?" sindir Arum dengan halus. "Perasaan tak bisa di paksakan kak, sama halnya dengan kakak yang selalu mencintai Indhi, aku juga sangat mencintai pria itu."
Ega tak bisa berkata-kata lagi, semua yang Arum ucapkan memanglah benar adanya, pria itu hanya memiliki satu cinta dan itu untuk istrinya. "Aku pergi. Jangan lama-lama nangisnya dan segera pulang karena ini sudah malam," secara tak langsung Ega mengusir sahabat istrinya, gara-gara gadis itu ia jadi menunda untuk membobol gawang sang istri.
Hampir dua jam lamanya Ega menunggu Indhi di kamar hingga akhirnya gadis itu datang dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf kak, lama ya?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
Ega tidak menjawab, pria itu sedang berakting marah, namun sayang usahanya gagal saat Indhi kembali melempar bathrobenya. Ega segera mengampiri sang istri dan memeluknya dengan berat tangan kanannya mulai bembuka gaun malam itu, di bawanya tubuh sang istri yang sudah tak tertutupi apapun.
Tak ingin mendapat gangguan lagi, Ega hanya memberi pemanasan singkat dan bersiap untuk membobol gawang istrinya. Satu kali percobaan gagal, senjatanya meleset dan tak mengenai sasaran, di percobaan kedua Ega menekan lebih dalam namun masih belum menembus inti dari lembah itu. Hingga di percobaan ketiga, Ega melihat istrinya mulai meringis menahan sesuatu, Ega dapat merasakan ujung senjatanya telah merobek sesuatu yang berharga bagi wanita, dengan tekanan yang lebih dalam akhirnya Ega berhasil membobol gawang istrinya.
Ega tersenyum puas saat senjatanya terbenam di dalam inti sang istri, namun saat Ega menatap wajah istrinya tiba-tiba pria itu kehilangan hasratnya, senjatanya tiba-tiba mengendur saat melihat air mata menetes dari sudut mata istrinya.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Ega dengan bibir bergetar, pria itu sangat takut membuat istrinya menangis.
"Tidak kak, ini hanya respon yang normal saat selapur dara milik seorang gadis sobek. Lanjutkan kak, aku baik-baik saja dan aku menikmatinya," kata Indhi seraya tersenyum meski bagian intinya terasa tidak nyaman.
"Sayang maaf, aku tak bisa melanjutkannya," dengan pelan Ega mencabut senjatanya, pria itu lalu berlari ke kamar mandi dan meninggalkan istrinya.
"Kak, kakak kenapa?" tanya Indhi penasaran, sejak kemarin Ega selalu menginginkannya namun mengapa Ega malah meninggalkannya saat tubuh mereka sudah benar-benar menyatu?
BERSAMBUNG...