
Dokter Aditya menatap Dita tanpa berkedip, pria itu begitu takjub melihat penampilan Dita yang sangat berbeda. Gadis itu terlihat anggun dalam balutan kebaya berwarna nude dengan bawahan kain batik yang membuatnya semakin terlihat manis.
"Cantik," gumam Dokter Aditya tanpa sadar.
Semua anggota keluarga kedua belah pihak sudah berada di ruang tamu, tuan Hendarwan segera mengutarakan niatnya datang ke rumah ke dua orang tua Dita yaitu untuk meminang putri mereka.
Pak Heri menerima pinangan keluarga tuan Hendarwan, meski masih sedikit kecewa namun ia juga tidak boleh egois karena bagaimanapun Dokter Aditya adalah pria yang bertanggung jawab.
"Saya mau pernikahan di lakukan secepatnya. Tidak perlu mewah, yang penting mereka segera sah menjadi suami istri," ucap pak Heri saat mereka sedang membahas hari pernikahan. Permintaan pak Heri tentu saja membuat tuan Hendarwan merasa aneh, mengapa mereka harus buru-buru menikah.
"Tapi menyiapkan pesta pernikahan juga butuh waktu pak," jawab mama Mayang yang sedikit keberatan. Wanita itu menginginkan pernikahan yang mewah untuk putra semata wayangnya.
"Mereka sudah sama-sama dewasa bu, saya takut mereka akan khilaf dan melakukan hal yang belum sepantasnya mereka lakukan," ujar pak Heri, pria itu hanya takut jika Dita hamil dan mereka belum menikah.
"Benar juga mah. Apa yang di sampaikan calon besan kita semata-mata untuk kebaikan Adit dan Dita," sela tuan Hendarwan menyetujui usulan pak Heri.
"Tapi mama mau pernikahan Adit itu istimewa pah," mama Mayang masih keberatan.
"Kan mereka bisa nikah dulu, kalau semua persiapan sudah siap kita tinggal menggelar pesta pernikahan mereka," usul tuan Hendarwan.
"Ya udah deh," mama Mayang akhirnya mengalah, namun ia tetap akan menyiapkan pesta megah untuk pernikahan putranya.
"Bagaimana kalau mereka menikah minggu depan?" kata pak Heri lagi.
"Minggu depan," pekik kedua calon pengantin secara bersamaan.
"Ya pak saya setuju, semakin cepat maka semakin baik," ucap tuan Hendarwan menyetujui usulan calon besan.
Setelah perundingan yang cukup panjang, akhirnya kedua belah pihak memutuskan untuk menggelar pernikahan secara sederhana minggu depan dan resepsinya akan di adakan satu bulan kemudian. Setelah sepakat, keluarga Dokter Aditya meninggalkan kediaman Dita.
Kini menyisakan Ega, Indhi dan Arun sebagai tamu di rumah Dita. Ke empat orang itu duduk di ruang tamu di temani keheningan. Kecanggungan jelas terasa di antara Dita dan Ega, atau lebih tepatnya Dita yang merasa sangat bersalah pada pria yang sangat di cintainya sampai saat ini.
"Kak Ega, mungkin ini terdengar konyol, tapi aku harap kakak mau memaafkanku dan kita bisa berhubungan baik seperti dulu lagi," ucap Dita memecahkan keheningan.
Ega menoleh ke arah Indhi yang duduk di sebelahnya. "Aku bukan pemaaf seperti istriku. Mustahil kita bisa seperti dulu lagi. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan melarang Indhi untuk berteman denganmu," jawaban Ega begitu menohok hati Dita, namun gadis itu menyadari jika perbuatannya memang sudah keterlaluan.
"Kak," bisik Indhi yang tak menyukai jawaban sang suami, Indhi pikir Ega juga sudah memaafkan Dita karena pria itu sendiri yang menyuruh Indhi untuk memaafkan Dita.
"Sayang, aku hanya tidak mau kejadian serupa terulang lagi. Bukan karena aku terlalu percaya diri, tapi aku yakin Dita masih menyimpan perasaan untukku. Aku hanya menjaga perasaanmu dan juga perasaan Adit. Bukankah lebih baik aku dan Dita menjaga jarak?"
"Yang di katakan kak Ega benar Ndi. Selama aku bisa besahabat lagi denganmu aku tidak masalah jika tidak bisa berteman dengan kak Ega seperti dulu lagi," sahut Dita seraya menatap Indhi,gadis itu lalu beralih menatap Ega. "Kakak tidak perlu khawatir. Setelah aku memutuskan menerima Dokter Aditya, saat itu juga aku memutuskan untuk mengubur perasaanku," ucapnya dengan yakin.
