
Setelah jam makan siang, Dion dan Arum tiba di Rumah Sakit untuk menjemput Ega dan keluarganya. Pasangan suami istri itu membawa mobil masing-masing dan berbagi tugas, nantinya Arum akan mengendarai mobil yang di tumpangi bu Tika dan bi Sumi sementara Dion akan pulang bersama Ega dan Indhi.
Setelah memarkirkan mobilnya, sepasang suami istri itu segera menemui Ega di ruangan tempatnya di rawat. Setibanya di sana, Arum menatap prihatin tubuh Ega yang di penuhi oleh luka goresan.
"Oh astaga, wajah tampan ini," ujar Arum seraya menunjuk goresan di wajah Ega.
"Ah ini, Ega menyentuh luka di pipinya. "sebentar lagi juga hilang."
"Bagaimana kondisimu mas?" tanya Dion yang juga nampak khawatir, apalagi melihat kondisi tangan Ega yang di gips.
"Sudah lebih baik Yon. Maaf ya, aku merepotkan kalian," jawab Ega.
"Tidak repot kok mas, kami juga minta maaf karena baru bisa datang," ujar Dion penuh sesal.
"Tidak papa, aku tau kalian sibuk!"
"Kalau sudah siap, kita pulang sekarang," ucap Arum memastikan.
"Sudah, ayo kita pulang."
Rombongan itu keluar dari ruangan Ega dan menuju parkiran Rumah Sakit, namun saat mereka tiba di lobby tiba-tiba saja Dokter Aditya dan Dita mengejar mereka sehingga membuat langkah mereka terhenti.
"Ada apa Dit?" tanya Arum seraya menatap sahabatnya.
"Suamiku ingin bicara dengan kak Ega," jawab Dita.
"Kak, temanmu ingin bicara," panggil Arum, gadis itu merasa aneh karena Ega dan keluarganya hanya diam. "Jangan bilang kalian sedang bertengkar? Oh astaga, kalian ini sudah tua, malu umur," tebak Arun karena tak mendapatkan respon apapun.
"Kami tidak bertengkar," sahut Ega dan Dokter Aditya bersamaan.
"Kalau begitu kalian berdua bicaralah. Kita tunggu di depan!"
Meski berat, namun Indhi membiarkan Ega berbicara dengan Dokter Aditya, akhirnya rombongan itu meninggalkan kedua pria itu, mereka menunggu di depan lobby.
"Kenapa mereka bertengkar?" tanya Arum yang sejak tadi penasaran.
Indhi menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya. "Mereka tidak bertengkar. Tapi sebuah kenyataan membuat hubungan mereka canggung," jawab Indhi seraya menatap Ega dan Dokter Aditya dari kejauhan.
"Memangnya kenapa Ndi, bukannya mereka sahabat baik, mereka juga sudah berteman sejak lama kan?" sahut Dion yang juga merasa penasaran.
"Itu karena tiba-tiba mereka menjadi saudara sepupu," ungkap Indhi.
"Ceritanya sangat panjang. Jadi ibu Sherly itu adik kandung tuan Hendarwan. Dan selama ini tuan Hendarwan mengetahui jika kak Ega adalah keponakannya," jelas Indhi dengan singkat.
"Tapi kenapa mereka tidak mengatakannya kepada kak Ega sejak dulu?" Arum masih tak percaya dengan berita yang baru saja di dengarnya.
"Karena papah mertuaku melihat kak Ega bahagia bersama ibu Tika dan keluarga barunya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyimpan rahasia itu, dan mereka diam-diam membantu kuliah kak Ega," sahut Dita yang sejak tadi hanya diam.
"Astaga, rumit sekali hidup kak Ega," ucap Arum nelangsa.
"Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Ega dan keluarga yang baru saja di temuinya," sambung Dion.
Sementara di sisi lain lobby Rumah Sakit, Ega dan Dokter Aditya berdiri dan saling berhadapan, netra mereka saking beradu dengan tajam seolah keduanya hendak bertarung satu lawan satu.
"Cepat katakan apa maumu, aku harus segera pulang ke rumah!" ucap Ega membuka percakapan karena sejak tadi sahabatnya hanya diam padahal Dokter Aditya bilang akan membicarakan sesuatu kepada Ega.
"Vin, tidak bisakah kamu memaafkan keluargaku, khususnya papah?"tanya Dokter Aditya penuh harap.
"Seandainya kamu yang berada si posisiku apa kamu akan memaafkan keluargamu?" bukannya menjawab, Ega malah mengembalikan pertanyaan sahabatnya.
Dokter Aditya tak bisa berkata-kata lagi, mungkin jika dia yang berada di posisi Ega ia akan mengamuk setelah mengetahui kebenaran yang menyakitkan itu.
"Tidak bisa kan?" tebak Ega dengan wajah serius. "Dit, aku sangat menghormati papah mu, aku juga sudah menganggap mama Mayang sebagai ibu kedua bagiku, mereka sangat baik padaku tanpa aku tau jika kebaikan mereka adalah sebuah kepalsuan, mereka begitu baik padaku karena mereka merasa kasihan padaku."
Ega menjeda kalimatnya karena ia kembali merasa emesional. "Kamu tau sendiri kan bagaimana aku berjuang melawan trauma masa kecilku? Kamu juga tau jika beberapa waktu yang lalu ibu kandungku datang hanya karena ia menginginkan uangku. Dan sekarang, tiba-tiba ada yang mengaku menjadi keluargaku, menceritakan luka lama yang setengah mati sedang berusaha aku lupakan!"
"Maaf Dit, aku tidak bisa memaafkan papah mu. Aku juga sudah mengirim surat pengunduran diri ke Rumah Sakit. Mari jalani hidup masing-masing dan berbahagialah.
"Mengundurkan diri? Tapi kenapa Vin?" ujar Dokter Aditya tak percaya.
"Karena aku ingin hidup sebagai Ega dan aku ingin melanjukan hidupku tanpa bayang-bayang dari keluargamu lagi. Aku ingin hidup tenang, jadi aku mohon mengertilah Dit!"
"Tapi bagaimana dengan persahabatan kita?"
"Dit, sahabat sejati adalah ia yang turut senang atas kebahagiaan sahabatnya. Terima kasih karena telah menjadi sahabat terbaikku. Aku pergi."
Seolah mengucap kata perpisahan, Ega lalu meninggalkan sahabatnya yang masih berdiri membeku di tempatnya
"Maafin aku Aditya."
BERSAMBUNG...