Marry me, Brother

Marry me, Brother
Fiting baju



Di waktu yang sama, Ega dan Dokter Aditya juga berada di kantin untuk makan siang. Rahang Ega mengeras seketika saat melihat Indhi sedang duduk bersama mantan tunangannya.


Ega hendak menghampiri kedua orang itu, namun Dokter Aditya menahannya. "Mau kemana?" tanyanya sambil menatap tajam Ega.


"Aku mau memberi pelajaran pada pria itu," geram Ega menahan amarah.


"Biarkan Indhi menyelesaikan masalahnya Vin. Kita lihat saja seberapa keras usaha dokter itu," ucap Dokter Aditya memberi saran.


Ega diam sejenak menimbang saran dari sahabatnya. Akhirnya ia memilih tetap di tempatnya dan memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu dengan seksama.


"Lihat, Indhi bisa menanganinya sendiri kan?" ujar Dokter Aditya saat Indhi nerdiri dari duduknya dan terlihat tengah mengucapkan sesuatu pada pria yang duduk di hadapannya.


Ega hanya mengangguk, saat Indhi melangkahkan kakinya pergi, saat itu juga Ega dan Dokter Aditya menghampiri Dokter Ilham yang masih berdiam di kursinya.


"Ya aku memang tidak pantas memimpikanmu lagi. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Aku masih mencintaimu Ndi," ucap Dokter Ilham penuh penyesalan.


"Jangan berani-benari mencintai istri orang lain, seperti di dunia ini tidak ada wanita lain saja," sindir Dokter Aditya, namun sindiran itu juga berlaku untuk dirinya karena sampai saat ini ia masih memendam rapi perasaannya untuk Indhi.


Dokter Ilham menoleh ke sumber suara, pria itu tampak sedikit terkejut melihat kedatangan dua dokter seniornya. "Di dunia ini memang banyak wanita, tapi perasaan saya hanya untuk Indhi dan saya tidak bisa menahannya. Seperti Dokter Kevin, bukankah di dunia itu ada begitu banyak wanita? Tapi kenapa malah menikahi adiknya sendiri?" Dokter Ilham melempar sindiran kepada Ega, namun pria yang di sindir hanya tersenyum lebar.


Ega berjalan ke arah kursi, pria itu menarik kursi yang bekas di duduki Indhi dan duduk di sana, di tatapnya tajam pria yang baru saja menyindirnya. "Seperti kata anda barusan, saya juga tidak bisa menahan perasaan cinta saya kepada Indhi. Dan rupanya Tuhan memang mentakdirkan Indhi untuk bersama saya bukan anda!" balas Egatak kalah menohok hati Dokter Ilham.


Dokter Ilham tersenyum getir, pria itu mengakui jika takdir Tuhan memang tidak merestuinya untuk bersama Indhi. "Selamat untuk anda, semoga kalian bahagia," tutur Dokter Ilham pada akhirnya, pria itu lalu berjanjak dari duduknya dan melangkahkan kakinyaa meninggalkan kedua dokter yang kini tengah menatap kepergiannya.


***


Sore yang cerah, Dita baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu duduk di ruang ganti khusus perawat, di tangannya memegang ponsel dan kartu nama milik calon suaminya. Meski tinggal menghitung hari sampai pernikahan mereka, namun Dita masih belum menyimpan nomer Dokter Aditya. Namun baru saja mama Mayang menghubunginya dan menyuruh mereka untuk melakukan pengukuran baju pengantin di butik langganan keluarga.


"Aku telefon atau kirim pesan aja ya," gumamnya dengan bimbang, namun ia akhirnya hanya mengirimkan pesan untuk calon suaminya.


'Dok, ini Dita..


Mama bilang hari ini kita harus fiting baju pengantin, apa anda tidak sibuk sore ini?'


Lima menit kemudian, ponsel Dita berbunyi, gadis itu lalu membuka pesan masuk ya di terimanya.


'Tunggu aku di parkiran!'


