
"Oke. Akan saya coba. Tapi kalau kak Ega menolak bertemu kalian, aku mohon segera pergi dari tempat ini," ucap Indhi dengan sedikit kesal.
"Baik," jawab bu Sherly dengan wajah sendu.
Indhi lalu meraih ponselnya, sudah hampir jam istirahat seharusnya Ega tidak sibuk, Indhi lalu menghubungi Ega. Indhi tak lupa mengaktifkan mode pengeras suara agar ibu dan anak itu mendengar langsung apa yang akan di katakan oleh Ega.
"Hallo sayang. Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ega setelah panggilan tersambung.
"Hallo kak. Aku baik-baik saja,'' jawab Indhi. "Mm begini kak, aku di UGD dan ada bu Sherly di sini, apa kakak bisa datang ke sini untuk menemuinya?"
"Aku sibuk, sebentar lagi ada operasi," tolak Ega dengan cepat, Indhi melirik bu Sherly dan wanita itu memberi kode kepada Indhi untuk membujuk suaminya.
"Baiklah kak, semoga operasinya lancar. Aku tutup ya. Love you."
"Love you more wife."
Indhi mematikan telefonnya, hal tersebut tentu saja membuat bu Sherly geram.
"Kenapa tidak di bujuk sih," ujar bu Sherly kesal.
Indhi tersenyum mengejek, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menatap tajam wanita tua yang masih duduk di atas brankar. "Silahkan pergi dari sini," usirnya tanpa memperdulikan tatapan tak suka dari Naura.
"Dokter macam apa yang mengusir pasiennya sendiri. Aku akan melaporkan ini ke pihak Rumah Sakit," ancam Naura karena tak terima di usir oleh Indhi.
"Laporkan saja, saku tidak takut. Lagian aku bukan Dokter Jiwa," sahut Indhi, tak lupa sebuah sindirian ia selipkan di kalimatnya.
"Maksudmu mama ku gila? Kurang ajar," Naura menggeram tak terima.
"Apa lagi namanya kalau bukan gila. Pura-pura sakit hanya untuk menemui suamiku."
"Ayo mah, kita pergi dari sini. Kita cari cara lain untuk bertemu kak Ega," Naura membantu bu Sherly turun dari tempat tidur, gadis itu lalu menatap tajam pada Indhi sambil menggandeng lengan ibu Sherly. "Dengar Ndi, akan ku pastikan kamu menyesal karena telah berbuat tidak sopan pada mama ku," ucapnya lagi sambil mengancam Indhi.
"Kamu juga harus dengar ini Nau. Jangan pernah ganggu kak Ega lagi. Beri tau mama mu untuk tidak mengusik suamiku lagi!" gertak Indhi tak mau kalah, tatapan yang begitu tajam membuat Naura sedikit takut. Gadis itu merasa jika Indhi bukanlah Indhi yang dulu, Indhi yang mudah di bodohi dan selalu mengalah kepada orang lain.
Tanpa berkata apapun lagi, Naura segera membawa mama nya keluar dari ruangan itu, sementara Indhi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu sama sekali tidak berubah Nau," gumamnya dalam hati.
***
Saat jam istirahat Indhi memesan dua kotak makan dari restoran cepat saji, siang ini ia berencana untuk makan bersama dengan suaminya. Dengan membawa bingkisan yang berisi makanan,Indhi pergi ke ruangan suaminya, langkahnya begitu ringan dan wajahnya nampak berseri.
Setibanya di ruangan sang suami, Indhi segera masuk setelah di persilahkan oleh pemilik ruangan.
"Sayang," ucap Ega, pria itu terkejut melihat kedatangan suaminya. "Ada apa?" tanyanya sambil tersenyum, ia bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri sang istri.
"Aku hanya ingin makan siang bersama suamiku. Apa kakak sibuk?" jawab Indhi seraya menunjukan makanan yang di bawanya.
"Aku tidak sibuk." ujar Ega, ia lalu meraih makanan yang di bawa Indhi dan membawanya ke sofa yang ada di sudut ruangannya.
"Bukannya kakak ada operasi?" Indhi mengekori suaminya dan duduk diatas sofa.
"Aku berbohong. Aku tau pasti wanita itu yang memaksamu untuk menghubungiku kan?"
Indhi terkekeh, ia tak percaya jika Ega hanya berpura-pura saat mengatakan akan ada operasi. "Wah, kalian memang cocok jadi best actor," ujar Indhi sambil menahan senyumnya.
"Kalian?" ulang Ega penasaran.
"Kalau mereka datang lagi, abaikan saja mereka!"
"Oke."
"Buka mulutmu," titah Ega seraya menyodorkan makanan ke depan mulut Indhi, wanita itu segera membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang suami dengan bahagia.
