
**Hallo semua, semoga kalian sehat selalu ya..
Maafin Author karena beberapa hari ini gak up bab baru di karenakan author sibuk sekali dan juga baru pulang dari luar kota..
Semoga kalian tetap setia menunggu akhir kisah Ega dan Indhi ya..
Love you All❤❤**
Amarah dan rasa benci yang teramat sangat mendorong Indhi untuk menemui Mariam di penjara. Wanita tua itu tak henti-hentinya mengganggu kehidupannya meski kini ia telah mendekam di penjara.
Dengan sorot mata di penuhi amarah, Indhi duduk di hadapan wanita yang rambutnya telah memutih itu, ekspresi wajah Indhi sangat datar, hanya tatapan matanya yang begitu menusuk wanita yang tengah duduk di hadapannya.
"Bagaimana kejutannya, kau senang kan?" tanya Mariam dengan seringai di wajahnya, wanita itu tau jika orang suruhannya sudah di tangkap polisi dan kemungkinan besar dia juga akan di kembali di sidang dengan kasus yang berbeda.
"Wanita sepertimu memang pantas membusuk di penjara!" geram Indhi dengan rahang mengeras. Seandainya ia tak hamil, mungkin ia akan menampar atau jika perlu membunuh wanita yang telah menghancurkan keluarganya itu.
"Hahaha, aku rela membusuk di penjara asal kau dan ibumu itu menderita!" Mariam tertawa begitu keras, setelahnya ia menatap Indhi tajam, seolah wanita itu hendak mengoyak tubuh Indhi.
"Kali ini aku akan memastikan kamu membusuk di sini bersama putrimu!" gertak Indhi tak kenal takut, baginya demi melindungi keluarga ia berani melakukan apapun.
Setelah mengucapkan kalimat yang mengandung ancaman itu, Indhi memutuskan pergi dari kantor polisi sebelum ia tak bisa menahan emosinya. Saat sedang di perjalanan pulang, tiba-tiba ponselnya berdering, Indhi menepikan mobilnya lalu ia meraih gawai cerdas tersebut dan mengangkat telepon yang sejak tadi berdering.
"Ya Dit, apa apa?" ucap Indhi memulai percakapan.
"Kamu dimana?" Tanya Dita dengan suara panik.
"Aku pergi keluar sebentar, kenapa Dit?" jawab Indhi bohong, kebetulan hari ini Ega tak bisa mengantarnya bekerja sehingga Indhi membawa mobil sendiri, dan saat jam istirahat Indhi keluar dari Rumah Sakit demi bisa menemui Mariam tanpa sepengetahuan suaminya.
"Cepat kembali ke Rumah Sakit!"
Mendengar suara panik sahabatnya, Indhi kembali mengemudikan mobilnya setelah panggilan berakhir. Setelah beberapa menit kemuadian, ia memarkirkan mobilnya dan berlari masuk ke dalam Rumah Sakit.
Di lobby Rumah Sakit, Dita sudah menunggunya dengan gelisah. "Ada apa Dit?" tanya Indhi setelah menghampiri sahahatnya.
"Papa kritis, tapi sejak tadi ia mengigau memanggil namamu dan kak Ega," tutur Dita dengan wajah begitu panik.
"Kamu sudah menghubungi kak Ega?"
"Mas Adit sudah menelfonnya, mungkin sebentar lagi kak Ega sampai."
Tak lebih dari lima menit, kedua wanita itu melihat Ega berlari masuk ke dalam lobby Rumah Sakit.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Ega dengan nafas terengah-enggah, tak bisa di pungkiri selama ini tuan Hendarwan begitu dekat dengannya, terlepas dari hubungan mereka, Ega tetap mencemaskan pria tua itu.
"Lebih baik kita ICU sekarang!" ajak Dita seraya berjalan cepat menuju ruangan di mana papa mertuanya di rawat.
Ega meraih tangan Indhi dan menggandengnya. Meski panik, namun Ega tetap melangkah dengan tenang, ia juga tak ingin bayinya kenapa-napa jika ia mengajak istirnya berlari.
Di depan ruang ICU, terlihat mama Mayang yang sedang menangis di pelukan Dokter Aditya, melihat kedatangan Ega dan Indhi membuat mama Mayang mengurai pekukan putranya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Ega datar, namun sorot matanya terpancar kekhawatiran.
"Papa Kritis, tapi sejak pagi papa terus memanggil nama kalian," sahut Dokter Aditya pasrah.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Ega memastikan.
"Tentu!"
Setelah memakai baju steril, Ega segera masuk ke dalam ruang ICU, aroma obat hingga bunyi alat penunjang hidup memenuhi ruangan dimana tuan Hendarwan terbaring tak berdaya.
Ega lalu menghampiri ranjang tuan Hendarwan, pria itu duduk di kursi yang berada di dekat ranjang. "Aku datang," ujar Ega pelan, hatinya terasa sakit melihat pria tua itu terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat penunjang hidup menempel di tubuhnya.
Bagai sebuah keajaiban, setelah mendengar suara Ega, perlahan jemari tangan tuan Hendarwan mulai bergerak, tak sampi di situ pria tua itu juga mulai membuka matanya.
"Ke-kevin," ucapnya terbata namun begitu jelas jika ia memanggil keponakannya itu.
"Ya, saya di sini," jawab Ega dengan mata berkaca-kaca, tak lupa ia menekan tombol Nurse Call untuk menghubungi perawat. Tak berselang lama, seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan tuan Hendarwan.
"Tuan Hendarwan, bisa ikuti jari telunjuk saya," ucap dokter sambil menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Vin," panggil tuan Hendarwan lagi, ia tak memperdulikan dokter yang sedang memeriksa kondisinya.
"Panggilkan semua orang," titahnya lagi dengan suara bergetar.
"Apa boleh dok?" tanya Ega meminta izin pada dokter yang merawat tuan Hendarwan. Dokter itu menatap tuan Hendarwan sekilas, lalu ia mengangguk memberikan izin.
Ega lalu keluar dari ruangan tersebut, tak lama kemudian ia kembali masuk bersama mama Mayang, Dokter Aditya, Dita serta Indhi. Semuanya kini telah berkumpul mengitari tempat tidur tuan Hendarwan.
"Papa," isak tangin mama Mayang memenuhi ruangan itu, entah mengapa ia merasa jika suaminya akan meninggalkannya.
"Ma, maafin papa belum bisa menjadi suami yang baik untuk mama," ujar tuan Hendarwan dengan nafas pendek-pendek, pria tua itu menatap istrinya dengan mata berembun.
"Papa juga minta maaf karena menjadi ayah yang begitu tegas padamu Dit," kini tuan Hendarwan menatap putra semata wayangnya, sementara Dokter Aditya hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menangis. "Ayah harap, kamu dan Dita akan bahagia sampai maut memisahkan kalian," imbuhnya di selingi doa terbaik untuk anak dan mertuanya.
"Dan untuk Kevin, papa tau kami begitu kejam padamu nak, tapi papa berharap kamu bisa memaafkan papa."
Uhuk..uhuk...
Tuan Hendarwan menjeda kalimatnya karena batuk, pria itu mengatur nafasnya sedemikian rupa agar bisa melanjutkan kalimatnya.
"Demi kedua bayi yang ada di perut istrimu, papa mohon terimalah pemberian papa yang tak seberapa karena pada dasarnya Rumah Sakit yang papa kelola juga menjadi hak mu. Papa berharap, kamu dan Aditya bisa mengelola Rumah Sakit bersama-sama, Rumah Sakit itu milik kalian."
"Papa ingin ka...
Tiiiitttttt.......
BERSAMBUNG...