"Maafin sikap kak Ega ya Dit, kamu tau kan dia selalu berlebihan jika berkaitan denganku," Indhi yang masih merasa tidak enak hati mencoba mawakili suaminya untuk minta maaf.
"Tidak Ndi, apa yang kak Ega lakukan adalah benar."
Untuk mengakhiri kecanggungan di antara Dita dan Ega, Indhi memutuskan mengajak suaminya untuk pulang.
Selama perjalanan pulang, Ega lebih banyak diam. Pria itu merasa kesal kanapa Indhi harus minta maaf kepada Dita perihal keputusannya yang tidak bisa berhubungan baik lagi dengan gadis itu.
Keheningan menemani mereka hingga keduanya sampai di dalam rumah, Ega bergegas ke kamar untuk membersihkan diri, sementara Indhi hanya menghela nafas berat melihat diamnya sang suami.
"Aku mau lihat, sejauh mana dia marah," ucapnya pada diri sendiri, Indhi lalu ikut masuk ke dalam kamar mandi yang tak terkunci. Dengan sengaja wanita itu melepaskan semua pakaiannya hingga tubuhnya benar-benar polos, Indhi juga mencepol rambut panjangnya dan memamerkan lehernya yang jenjang.
Indhi berjalan ke arah suaminya dengan langkah yang sengaja di buat-buat, Ega melirik sejenak namun ia kembali mengguyur kepalanya dengan air.
"Sayang," panggil Indhi dengan suara menggoda.
"Hubyy," panggilnya lagi karena Ega masih terkesan cuek.
Indhi semakin mendekat, ia berdiri tepat di belakang tubuh suaminya. Entah ide dari mana, Indhi lalu meraih spons dan menuang sabun di atasnya, setelah keluar busa, ia menggosok tubuh Ega yang sebenarnya sudah bersih.
Indhi memutar tubuh suaminya, ia lalu menyabuni tubuh bagian depan sang suami, dengan gerakan sensusal ia menggosok dada bidang Ega, tak sampai di situ, Indhi juga menggosok bagian perut Ega. Saat tangannya hendak turun ke bagian sensitif milik suaminya, tiba-tiba tangannya tertahan karena Ega mencekal pergelangan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ega dengan suara berat. Sangat mustahil baginya menahan godaan dari istrinya, lihat saja, adik kecilnya bahkan sudah tegak berdiri.
"Menyabuni kakak," jawab Indhi seraya mengkerlingkan matanya.
"Aku sudah selesai."
"Aku tau, tapi aku belum. Bantu aku menggosok punggunggu," Indhi memberikan spons tersebut kepada Ega, ia lalu memutar tubuhnya sehingga Ega berada di belakangnya.
"Cepat kak," ucapnya dengan lembut.
"Kamu yang memulainya, jangan salahkan aku kalau aku tidak akan melepaskanmu malam ini," Ega melemparkan spons dari tangannya, pria itu lalu memutar tubuh istrinya dan menarik pinggang milik Indhi hingga tubuh polos mereka saling menempel.
"Kak, kamu mau apa? Aku menyuruhmu menggosok punggung," tanya Indhi yang tentu saja hanya pura-pura tidak tau.
"Membuatmu menjerit sampai suaramu habis."
Setelah mengatakan hal itu, Ega segera melahap bibir istrinya dan menciumnya dengan rakus. Pria itu menyusuri rongga mulut milik istrinya, tangannya yang nakal pun sudah bergerak liar di tubuh sang istri.
Di dalam kamar mandi, Ega benar-benar membuat Indhi tak berhenti menjerit memanggil namanya, pria itu membawa istrinya mengarungi surga dunia. Setelah permainan panas mereka berakhir, Ega membantu Indhi untuk mandi.
Namun setelah mandi, Ega kembali menyerang istrinya, pria itu mengangkat tubuh Indhi dan membawanya keluar dari kamar mandi. Ega duduk di sofa dengan posisi Indhi berada di atasnya.
Kedua manusia itu kembali melakukan penyatuan di ataa sofa. Ega benar-benar membuat Indhi kehabisan suara. Wanita itu tak henti-hentinya mengeluarkan suara erotis dari mulutnya.
"Kak, aku menyerah," ucapnya di tengah permainan mereka yang ketiga kalinya.
"Tanggung, sebentar lagi selesai."
Ega kembali melanjutkan aktivitas panasnya, hingga beberapa menit kemudian ia berhasil mencapai puncaknya. Ega terlentang di atas sofa sementara Indhi tergeletak lemas di atas tubuhnya. Nafas mereka saling memburu dan keringat membasahi tubuh keduanya.
"Jangan pernah menantangku lagi," bisik Ega pelan.
"Ya, aku kapok."
BERSAMBUNG...