Pasangan suami istri itu lalu menghabiskan waktu makan siang mereka penuh dnegan keromantisan. Mereka bahkan saling menyuapi satu sama lain hingga makanan mereka habis tak tersisa.
Setelah makan siang, Indhi kembali ke UGD untuk menyelesaikan tugasnya sebagai dokter.
Sementara itu, bu Sherly dan Naura tak kehabisan ide. Mereka mendatangi resepsionis dan menanyakan jadwal Ega dengan alasan mereka akan berkonsultasi masalah kesehatan.
"Sudah mama duga. Ega pasti hanya bohong soal operasi," geram bu Sherly setelah mengetahui jika Ega tidak memiliki jadwal operasi dan dia ada di polinya.
Dengan cepat, bu Sherly dan Naura mendaftar di poli tempat Ega bertugas. Mereka benar-benar ingin menemui Ega meski entah hal apa yang akan mereka bicarakan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba saatnya bu Sherly untuk di periksa. Dengan di temani Naura, ia masuk ke dalam ruangan tempat Ega bertugas.
"Selamat siang, ada yang bis..." Ega tak melanjutkan kalimatnya, pria itu menatap nanar kedua wanita beda usia yang kini berdiri di hadapannya. Namun sesaat kemudian, Ega mencoba profesional dan mengkesampingkan masalah pribadinya.
"Silahkan duduk," ucap Ega seraya menunjuk kursi di hadapannya.
"Terima kasih kak," jawab Naura dengan senyum, kedua wanita itu lalu duduk di hadapan Ega.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ega dengan wajah datar, bohong rasanya jika ia tidak marah dengan kedatangan mereka, apalagi tadi Indhi sempat bercerita jika mereka juga menemui Indhi dengan pura-pura menjadi pasien.
"Mama hanya ingin melihatmu Ga," bu Sherly membuka suaranya, wajahnya terlihat sendu.
"Kalau tidak ada keluhan, anda bisa keluar. Pasien saya masih banyak."
"Tolong dengarkan mama sebentar Ga," bujuk bu Sherly.
"Hal apa yang harus saya dengar? Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan," sahut Ega dengan wajah yang mulai kesal, bahkan senyumannya tak terbit sama sekali, padahal biasanya ia sangat ramah kepada pasiennya.
"Mama hanya ingin dekat denganmu. Apa mama salah karena ingin dekat dengan anak sendiri," ucap bu Sherly dengan wajah sedih, tak ada yang tau apakah kesedihannya hanya sebuah sandiwara atau wanita itu benar-benar sedih.
"Anak?" ulang Ega dengan nada mencibir. "Dengan nyonya. Ibu saya hanyalah ibu Pangestika, satu-satunya ibu yang saya miliki!"
"Tapi mama adalah ibu kandungmu. Mama yang sudah melahirkanmu dan membawamu ke dunia ini," ujar bu Sherly berapi-api, ia tak terima karena Ega selalu saja mengagung-agungkan ibu angkatnya.
"Hanya karena anda yang telah melahirkan saya, lantas apakah anda berhak menelantarkan saya dan setelah bertahun-tahun dengan tanpa rasa bersalah anda kembali menemui saya dan berharap saya mengakui anda sebagai ibu kandung saya? Saya juga tidak pernah meminta lahir dari seorang ibu yang egois seperti anda!" tegas Ega dengan rahang mengeras, ia kembali mengingat saat ia di tinggalkan di pinggir jalan begitu saja. Rasa sakit dan ketakutan itu masih membekas di hatinya.
"Teganya kakak bilang begitu. Biar bagaimanapun mama adalah ibu kakak," sela Naura di tengah percakapan yang menegangkan itu.
Ega melirik Naura yang duduk di sebelah bu Sherly, ia menatap tajam gadis yang pernah melukai Indhi di masa lalu. "Tega? Hahah. Apa kamu pernah di tinggal di pinggir jalan seorang diri, menagis ketakutan dan dengan naifnya mencari keberadaan orang yang sudah membuangmu. Lalu dengan bodohnya berharap bahwa orang yang sudah membuangmu akan datang menjemputmu. Tidak kan? Jadi menurutmu siapa yang tega di sini? Aku atau wanita yang duduk di sebelahmu?"
Naura tak bisa menjawab pertanyaan Ega, ia memang tak merasakan apa yang di rasakan oleh kakak tirinya, namun hanya dengan mendengar cerita Ega saja, Naura seolah merasakan penderitaan yang Ega alami di masa lalu.
"Mah, sebaiknya kita pulang saja. Kak Ega pasti sibuk. Lain kali kita datang lagi untuk menemui kak Ega," bujuk Naura pada mama nya.
"Silahkan pergi dari sini sebelum saya panggilkan Security!"
BERSAMBUNG...