
Setelah pulang dari rumah orang tua Dita, keduanya kembali ke apartmen. Dokter Aditya singgah sebentar untuk mengemasi beberapa barang serta dokumen penting yang ada di apartemennya.
Dita hanya duduk dan mengamati saat pria itu mengemasi barang-barangnya. Saat Dokter Aditya selesai, Dita menghampiri pria itu. "Kita harus bicara," ucapnya pelan.
"Hem katakan," jawab Dokter Aditya seraya menutup tas kerjanya.
"Kenapa anda harus bohong kepada orang tua saya?" tanya Dita yang membuat Dokter Aditya mengerutkan kening hingga kedua alisnya hampir menyatu. "Soal anda mencintai saya," imbuh Dita menjawab kebingungan dokter tampan itu.
"Hanya itu satu-satunya cara agar bapak kamu setuju," Dokter Aditya berdiri mensejajari Dita dan menatap gadis itu.
"Tapi..."
"Please Dit, jangan memperumit masalah ini. Maaf karena aku bohong, tapi dengan kebohongan ini setidaknya bapak dan ibumu memberi restu," potong pria itu dengan cepat.
"Tapi anda tidak mencintai saya dok, anda tidak harus berbohong. Setelah menikah kita bisa saja bercerai dan...
"Cukup Anandita!" tanpa sadar Dokter Aditya membentak Dita dan membuat gadis itu beringsut. "Kamu pikir aku adalah pria yang dengan mudah mempermainkan sebuah pernikahan? Meskipun aku tidak mencintaimu, tapi saat aku memutuskan untuk menikahimu, itu tandanya aku akan bertanggung jawab atas pernikahan ini selamanya. Pernikahan itu suci dan cukup sekali aku menodai sebuah kesucian!"
Dokter Aditya mencoba mengendalikan emosinya saat melihat mata Dita mulai berkaca-kaca. Pria itu lalu menarik tubuh Dita dan memeluknya. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Tapi aku mohon jangan terlalu keras kepala. Mungkin sekarang kita belum saling cinta, tapi hati seseorang siapa yang tau?"
"Maaf dok."
Hanya kata itu yang mampu Dita ucapkan, gadis itu merasa bersalah karena membuat orang lain terlibat di dalam masalahnya. Dokter Aditya lalu melepaskan pekukannya, pria itu memegangi kedua lengan Dita dan menatapnya.
"Aku pulang. Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa kabari aku jika terjadi sesuatu," ucap Dokter Aditya, pria itu lalu melangkahkan kakinya keluar dari apartemen miliknya.
Dita menatap kepergian calon suaminya dengan sendu, masih tak menyangka jika dokter tengil yang selalu mengatainya dulu mempunyai sikap yang begitu hangat dan bertanggung jawab. "Terima kasih dok," gumamnya seraya menyeka air mata di pipinya.
Malam berganti pagi, nyanyian burung menemani sang surya menampakan bias terangnya. Di dalam sebuah kamar, seorang pria menyusuri tempat tidur dan tidak menemukan sesuatu yang di carinya. Perlahan matanya mulai terbuka dan ia kembali mencari istrinya.
"Sayang, kamu dimana?" panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Karena tak menadapat jawaban, pria itu lalu bangun dan memakai bajunya, setelah itu ia kembali mencari keberadaan istrinya di setiap sudut kamar, namun ia masih belum menemukan dimana keberadaan istrinya. Hingga terdengar suara gaduh dari lantai bawah, pria itu lalu turun untuk memeriksa apa yang terjadi di bawah sana.
Ega menarik ujung bibirnya, senyumnya merekah saat melihat wanita yang di carinya berada di dapur dengan rambut basah dan apron atau celemek yang menutupi tubuh bagian depannya. Ega melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan sang istri, pria itu lalu memeluk istrinya dengan tiba-tiba dan membuat istrinya kaget.