Dita lalu mengganti seragam kerjanya dengan baju biasa, setelah selesai berbenah, dengan cepat Dita meninggalkan Rumah Sakit dan menunggu calon suaminya di parkiran mobil. Gadis itu nampak seperti seorang pencuri, ia celingukan ke kanan dan ke kiri karena merasa khawatir akan ada yang melihatnya bersama Dokter Aditya.


Tak berselang lama, Dokter Aditya tiba di parkiran, ia merasa heran melihat tinggkah aneh calon istrinya. "Kamu kenapa?" tanyanya penasaran.


"Nggak papa dok, saya hanya takut ada yang melihat kita," jawab Dita dengan jujur.


Selama perjalanan menuju butik keduanya hanya diam, Dokter Aditya fokus pada kemudinya sementara Dita menatap ke luar jendela, entah apa yang ada dalam benak gadis itu, ia hanya masih tak percaya akan menikah dengan pria yang dulu selalu mengejeknya.


Setelah beberapa menit, Dokter Aditya memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik mewah langganan keluarganya. Pria itu menoleh ke samping dan melihat Dita yang nampak melamun.


"Sudah sampai, ayo turun," ucap Dokter Aditya dan sontak membuyarkan lamunan panjang calon istrinya


"Eh, iya," Dita merasa kikuk, ia lalu mengikuti Dokter Aditya turun dari mobil.


Kedatangan keduanya di sambut marah oleh pemilik butik, karena mama Mayang sudah menghubungi butik tersebut sebelumnya jadi pemilik butik langsung membawa Dita dan Dokter Aditya ke ruangan khusus.


Mata Dita membola saat melihat deretan gaun pengantin yang terpajang di dalam ruangan tersebut, dari model kebaya hingga gaun yang begitu mewah ada si sana. Dita bahkan mulai bingung harus memilih baju seperti apa yang akan di pakai saat pernikahannya nanti.


"Silahkan di pilih nona, semua gaun ini adalah rancangan terbaru dari designer kami," ucap pemilik butik seraya menunjuk deretan gaun pengantin yang sangat cantik.


"Ayo pilih!" kata Dokter Aditya memerintah.


"Tapi saya bingung dok," jujur Dita.


"Madame, kami akan melangsungkan pernikahan secara sederhana, mungkin anda bisa merekomendasikan gaun yang bagus untuk calon istri saya," Akhirnya Dokter Aditya meminta bantuan pemilik butik karena ia sendiri juga bingung melihat gaun yang begitu banyak.


Pemilil butik mengangguk paham, wanita paruh baya itu lalu lalu melangkahkan kakinya menuju deretan kebaya tradisional dan membawa beberapa kebaya tersebut untuk di coba oleh Dita.


"Sepertinya yang ini sangat cocok untuk anda nona," ujar pemilik butik seraya menunjuk kebaya jawa tradisional berwarna broken white dengan taburan kristal swarovski putih dan silver di sekelilingnya.


"Cobalah," Dokter Aditya meraih kebaya tersebut dan memberikannya kepada Dita. Gadis itu menerima kebaya dari calon suaminya dan membawanya ke ruang ganti.


Beberapa menit kemudian, Dita keluar dari ruang ganti, dan benar kata pemilik butik jika kebaya yang di pilihnya sangat cocok untuk Dita. Gadis itu terlihat manis dalam balutan kebaya itu.


Dokter Aditya tersenyum manis melihat Dita yang nampak kurang nyaman dengan kebayanya, pria itu lalu menghampiri calon istrinya.


"Sangat cocok untukmu. Kita pilih ini saja ya," ucapnya memberi saran.


"Anda yakin kan dok, saya tidak terlihat aneh kan?" tanya Dita yang masih ragu dengan kebaya pilihan pemilik butik.


"Kamu terlihat cantik," puji Dokter Aditya tanpa ragu, hal tersebut berhasil membuat Dita merona.


"Baiklah saya akan memakai kebaya ini saat pernikahan kita."


BERSAMBUNG...