
Pagi yang cerah untuk sepasang suami istri yang sedang kasmaran, keduanya tengah sibuk beraktivitas di dapur untuk membuat sarapan, atau lebih tepatnya Ega yang memasak dan Indhi hanya mengganggunya. Bagaimana tidak gadis itu terus menempel kepada suaminya, bahkan saat Ega sedang mengaduk masakannya Indhi dengan tenang memeluk Ega dari belakang seolah takut jika Ega lari meninggalkannya.
"Sayang, lepas dulu!" ucap Ega dengan lembut, meski ia menyukai perlakuan Indhi namun gara-gara Indhi ia tidak bisa fokus pada masakannya.
"Baik," ujar Indhi dengan patuh, meski dengar bibir cemberut gadis itu berjalan menuju kursi yang berada di dekat meja makan dan duduk di sana menunggu masakan suaminya matang.
Tak berselang lama Ega menyajikan dua piring berisi sandwich kesukaan istrinya di atas meja, pria itu lalu menarik kursi yang berada di sebelah Indhi dan duduk di sana. Namun Indhi justru berdiri dan berpindah duduk di pangkuan suaminya membuat Ega berekspresi bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Ega saat Indhi tiba-tiba saja duduk di pangkuannya dan mengalungkan tangan di lehernya.
"Ingin di pangku saja," jawab Indhi dengan cepat.
"Sudah besar kok minta pangku," celetuk Ega sambil tersenyum, namun tangannya justru memeluk pinggang istrinya.
"Kakak juga, sudah besar kok masih *****," balasnya tak mau kalah.
"Kamu juga menyukainya kan," Ega sedikit mengangkat kepalanya sehingga ia bisa melihat wajah cantik istrinya dengan seksama.
"Iya juga," Indhi terkekeh dengan wajah yang merona.
"Cepat turun dan makan sarapanmu, nanti kita telat!"
"Ah tidak mau. Aku mau makan sambil di pangku!" tolak Indhi sambil merengek.
"Tapi kamu berat. Pahaku bisa sakit nanti," ujar Ega dengan maksud menggoda istrinya.
Indhi mengerucutkan bibirnya, pipinya yang menggembung membuat wanita itu sangat menggemaskan. "Dasar tidak romantis," Indhi berkeluh dan berniat untuk turun dari pangkuan sang suami namun Ega justru menahan pinggangnya agar tidak bergerak. "Kakak ini maunya apa sih? Katanya tadi aku di suruh turun!" ujarnya sedikit jengkel.
"Sepertinya sarapan dengan posisi seperti ini enak juga," sahutnya dengan wajah tanpa bersalah.
Indhi mengulum senyum, wajah cemberutnya hilang sudah saat Ega menyuapinya dengan sandwich kesukaannya, keduanya lalu sarapan dengan romantis.
Setelah sarapan romantis, keduanya pun berangkat kerja bersama-sama. Masih dengan motor sportnya, Ega membonceng Indhi menuju Rumah Sakit. Wanita itu memeluk Ega seolah ingin memperlihatkan kepada semua orang bahwa pria itu adalah miliknya.
Setibanya di Rumah Sakit mereka harus berpisah di lorong yang terlihat sepi, Indhi lalu meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangan tersebut.
"Nice day hubby, i love you," ucap Indhi dengan sangat manis.
"Love you more wife," sahut Ega lalu pria itu mengecup kening istrinya sekilas.
Keduanya lalu benar-benar berpisah dan pergi ke ruangan masing-masing.
Di depan ruangannya, Indhi menghentikan langkahnya saat melihat keberadaan Dita, setelah mengatur nafasnya, Indhi lalu menghampiri Dita yang pagi itu tidak mengenakan seragam.
"Indhi," sapa Dita dengan senyum di wajahnya.
"Ada apa?" jawab Indhi ketus. Sungguh ia masih sangat kesal dengan sahabatnya itu.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Dita khawatir, gadis itu benar-benar mengkhawatirkan Indhi.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja!"
"Syukurlah."
Keduanya lalu diam dan menciptakan atmosfer canggung di antara mereka. Dita yang awalnya ingin minta maaf kembali kehilangan kata-katanya setelah mendapati sikap cuek dari Indhi, padahal selama ini Indhi lah yang selalu bersikap hangat padanya.
