Marry me, Brother

Marry me, Brother
Hukuman



Suasana hati Indhi begitu buruk, sepanjang hari dokter muda itu uring-uringan tanpa tau penyebabnya, hingga jam kerjanya selesai wajahnya masih terlihat murung. Sepulang bekerja Indhi tak segera pulang ke rumahnya, ia bertemu dengan Arum dan Dita di salah satu tempat nongkrong yang sedang di gandrungi oleh kaula muda.


"Di sini," teriak Arum melihat Indhi celingukan kesana-kemari mencari keberadaannya. Indhi tersenyum dan segera menghampiri Arum dan Dita yang sudah berada di sana.


"Kok lama Ndi?" tanya Dita karena tak biasanya temannya itu telat.


"Macet banget," jawab Indhi seraya menarik kursi di sebelah Arum dan duduk.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Arum sambil memberikan buku menu kepada Indhi.


"Aku ingin makan yang pedas-pedas," idam Indhi sambil menunjuk menu ceker ayam tanpa tulang dengan bumbu berwarna merah menyala.


"Tumben?" tanya Arum heran.


"Seharian ini aku sebel banget," kata Indhi setelah memesan menu makanannya.


"Kenapa?" Dita menimpali dengan wajah serius.


"Kak Ega kan berangkat pagi banget tuh katanya ada operasi, nah pas jam makan siang aku ke ruangannya kan bawain dia makan siang, eh malah aku lihat dia lagi di peluk sama si Bella," jelas Indhi dengan mimik kesal.


"Bella yang itu?" tanya Arum.


"Iya, sekarang dia kerja di Rumah Sakit."


"Kok bisa si Bella meluk kak Ega?" Dita bertanya dengan wajah serius.


"Katanya sebagai ucapan terimakasih karena kak Ega sudah menyelamatkan nyawa ayahnya."


"Terus kamu percaya?"


"Nggak lah Rum, aku bukan orang bodoh yang gampang di tipu, aku tau dia pasti sedang merencanakan sesuatu."


"Terus apa kata kak Ega Ndi?" tanya Dita lagi, gadis itu begitu bersemangat jika membahas tentang Ega.


"Dia bilang si Bella cuma ngucapin terima kasih aja. Tapi aku kesel banget kak Ega di peluk sama gadis licik itu."


"Kamu cemburu ya? tebak Arum tepat sasaran.


"Aku?Cemburu?" ujar Indhi seraya menunjuk wajahnya sendiri. "Nggak mungkin lah aku cemburu," bantahnya merasa yakin.


Sementara Dita hanya bisa diam dan mentap wajah sahabatnya yang sedang cemburu itu, Dita merasa jika Ega semakin jauh untuk ia raih. Di tengah percakapan mereka, seorang pelayan datang dan mengantar menu pesanan mereka.


Indhi meneguk ludah saat melihat kaki ayam dengan bumbu cabai yang menggugah selera itu, tanpa banyak kata lagi Indhi segera menikmati pesanannya. Ketiga wanita cantik itu menikmati makanan mereka dengan tenang.


Indhi mengerang saat lidahnya terasa seperti terbakar, ia segera menyambar segelas susu yang sengaja di pesannya untuk menetralisir rasa pedas di mulutnya. Kandungan senyawa protein bernama kasein yang ternyata mampu memecah capsaicin atau zat pemicu rasa pedas dalam cabai sehingga memberikan efek relaksasi atas rasa terbakar pada lidah dan mulut.


"Awas Ndi nanti sakit perut," Arum mengerutkan keningnya melihat sang sahabat telah menghabiskan satu porsi ceker ayam pedas tanpa meninggalkan sisa sedikitpun, tak biasanya sang sahabat memakan makanan pedas seperti itu membuat Arum merasa khawatir.


"Apa karena efek cemburu?" batin Arum.


Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam lamanya, mereka memutuskan pulang karena esok masih harus bekerja dan mencari nafkah. Berbicara mengenai nafkah, sudah hampir dua bulan Indhi menikahi kakaknya, selama itu juga setiap awal bulan Ega akan memberikan semua gajinya untuk sang istri, pria itu hanya menyisihkan beberapa untuk keperluannya sehari-hari, meski demukian belum seoeserpun Indhi memakai uang Ega untuk ia belanjakan karena menurutnya gajinya saja masih cukup untuk menghidupi dirinya dan Ega.


Sesampainya di rumah, Indhi di sambut Ega dengan wajah masam, pria itu bersedakap sambil menatap istrinya yang baru pulang dan tidak meminta izin jika akan pulang telat.


"Dari mana?" tanya Ega lembut, namun jelas terdengar kesal dari caranya bertanya.


"Nongkrong," jawab Indhi ketus, wanita itu masih sangat kesal jika mengingat kejadian siang tadi.


"Kenapa nggak pamit, aku khawatir?"


"Lupa," singkat Indhi, wanita itu lalu melewati Ega dan berjalan menuju kamarnya.


Ega tak tinggal diam, pria itu mengejar sang istri hingga ke kamar mereka. "Kamu marah?" tanya Ega karena sejak datang tadi ia melihat wajah istrinya cemberut.


"No!"


"Terus kenapa cuek? Pergi juga nggak pamit? Apa karena kejadian siang tadi? Sayang, ayolah, aku sudah menjelaskannya, aku benar-benar tidak menyangka kalau Bella tiba-tiba saja memelukku!"


"Kakak menikmatinya kan?" tanya Indhi seraya memicingkan sebelah matanya.


"Tentu saja tidak," elak Ega dengan cepat.


"Lalu kenapa kakak tidak melepaskan pelukannya?" cecar Indhi semakin menyudutkan suaminya.


"Sudah sayang, aku sudah mencoba melepaskan pelukan Bella, tapi tangannya seperti lintah, susah sekali untuk di lepaskan?"


"Alasan," cibir Indhi seraya melepaskan blezer serta baju di kenakannya, kini tubuh mungilnya hanya tertutup br*a berwarna merah dan under wear dengan warna senada.


"Sayang, kamu tidak sedang menggodaku kan?" tanya Ega, bola mata cokelatnya tak henti-hentinya menatap bokong sintal milik sang istri, bayangan saat ia meremas bokong itu membuat senjatanya bangun dan ingin segera keluar dari tempatnya.


Indhi tak menjawab, gadis itu hanya diam dan pergi ke kamar mandi. Tak ingin menahan hasrat, Ega mengekori istrinya masuk ke dalam kamar mandi, beruntungnya karena pintu tersebut tak di kunci.


"Mau aku mandiin?" tawar Ega sambil tersenyum mesyum.


Tak ada jawaban dari sang istri, wanita itu terkesan cuek dan melepaskan kain terakhir yang menutupi tubuhnya. Guyuran air shower semakin membuat tubuh polos itu terlihat begitu sexy.


Ega tak ingin membuang waktu, ia segera melepaskan semua pakaiannya dan bergabung bersamma sang istri, padahal sebelumnya dia sudah mandi.


Indhi memutar tubuhnya saat merasakan sesuatu yang keras menekan bokongnya, wanita itu lalu melingkarkan tangannya di leher suaminya. Dengan berjinjit, Indhi mencium bibir suaminya dengan sedikit kasar, namun hal tersebut justru membuat Ega terbakar gairah.


Ega sudah berada pada puncaknya dan bersiap untuk bergulat dengan istrinya, namun tiba-tiba Indhi melepaskan ciumannya sambil tersenyum licik.


"Ini hukuman karena membiarkan orang lain menyentuh tubuhmu sayang," bisik Indhi, setelah itu ia memakai bathrobe dan keluar dari kamar mandi meskipun dia belum menyelesaikan sesi mandinya.


Sementara di dalam kamar mandi, Ega menunduk lesu sambil menatap sesuatu yang tegak berdiri di bawah perutnya. "Haruskah pakai sabun?"


BERSAMBUNG...