"Kakak," ucapnya sambil menepuk lengan yang melingkar di perutnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" bisik Ega tepat di telinga Indhi.
Ega lalu mengalah dan melepaskan pelukannya, pria itu bergeser ke samping istrinya dan memperhatikan istrinya yang sedang fokus memasak. Meski hanya nasi goreng yang belum jelas rasanya, namun Ega tetap merasa bahagia karena Indhi sudah berusaha dengan keras untuk menjadi istri yang baik.
"Kamu sudah bisa membedakan mana garam, gula dan micin kan?" tanya Ega yang berniat menggoda istrinya. Ia mengingat nasi goreng pertama yang di buat istrinya memiliki perpaduan rasa manis dan micin yang sangat mendominasi.
"Aku sudah menulisnya dengan huruf besar, aku tidak mungkin salah lagi," jawab Indhi seraya memamerkan botol penyimpanan bumbu dengan namanya di masing-masing botol.
Ega kembali tersenyum, pria itu lalu mengusap kepala istrinya dengan pelan. "Aku cuci muka dulu ya," ucapnya lalu kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Lima belas menit kemudian, Ega kembali ke dapur dengan pakaian yang lebih rapi, meski hanya memakai celana pendek dan kaos polos tapi pria itu tetap saja terlihat sangat tampan.
Ega lalu duduk di kursi meja makan, tak berselang lama Indhi menyiapkan sarapan untuk mereka. Dua piring nasi goreng dan dua gelas air putih tersaji di atas meja. Indhi lalu menarik kursi di sebelah suaminya dan duduk di sana. Dengan semangat Ega menyendok nasi goreng istrinya dan memasukannya ke dalam mulut. Pria itu mengunyahnya dengan perlahan membuat sang istri penasaran dengan rasa masakannya.
"Bagaimana kak? Enak?" tanya Indhi antusias, dan Ega hanya menjawabnya dengan anggukan. Karena tak percaya dengan suaminya, Indhi melahap nasi goreng buatannya, namun beberapa detik setelah nasi goreng itu masuk ke mulutnya, Indhi kembali melepehkan makanannya ke atas piring.
"Sangat tidak enak," ucapnya sedih, ia lalu menarik piring milik suaminya agar pria itu berhenti memakan masakannya yang tidak enak. "Jangan di makan lagi kak, nanti kakak keracunan," cegah Indhi saat Ega berniat menarik lagi piringnya.
"Maaf kak, aku memang istri yang tidak berguna.
Ega merubah posisi duduknya, pria itu meraih tangan Indhi dan mencium punggung tangan istrinya. "Jangan bicara seperti itu, namanya juga belajar. Tidak mungkin langsung pintar kan? Setidaknya kamu sudah bisa membedakan mana garam, gula dan micin. Hanya saja kamu terlalu banyak memasukkan garam dan kecap," ucap Ega menenangkan hati istrinya.
"Aku sudah sering latihan, tapi tetap saja aku tidak bisa memasak dengan enak," gerutu Indhi dengan bibir mencebik.
"Apa aku pernah menyuruhmu memasak?" tanya Ega dan Indhi hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"See. Lalu kenapa kamu sangat terobsesi untuk bisa masak?"
"Aku ingin jadi istri yang sempurna kak."
"Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Ingat sayang, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Tidak juga semua wanita bisa memasak dan melakukan pekerjaan dapur. Manusia punya kekurangan masing-masing. Soal makan, kita bisa membelinya di luar. Bisa memasak ataupun bisa melakukan pekerjaan rumah tangga tidak menjamin seseorang wanita menjadi istri yang sempurna. Cukup hormati aku sebagai suamimu, bagiku itu sudah lebih dari cukup."
"Terima kasih kak, terima kasih karena kakak menerima semua kekuranganku," ujar Indhi, wanita itu lalu menghambur ke dalam pelukan suaminya.
"Begitulah pasangan, saling melengkapi satu sama lain dan saling menutupi kekurangan masing-masing."
BERSAMBUNG...