"Ndi," ucapnya terdengar kaku, namun Dita harus menyampaikan niatnya datang menemui sang sahabat. "Aku sangat merindukan kalian," alih-alih mengucapkan permintaan maaf, Dita justru mengungkapkan kerinduannya kepada sang sahabat, gadis itu bahkan menangis setelah mengucapkan kalimat yang di tahannya sejak tadi.
"Aku memang bodoh Ndi, aku sangat menyesalinya. Aku minta maaf, aku..." Dita tak mampu melanjutkan kalimatnya, gadis itu menangis tersedu-sedu hingga menarik perhatian perawat yang membantu Indhi di poli umum dan beberapa pasien yang akan berobat.
"Jangan bikin keributan di sini, hapus air mata palsumu itu. Pergi sekarang karena aku harus bekerja."
Pengusiran Indhi tentu saja bagaikan tamparan keras untuk Dita, dadanya terasa begitu sesak setelah mendapatkan perlakuan kurang enak dari sahabatnya. Namun Dita menerima itu semua karena itu memang kesalahannya yang sudah menghancurkan kepercayaan sang sahabat. Dengan langkah gontai, Dita meninggalkan Indhi.
Indhi menatap kepergian Dita, perasaannya berkecamuk, antara marah dan merasa bersalah karena terlalu kasar dengan sahabatnya itu. "Maaf Dit, aku masih kesal denganmu," ucapnya di dalam hati.
Sementara di tempat lain, tepatnya di ruangan Ega, pria itu membuang nagas kasar saat melihat temannta sudah ada di dalam ruangannya dan duduk di kursi kerjanya.
"Jangan mentang-mentang kamu anak pemilik Rumah Sakit dan seenaknya masuk ke dalam ruangan orang lain," protes Ega seraya melepaskan jaketnya dan menggantinya dengan sneli dokter miliknya.
"Maaf Vin. Aku butuh bantuanmu sekarang!" jawab Dokter Aditya dengan wajah serius, ekspresi yang sangat jarang ia tunjukan.
"Ada apa?" tanya Ega yang tak kalah serius, pasalnya sudah sangat lama ia tak melihat kepanikan di wajah sahabatnya.
"Aku meniduri seorang gadis," akunya sambil tertunduk lesu.
"Apa?" Ega hampir berteriak saking terkejutnya. "Bagaimana bisa?" imbuhnya dengan berbisik.
"Aku mabuk Vin. Dan parahnya lagi gadis itu masih perawan!"
"Apa?" Ega kembali berteriak karena kambali tekejut dengan penuturan pria yang ada di hadapannya itu.
"Jangan berteriak, kupingku sakit!" protes Dotker Aditya.
"Maaf, maaf. Aku hanya terkejut. Lalu bagaimana. Kamu harus bertanggung jawab kan?"
"Awalnya gadis itu menolak untuk aku nikahi Vin, setelah aku memaksanya akhirnya dia mau. Dan yang jadi permasalahannya sekarang, bagaimana caranya aku menyampaikan ini kepada kedua orang tuaku. Aku pasti di cincang halus sama mama."
"Bilang saja kamu hanya mengabulkan permintaan mereka untuk memberikan cucu."
"Ish, dasar tengik. Aku harus bagaimana?" Dokter Aditya mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Bilang saja kamu mau menikah. Simpel kan?" ujar Ega memberi saran.
"Lalu bagaimana kalau mereka tanya kenapa menikah mendadak?"
"Jawab saja kalian sudah mengenal lama. Memang siapa gadis malang itu?" tanya Ega yang akhirnya merasa penasaran.
"Suster Dita."
"Apa? Suster Dita yang mana?" tanya Ega lagi karena berharap bukan Dita yang ada di dalam benaknya.
"Mantan pacarmu. Dia juga di usir oleh kedua orang tuanya setelah mereka tau kalau aku menyentuh putri mereka."
"Bagaimana mereka bisa tau?"
Dokter Aditya lalu menceritakan semuanya dari awal, sejak ia bertemu Dita di bar hingga terpaksa ia harus menikahi gadis itu meski sempat mendapatkan penolakan.
BERSAMBUNG...
"